Jadi Finalis Festival Kreatif Lokal 2020, Dapur Chantique Kenalkan Potensi Kuliner Malang

Senin, 22 Februari 2021 20:00 Penulis: Iwan Tantomi
Jadi Finalis Festival Kreatif Lokal 2020, Dapur Chantique Kenalkan Potensi Kuliner Malang
credit via instagram.com/dapur_chantique


Kapanlagi Plus - Masih ingat dengan kemeriahan Festival Kreatif Lokal 2020? Di final, kompetisi yang sukses menjaring UMKM potensial dari berbagai daerah di Indonesia ini, berhasil mengumpulkan 18 finalis. Masing-masing menghadirkan keunikan produk UMKM, serta mampu memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Salah satu finalis dari kategori kuliner yang cukup menyita perhatian di Final Festival Kreatif Lokal 2020 adalah Dapur Chantique. Bukan saja mampu mengangkat potensi daerah, Dapur Chantique juga berhasil mengenalkan makanan khas Malang sebagai produk UMKM.

Biar makin kenal dengan UMKM satu ini, yuk intip profil usaha Dapur Chantique selengkapnya sebagai berikut.

1. Kenapa Sih Dinamakan Dapur Chantique?

Namanya memang unik dan menyita perhatian banget. Namun, bukan tanpa alasan lho kenapa sampai dinamakan Dapur Chantique. Menurut sang founder, Rahayuningtyasworo, sebelum mulai berbisnis kuliner, sebenarnya ia lebih dulu menggeluti usaha di bidang fashion dan aksesoris.

Nah, usaha tersebut menggunakan nama brand 'cantik'. Lantas, karena bisnis kuliner pertamanya berkaitan dengan kue pie yang diproduksi di dapur sendiri, dan pie juga termasuk kue, maka ia merangkainya kembali nama brand lamanya dengan kata kue, lahirlah kata 'Chantique' yang kemudian berakhir dengan brand baru 'Dapur Chantique'.

2. Awalnya Bukan Usaha Utama

Sebelum menjadikan Dapur Chantique sebagai bisnis utama, awalnya Rahayuningtyasworo mencoba usaha kulinernya sebagai bisnis sampingan. Ia pun menjajakannya pertama ke rekan sekantor.

Siapa sangka, produk usaha yang dibikin Rahayuningtyasworo mendapatkan respon positif. Ia kemudian mulai serius memperhatikan kemasan, dan mulai jualan ke toko-toko lewat sistem konsinyasi.

Tak terasa, setahun lamanya berjalan, usahanya makin berkembang. Ketika dirasa lebih maju, Rahayuningtyasworo kemudian mantap memutuskan untuk berhenti bekerja dari kantor sepenuhnya, dan fokus menjalankan Dapur Chantique.

3. Tonjolkan Apel sebagai Identitas Malang

Setelah bisnisnya makin besar, Rahayuningtyasworo mulai mendirikan rumah produksi. Lewat Dapur Chantique, ia pun mulai mengembangkan beragam varian rasa kue pie.

Menariknya, Dapur Chantique berupaya fokus ke apel sebagai bahan dasar, karena ingin menonjolkannya sebagai identitas Malang. Kini, Dapur Chantique pun sukses memasarkan produknya di 40 outlet yang tersebar di kota Malang maupun kota lain di Jawa Timur.

4. Kondisi saat Pandemi

Sebagaimana diketahui, pandemi turut mendera berbagai sektor UMKM di tanah air. Sebelum pandemi terjadi, Dapur Chantique mampu meraih penghasilan dari 10% reseller, 20% rumah produksi, serta 60% dari toko kue oleh-oleh khas Malang dan Jawa Timur.

Malah produk-produk Dapur Chantique bisa terjual sebanyak 20.000 sampai 30.000 pcs per bulan di masa normal. Apalagi saat musim liburan datang, Dapur Chantique dapat menjual 1.000 pcs per hari.

Akan tetapi selama pandemi berlangsung, angka penjualan tersebut mengalami penurunan drastis, sampai-sampai Dapur Chantique terpaksa harus merumahkan beberapa pegawainya.

5. Berdayakan Masyarakat Lokal

Awalnya usaha Dapur Chantique telah mempekerjakan 17 karyawan, tetapi terpaksa harus memangkasnya karena pandemi, hingga kini tersisa 9 orang. Namun, Dapur Chantique berkomitmen untuk kembali membuka lapangan kerja, saat bisnis mereka sudah kembali pulih kelak.

Selain berusaha mempekerjakan masyarakat sekitar, Dapur Chantique juga menggaji para pegawainya bahkan setara dengan UMR kota Malang. Misalnya, setiap pegawainya bisa mendapatkan gaji sekitar Rp1.500.000,- sampai dengan Rp2.500.000,- per bulan atau sesuai omzet yang diperoleh oleh Dapur Chantique.

6. Ingin Bangun Kampung Edu-Kreatif

Sekalipun sudah sukses membesarkan nama Dapur Chantique, tetapi Rahayuningtyasworo ingin terus memberikan dampak usaha yang lebih nyata bagi sekitar. Salah satunya dengan berupaya mendirikan Kampung Edu-Kreatif.

Lewat Kampung Edu-Kreatif, Rahayuningtyasworo berharap bisa menambah penghasilan masyarakat. Salah satunya dengan membuka rumah produksi Dapur Chantique bagi wisatawan, terutama dengan daya tarik edukasi berupa proses pembuatan pie maupun kerajinan khas Malang. 

Dampak lebih luas, hal tersebut bakal bisa menambah pundi-pundi penghasilan masyarakat sekitar yang dilibatkan, sehingga kesejahteraan mereka akan ikut terkerek naik.

credit via instagram.com/dapur_chantiquecredit via instagram.com/dapur_chantique

Meski tak bisa datang langsung ke Malang karena pandemi misalnya, kabar baiknya kamu masih bisa membeli beragam produk Dapur Chantique lewat instagram @dapur_chantique maupun klik di sini.

Usaha asli asal Malang ini pun menjadi bukti jika dari modal Rp200 ribu, Dapur Chantique mampu meraih omzet hingga Rp200 juta per bulan sebelum pandemi, atau sekitar Rp20 juta per bulan saat pandemi.

Adapun Festival Kreatif Lokal 2020 sendiri adalah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Adira Finance bekerjasama dengan Kemenparekraf RI bertemakan #BangkitBersamaSahabat yang diadakan mulai Agustus 2020 hingga Januari 2021. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Adira Finance terhadap program Kemenparekraf RI #BeliKreatifLokal dan Bangga Buatan Indonesia.

(kly/tmi)

Reporter:

Iwan Tantomi



MORE STORIES




REKOMENDASI