Konser Musik Malaka 2019 Tawarkan Nuansa Tradisional, Gandeng 500 Penari

Kamis, 25 April 2019 10:58 Penulis: Ayu Miranti
Konser Musik Malaka 2019 Tawarkan Nuansa Tradisional, Gandeng 500 Penari
©Kemenpar

Kapanlagi Plus - Hari pertama Konser Musik Malaka 2019 berlangsung sangat meriah. Bukan konser musik biasa, penyelenggara sengaja menghadirkan nuansa tradisional yang amat kental. Terhitung ada 500 penari yang memeriahkan hari pertama dengan gelaran 3 tarian kolosal. Tari Tebe, Likurai, dan Bidu disandingkan dengan warna musik kontemporer. Penasaran dengan kemeriahannya?

Konser Musik Malaka 2019 bertempat di Lapangan Paroki Kamanasa (MISI), Betun, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 24-25 April. Menghadirkan penyanyi Timor Leste (Tiles) Maria Vitoria dan Bondan Prakoso asal Indonesia. Konser ini pun begitu dinantikan oleh warga perbatasan yang begitu antusias.

“Kami sangat senang ternyata tarian ini mampu menyita perhatian para pengunjung yang datang. Dengan tarian-tarian itu budaya dapat, tariannya sangat menarik, dan yang pasti melibatkan banyak penari. Kabar dari pihak penari sampai 500 orang datang dari Malaka maupun juga dari Timor Leste. Semuanya menari bersama," ungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, kemarin.

Tari Tebe, Likurai, dan Bidu merupakan identitas Tanah Timor. Tari Bidu dikenal sebagai media untuk mencari jodoh. Tanah Timor memiliki beberapa tahap menuju jenjang pernikahan. Ada Hameno Bidu yang bermakna kesepakatan sekaligus perencanaan awal menuju pelaminan. Tahap berikutnya adalah Binor, yaitu pertukaran cenderamata yang dilanjutkan Mama Lulik atau peminangan.

Usai dipinang baru dilanjutkan ke tahap Mama Tebes. Ini adalah moment membicarakan tanggal nikah. Dan, secara umum Tari Bidu dibawakan oleh 8 penari putri dan 1 atau 2 penari putra. Gerakan Tari Bidu bagi putra didominasi rentangan tangan dan memutar badan. Untuk penari putri didominasi oleh gerak lembut tangan. Posisi kakinya jalan di tempat. Hal ini jadi simbol keanggunan putri Tanah Timor.

Tari Tebe bisa diasumsikan sebagai Tari Ronggeng. Pada zaman dahulu, Tari Tebe ini menjadi ungkapan kegembiraan kala Meo pulang dari medan perang. Tarian ini menjadi ungkapan kegembiraan. Tebe ini dibawakan dengan lantunan syair dan kananuk (pantun). Tarian ini pernah memecahkan rekor MURI pada Oktober 2015 yang dibawakan oleh 4.601 penari.

Memperingati HUT ke-99 Atambua, Belu, Tari Tebe dibawakan pelajar dan instansi terkait. Sembari menari, mereka pun membentuk formasi angka 99. Popularitas Tebe ini pun serupa dengan Tari Likurai. Tari Likurai bahkan digunakan sebagai opening ceremony Asian Games 2018.

Rapor fenomenal juga dibukukan tarian tersebut. Tari Likurai pernah masuk rekor MURI, Oktober 2017. Tarian ini dibawakan oleh 6.000 penari di Bukit Fulan Fehan. Background penarinya adalah pelajar dari 3 kabupaten di zona crossborder NTT. “Ada banyak tarian besar yang disajikan di KMP-MK 2019. Beberapa memiliki background prestasi luar biasa. Dengan karakter eksotisnya,” papar Ricky lagi.

Filosofi tinggi juga dimiliki Tari Likurai. Tarian ini jadi ungkapan rasa gembira. Tari Likurai dibawakan masing-masing 10 penari pria dan wanita. Gerakannya khas. Gerak tubuh antara penari pria dan wanita berbeda. Gerak penari wanita didominasi oleh gerakan tangan yang memainkan kendang. Kedua kakinya pun menghentak bergantian. Tubuhnya melenggak ke kanan dan kiri sesuai irama.

 “Semua nilai kebaikan ditampilkan di KMP-MK 2019. Komposisinya luar biasa. Artisnya ada Maria Vitoria dan Bondan Prakoso, lalu pendamping 3 tarian terbaik Tanah Timor. KMP-MK 2019 jadi pesta yang luar biasa. Bukan hanya atraksinya, aksesibilitas dan amenitas menuju Malaka juga bagus. Kami tunggu Anda di Malaka. Enjoy Tanah Timor,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Menghadirkan konser musik yang tidak biasa, harapannya akan banyak wisatawan yang tertarik untuk berwisata ke Tanah Timor. 

(kpl/ayu)

Editor:

Ayu Miranti



MORE STORIES




REKOMENDASI