Itikaf di Masjid dalam 10 Hari Terakhir Ramadan Pengertian, Tata Cara, dan Keutamaannya

Itikaf di Masjid dalam 10 Hari Terakhir Ramadan Pengertian, Tata Cara, dan Keutamaannya
Ramadan memasuki 10 hari terakhir (credit:unsplash.com/@rumanamin)

Kapanlagi.com - Bulan Ramadan selalu memiliki momen yang paling dinantikan oleh umat Islam, yaitu sepuluh hari terakhir. Pada fase ini, banyak Muslim meningkatkan ibadah dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadar yang disebut lebih baik dari seribu bulan.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada waktu tersebut adalah itikaf di masjid. Ibadah ini dilakukan dengan cara berdiam diri di masjid sambil memperbanyak berbagai bentuk ibadah seperti salat, zikir, membaca Al-Qur'an, dan doa.

Pada Ramadan 1447 Hijriah, sepuluh hari terakhir mulai memasuki malam Selasa (10 Maret 2026). Momentum ini sering dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan menjalankan itikaf sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

1. Pengertian Itikaf dan Dalil dalam Al-Qur’an

Suasana umat Muslim beribadah di masjid saat menjalankan itikaf (credit:unsplash.com/@rumanamin)

Secara bahasa, itikaf berarti berdiam diri atau tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu. Dalam pengertian syar’i, itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

Selama menjalankan itikaf, seseorang dianjurkan memperbanyak amalan seperti salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Ibadah ini menjadi salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Dasar ibadah itikaf dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 125. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Baitullah disucikan untuk orang-orang yang melakukan thawaf, itikaf, ruku, dan sujud.

Yang artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku' dan yang sujud"

(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)

2. Sunnah Nabi Melakukan Itikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan

Itikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan dilakukan sebagai sunnah (credit:unsplash.com/@rachidnl)

Itikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Amalan ini juga diriwayatkan dalam hadis yang disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalam hadis yang tercantum dalam kitab Bulughul Marom nomor 699, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat.

Hadis tersebut memiliki arti: "Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat."

Setelah Nabi wafat, para istri beliau juga tetap menjalankan itikaf sebagai bentuk mengikuti sunnah tersebut.

3. Niat dan Tata Cara Melaksanakan Itikaf

Jamaah membaca Al-Qur'an dan berzikir di dalam masjid (credit:/unsplash.com/@rumanamin)

Dalam menjalankan ibadah itikaf, niat menjadi hal penting yang harus ada di dalam hati. Wakil Sekretaris LBM PBNU Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan bahwa niat itikaf pada dasarnya dilakukan di dalam hati.

Seseorang yang hendak menjalankan itikaf cukup datang ke masjid dan melakukan berbagai amalan ibadah. Namun apabila niat tersebut dilafalkan secara lisan, maka tetap dianggap sah.

Beberapa lafal niat itikaf yang dikenal di antaranya: Nawaitu an a'takifa fi hadzal masjidi fardhan lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya berniat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya."

Selain itu terdapat niat lain yang berbunyi: Nawaitul i'tikafa fī hadzal masjidi lillāhi ta'ala.

Artinya: "Saya berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah SWT."

Tata cara itikaf antara lain diawali dengan niat, kemudian masuk ke masjid dan menghabiskan waktu dengan ibadah. Selama itikaf dianjurkan menghindari kegiatan yang tidak bermanfaat seperti bermain ponsel atau berbincang secara berlebihan.

4. Keutamaan Itikaf dan Pahala yang Dilipatgandakan

Itikaf menjadi momen bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah (credit:unsplash.com/@nhuenerfuerst)

Kasubid Pembelajaran AIK dan Kajian Keilmuan Islam LPPIK Muhammadiyah, Dr. Mujazin S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa itikaf sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Namun pelaksanaannya pada bulan Ramadan memiliki keutamaan yang lebih besar.

Hal ini karena pahala ibadah pada bulan Ramadan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu banyak umat Islam yang memilih menjalankan itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan tersebut. Salah satu tujuan utama itikaf adalah mencari malam Lailatul Qadar. Malam ini memiliki keutamaan ibadah yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan atau sekitar 80 tahun.

Menurut Mujazin, seseorang yang membaca Al-Qur'an atau melaksanakan salat malam pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Bahkan sedekah sebesar Rp50.000 dapat bernilai seperti bersedekah selama puluhan tahun.

Ada empat rukun i'tikaf yang harus dipenuhi: niat, berdiam di masjid, masjid sebagai tempat, dan orang yang beri'tikaf. Niat harus dilakukan karena Allah SWT.

5. Hal yang Membatalkan Itikaf dan Ketentuannya

Jamaah yang menjalankan itikaf dianjurkan menjaga adab (credit:unsplash.com/@isengrapher)

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan itikaf. Mujazin menjelaskan bahwa seorang Muslim yang sedang menjalankan ibadah ini perlu menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya.

Beberapa hal yang dapat membatalkan itikaf antara lain:

  • Keluar dari masjid tanpa alasan syar'i
  • Berhubungan suami istri
  • Mengalami haid atau nifas
  • Hilang akal
  • Murtad

Selain itu, itikaf umumnya dilakukan di masjid. Namun dalam kondisi tertentu, perempuan dapat melakukannya di rumah apabila terdapat ruangan khusus yang digunakan untuk salat.

Bagi perempuan yang ingin melaksanakan itikaf di masjid, dianjurkan untuk meminta izin kepada suami. Selain itu juga dianjurkan menjaga adab seperti berpakaian sederhana serta tidak meninggalkan tanggung jawab keluarga.

6. Q&A Populer Seputar I'tikaf di Masjid

Q: Apa yang dimaksud dengan itikaf di masjid?
A: Itikaf adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai amalan ibadah.

Q: Kapan waktu terbaik untuk melakukan itikaf?
A: Waktu yang paling dianjurkan adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadan untuk mencari malam Lailatul Qadar.

Q: Apakah itikaf harus dilakukan selama 10 hari?
A: Tidak ada batas minimal waktu itikaf. Bahkan berdiam di masjid selama beberapa menit dengan niat ibadah sudah termasuk itikaf.

Q: Apa saja kegiatan yang dilakukan saat itikaf?
A: Kegiatan selama itikaf antara lain salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melakukan amalan ibadah lainnya.

Q: Apa yang membatalkan itikaf?
A: Beberapa hal yang membatalkan itikaf antara lain keluar dari masjid tanpa alasan syar'i, berhubungan suami istri, haid, hilang akal, dan murtad.

Yuk, baca artikel seputar ramadan lainnya di Kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

Rekomendasi
Trending