Mengapa Aksesoris Kepala Dilarang Dalam Pertandingan Blind Judo?

Kamis, 11 Oktober 2018 00:01 Penulis: Winda Carmelita
Mengapa Aksesoris Kepala Dilarang Dalam Pertandingan Blind Judo?
© Shutterstock.com

Kapanlagi Plus - Mengapa Aksesoris Kepala Dilarang Dalam Pertandingan Blind Judo?


Untuk kamu yang aktif di social media, tentu sudah mengetahui tentang salah satu atlet Asian Para Games 2018 asal Indonesia bernama Miftahul Jannah yang didiskualifikasi keikusertaannya dalam pertandingan cabor blind Judo. Keputusan ini menimbulkan polemik dari berbagai kalangan, termasuk netizen. Berbagai spekulasi pun muncul menyertai keputusan panitia tersebut.

Terlepas dari isu-isu yang merebak di masyarakat, kita perlu tahu lho tentang adanya aturan di balik setiap cabor yang dipertandingkan. Khususnya cabor blind judo ini.

Aturan federasi judo dunia (IJF) telah mengalami perubahan setelah Olimpiade 2012 di London. Brian Jeoung Gissick, selaku technical delegate (TD) blind judo Asian Para Games 2018 memaparkan alasan mengenai peraturan rambut dan aksesori kepala:

Rambut panjang harus diikat sehingga tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada kontestan lainnya. Rambut harus diikat dengan pita rambut yang terbuat dari karet atau bahan sejenis dan tidak ada komponen kaku atau logam. Kepala tiadk boleh ditutupi kecuali untuk pembalutan yang bersifat medis, yang harus memenuhi aturan kerapian kepala.

Aturan ini dibuat bukannya tanpa pertimbangan lho. Peraturan ini justru dibuat untuk melindungi atlet. Selain itu meminimalisir terjadinya penyalahgunaan kesempatan menggunakan penutup kepala untuk tujuan komersial dan politik. "Tentunya peraturan ini dibuat setelah dilakukan kajian," ujar Brian dalam jumpar pers yang diadakan di JIExpo Kemayoran Jakarta, Selasa (9/10).

Mungkin kamu bertanya-tanya, memangnya apa hubungannya penutup kepala dengan bahaya saat atlet bertanding? Begini, dalam judo dikenal teknik kuncian Newaza atau ground fighting. Jika atlet menggunakan teknik ini, berpotensi bahaya karena bisa terjerat di bagian leher yang dapat berakibat fatal pada keselamatan atlet.

Ini pertama kalinya Indonesia mengikuti cabang blind judo. Kali ini mungkin Miftahul Jannah belum bisa melangkah meraih juara. Tetapi tak menjadi pematah arang semangat untuk cabor-cabor dan atlet-atlet penyandang disabilitas Indonesia lainnya untuk terus melaju meraih juara.

Dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk atlet Asian Para Games 2018 pun terus mengalir. Grab, selaku Official Mobile Platform Partner Asian Para Games 2018, juga terus mengalirkan semangat dan dukungan melalui berbagai layanan di antaranya Grab Gerak dan Golf Car sebagai wujud komitmen nyata terhadap Indonesia.

Karena #KemenanganItuDekat dan siapapun berhak merasakannya, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

Grab selaku official mobile platform partner juga mendukung Asian Para Games 2018

(kpl/wnd)

Reporter:

Winda Carmelita



MORE STORIES




REKOMENDASI