Wawancara Pelaku Pemerkosaan, Gadis India ini Temukan Fakta Bikin Trenyuh

Jum'at, 15 September 2017 14:11 Penulis: Tyssa Madelina
Wawancara Pelaku Pemerkosaan, Gadis India ini Temukan Fakta Bikin Trenyuh
© Straits Times

Kapanlagi Plus - Kekerasan seksual di India menjadi isu internasional setelah seorang mahasiswa diperkosa beramai-ramai di atas bus di Delhi dan kemudian meninggal dunia karena luka-luka yang ia derita pada tahun 2012. Seorang perempuan berusia 23 tahun diperkosa beramai-ramai kemudian dibunuh pekan lalu di distrik Rohtak. Tubuhnya yang mengalami mutilasi ditemukan beberapa hari kemudian.

Insiden ini memicu aksi protes besar-besaran di seluruh penjuru negeri. Namun naasnya serangan brutal terhadap perempuan dan anak-anak dilaporkan masih terjadi di India sampai saat ini.

Lalu baru-baru ini kasus pemerkosaan terjadi lagi pada seorang perempuan berusia 22 tahun. Kasus pemerkosaan yang terjadi pada Mei silam ini berawal dari korban yang diculik kemudian diperkosa beramai-ramai di atas kendaraan di Gurgaon, pinggiran Delhi.

Sosok Madhumita Pandey (© Washington Post)Sosok Madhumita Pandey (© Washington Post)

Hal-hal memprihatinkan di India tersebut membuat seorang mahasiswi jurusan kriminologi melakukan penelitian untuk tesis doktoralnya. Mahasiswi dari Universitas Anglia Ruskin, Inggris, bernama Madhumita Pandey tergerak untuk melakukan wawancara terhadap para pemerkosa di negara tersebut. Selama tiga tahun Pandey telah mewawancarai sekitar 100 pemerkosa di India.

Dalam wawancara yang dilansir oleh Washington Post, Pandey terketuk hatinya untuk mengetahui apa saja yang membuat orang-orang tersebut tega melakukan hal yang sangat sadis.

Ketika Pandey memulai penelitian, dirinya menemukan fakta bahwa pria-pria tersebut tidak berpendidikan. Hanya segelintir orang yang bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA, sisanya hanya lulusan kelas tiga sekolah dasar.

Fakta lainnya, Pandey memaparkan bahwa pria-pria tersebut hidup di lingkungan yang konservatif. Menurut Pandey, mereka tidak diajarkan mengenai pendidikan seks di sekolah dikarenakan pihak sekolah menganggap hal tersbut bisa "merusak" pemuda dan nilai-nilai tradisional.

Seperti yang dilansir Washington Post, Pandey merasa kasihan pada pelaku pemerkosaan tersebut karena dalam kehidupan sehari-hari para pemerkosa ini menganggap menyebut alat kelamin secara vulgar adalah hal tabu. Mereka tidak mengerti apa itu pemerkosaan. Pada dasarnya, mereka tidak memahami bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.

Kendati demikian, beberapa pelaku mengakui bahwa perbuatan mereka salah. Bahkan ada yang berniat untuk menikahi korban setelah menjalani masa hukuman di penjara.

(kpl/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina



MORE STORIES




REKOMENDASI