Heboh Mahasiswa MAPALA UII Meninggal, Apa Penyebabnya?

Heboh Mahasiswa MAPALA UII Meninggal, Apa Penyebabnya?
© istimewa

Kapanlagi.com - Perploncoan sudah sangat dikenal di dunia organisasi kemahasiswaan. Singkatnya tanpa diplonco, mahasiswa dianggap belum utuh. Oleh sebab itu, praktik perploncoan ini masih tetap berjalan di era modern ini. Apabila perploncoan dihilangkan maka mahasiswa yang masuk ke dalam organisasi atau kampus akan dianggap bermental tempe. Tapi, apakah benar seperti itu?

Kalau dilihat lagi, sudah banyak kejadian yang mengorbankan nyawa karena tindak perploncoan ini. Di sekolah IPDN, menurut buku yang ditulis oleh Inu Kencana Syafiie, mantan dosen IPDN, terdapat kurang lebih 17 kematian akibat perploncoan di IPDN. Sejak tahun 2003, terdapat 5 kasus penganiayaan di sekolah yang berakibat pada tewasnya siswa.

Yang terbaru adalah tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing, Jakarta Utara. Mahasiswa semester 1 STIP meregang nyawa usai dikeroyok oleh seniornya, yakni Dimas Dikita Handoko (19) dan Amirulloh Adityas Putra (18).

Lantas, apakah senioritas bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk menganiaya atau bahkan merenggut nyawa orang lain? Semua orang pasti sepakat bahwa tindakan ini tidaklah benar dilihat dari sisi apapun bukan? Lalu apakah Amir dan Dimas yang menjadi korban perploncoan oleh senior ini menjadi korban terakhir? Nampaknya tidak.

Ibunda salah satu korban Diklatsar MAPALA UII Yogyakarta berencana menempuh jalur hukum © merdeka.com

Baru-baru ini ramai diberitakan bahwa dua orang mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tewas sepulang dari pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) mahasiswa pecinta alam (MAPALA) di Lereng Selatan Gunung Lawu, Tawangmangu, Jawa Tengah.

Kegiatan Diksar MAPALA UII memang merupakan kegiatan resmi, sebagaimana kegiatan inisiasi organisasi kampus lainnya. Yang menjadikan kegiatan ini disoroti adalah jatuhnya korban pasca-kegiatan. Diduga, korban tewas bukan karena terjalnya medan pendakian namun karena kegiatan menyimpang. Dugaan ini bermula dari luka tak wajar yang terdapat pada korban meninggal.

Sang korban bernama Ilham dikabarkan meninggal pada Selasa (24/01) dini hari setelah pingsan di rumah kosnya. Pada tubuh mahasiswa Hukum Internasional ini terdapat luka di kepala, kaki, dan hilangnya 3 jari kuku.

1. Pengakuan Terakhir Korban

Syaits Asyam, korban MAPALA UII yang meninggal di RS Bethesda © istimewa

Tak hanya Ilham saja yang meregang nyawa sepulang dari acara Diklatsar yang diadakan oleh organisasi pencinta alam UII. Terdapat dua korban meninggal lainnya yakni Muhammad Fadhli dan juga Syaits Asyam. Muhammad Fadhli sendiri meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Bethesda pada Jumat (20/01).

Sementara itu korban Diksar MAPALA UII 'The Great Camping' yang meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Syaits Asyam, meninggalkan pengakuan yang semakin mempertajam dugaan penganiayaan atau perploncoan.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Syaits Asyam, pemuda yang menempuh program studi Teknik Industri ini mengaku pada Ibunya bahwa dirinya sempat dipukul rotan, diinjak kakinya, dan juga diminta mengangkut beban air terlalu banyak menggunakan lehernya. Oleh sebab itu, Ibunda Asyam berencana untuk menempuh jalur hukum atas kematian anaknya ini.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Diancam Dengan Surat

Begini suasana diklatsar MAPALA UII yang diunggah di Instagram © instagram.com/mapalaunisi

Seperti kebanyakan prosedur Diklatsar organisasi kampus, setiap kegiatan diklatsar para peserta diminta untuk menandatangani surat keterangan atau pernyataan mengenai kegiatan tersebut. Dalam kasus meninggalnya mahasiswa MAPALA UII ini, para peserta juga diminta untuk menandatangani surat pernyataan yang telah ditempeli materai Rp 6000.

Sayangnya, surat bermaterai ini nampaknya disalahgunakan oleh senior MAPALA Diklatsar. Sebab menurut salah satu peserta yang menjadi korban, Abyan, panitia menyatakan "Ingat, nyawa kalian sudah ada di atas materai Rp 6000." Hal ini berarti bahwa para peserta diharuskan tunduk terhadap segala permintaan dan butir yang tertera pada surat tersebut.

Hingga saat ini, masih dilakukan investigasi lebih lanjut oleh tim bentukan rektor UII Yogyakarta. Apabila ditemukan penyimpangan prosedur dalam kegiatan Diklatsar tersebut, Rektor UII berjanji akan menindak tegas dan memberhentikan segala kegiatan yang sejenis. Semoga saja kejadian semacam ini tak terulang di kampus atau sekolah lain ya KLovers.

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

(mdk/agt)

Rekomendasi
Trending