Jadi Pasien Positif Terkena Virus Corona, Rhesa Mahasiswa UB Malang Tak Pernah Diberitahu Dirinya Sakit Covid-19

Minggu, 05 April 2020 08:38
Jadi Pasien Positif Terkena Virus Corona, Rhesa Mahasiswa UB Malang Tak Pernah Diberitahu Dirinya Sakit Covid-19
Rhesa Haryo Wicaksono © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Awal masuk ruang isolasi, Resha Haryo Wicaksono mengaku sama sekali tidak bisa komunikasi dengan keluarga, alat komunikasi memang sama sekali tidak boleh masuk ke kamar. Kalau kesehariannya memegang hp, saat itu benar-benar harus ditanggalkan dan dibawa ibunya, yang menunggunya di luar ruang isolasi.

"Cuma ada satu momen, HP itu bisa masuk. Pertama hp ibu saya, karena saat itu ada Dinas Kesehatan Propinsi yang ingin wawancara. (Sejak saat itu, lega sudah bisa komunikasi. Nelpon keluarga, temen, internetan, soalnya hiburannya hanya itu saja," kisahnya.

Selama perawatan kondisinya mulai membaik dengan ditandai nafsu makan yang berangsur meningkat. Selama menjalani perawatan tidak ada pantangan makan, tetapi memang tidak ada nafsu makan.

"Awalnya memang sangat sedikit, sulit makan. Seterusnya satu porsi itu habis kan. Nafsu makan balik sendiri perlahan-lahan, satu porsi yang dari rumah sakit itu kurang gitu," katanya tertawa.

 

1. Tak Pernah Diberi Tahu Terinfeksi Covid-19

Rhesa mengaku tidak pernah diberi tahu, baik oleh dokter atau keluarganya, kalau terinveksi Covid-19. Baru tahu terinfeksi Covid-19 setelah di rumah, saat ia diberitahu harus menjalankan isolasi mandiri.

"Saya pertama kali tahu kalau terkena Covid itu pas sudah pulang. Jadi sebenarnya hasilnya keluar tanggal 17 Maret, ada konferensi pers dari RSSA dan UB. Belum tahu, ibu saya diberi tahu pas tanggal 18. Ibu tanya (ke dokter), saya perlu dikasih tahu nggak? Dokternya melarang. Ya mungkin biar nggak terganggu psikisnya atau bagaimana. Sempat tidak diberi tahu," kisahnya.

2. Sempat Menduga

Tetapi sempat memang menduga-duga kalau dirinya sedang dirawat karena Covid19, karena keseharian juga membaca berita di internet. Saat mengetahui pertama kali juga tidak menjadi persoalan.

"Tahunya sih sudah biasa, mungkin ya karena sudah sembuh sih. Tapi sebenarnya kalau dikasih tahu waktu di ruang isolasi sebenarnya ndak apa-apa sih. Soalnya mau gimana, wong wabah," katanya.

"Memang banyak berita yang bertebaran di internet, sempat mikir, ini aku atau bukan ya. Tanya ke ibu, ibu ngomongnya 'Oh bukan. Sempet baca-baca," katanya.

3. Dinkes Keceplosan

Resha juga sempat curiga saat Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi mewawancarainya, walaupun memang belum dapat disimpulkan saat itu. Kemudian curiga juga saat membaca berita di internet kalau tempat kuliahnya Fakultas Teknik UB dikarantina.

"Kebetulan pas ada Dinkes telpon itu besoknya, keceplosan tempat saya kuliah itu dilockdown. Makanya agak kaget," katanya.
 
"Ya nggak apa-apa sih, tapi akhirnya saya paham memang harus jaga jarak dulu dengan keluarga. Ya gimana, kalau nggak tahu penyakitnya terus tiba-tiba disuruh jaga jarak, bingung juga. Kok memang sudah tahu penyakitnya, ya mikir dan tahu. Sudah tahu, keluarga sudah tahu semua sakitnya apa," jelasnya.

4. Ajak Optimis Sembuh dan Tak Peduli Stigma

Saat ini Rhesa menjadi salah satu pasien yang berhasil disembuhkan dari covid-19 di Malang. Ia pun mengajak kepada orang lain yang sedang mengalami sakit seperti dirinya untuk optimis segera sembuh. Tidak perlu malu atau menganggap aib, sehingga harus menyembunyikannya.

"Tetap berpikir positif, yang pasien atau yang sudah positif berpikir sembuh saja. Kalau memang terkena corona nggak usah dipikir, toh masyarakat sudah mengerti kan penyakit ini," katanya.

Rhesa juga mengajak masyarakat untuk membantu pasien Covid19 kembali sehat, setidaknya dengan memberi semangat moril. Sehingga diharapkan tidak memunculkan persoalan baru yang menjadi beban bagi pasien.

"Buat masyarakat kalau sudah tahu penyakitnya ya didukung, jangan dikucilin. Tetap ikuti prosedur kesehatan, kalau sedang sakit di rumah sakit ya ikuti prosedur rumah sakit," kata Rhesa.

Rhesa mengaku tidak pernah mengalami stigma negtaif dari lingkungannya, baik tempat tinggal maupun tempat kuliahnya. Teman dan kerabat banyak memberikan motivasi untuk segera sembuh dari wabah penyakit yang masih baru itu.

"Kalau yang sehat ikuti pemerintah saja. Kalau memang kondisi harus kerja atau ke mana, mungkin nggak apa-apa ya. Kan kadarnya masih imbauan, yang penting ikuti protokol kesehatannya," terangnya,

Masyarakat harus hidup sehat dengan mengikuti imbauan physical distancing (jaga jarak), sering cuci tangan dan tidak sembarangan meludah. Masyarakat harus sadar bahwa persoalan penyebaran Covid-19 merupakan persoalan dunia yang mewabah dan saat ini berada di Indonesia. 

"Sama jaga kesehatan, jadi jaga kebersihan, makan banyak. Virus ini yang bisa melawan kan tubuh sendiri, bukan obat," akhir pesannya.

(kpl/dar/phi)



MORE STORIES




REKOMENDASI