Diterbitkan:
Kapanlagi.com - Lebaran di Indonesia selalu identik dengan berbagai tradisi yang menghangatkan suasana, namun di Kabupaten Indramayu, ada sebuah tradisi yang unik dan memikat perhatian. Tradisi tersebut adalah Kirab Syawalan, sebuah pawai dengan membawa boneka naga yang meriah dan menjadi simbol sukacita setelah Ramadan. Warga Desa Krasak, Indramayu, rutin menggelar kirab ini sebagai bagian dari perayaan Lebaran yang penuh warna dan kehangatan.
Kirab Syawalan menjadi kesempatan bagi warga setempat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mengekspresikan kebahagiaan. Boneka naga yang besar dan berwarna-warni ini bukan sekadar hiasan, tetapi juga simbol dari harapan dan doa untuk keberkahan. Tradisi ini tidak hanya mengundang warga desa, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dan fotografer yang ingin mengabadikan momen spesial tersebut.
Selain Kirab Syawalan, Lebaran di Indramayu juga diwarnai dengan sejumlah tradisi khas lainnya yang sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Di balik kegembiraan tersebut, tersimpan makna mendalam yang mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan di masyarakat. Berikut informasinya.
Advertisement
Irim-iriman atau tradisi mengantarkan makanan saat Lebaran merupakan ritual yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indramayu. Setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri, warga saling mengirimkan berbagai hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan kue-kue tradisional. Tradisi ini menjadi sarana untuk saling berbagi kebahagiaan dengan keluarga, tetangga, dan kerabat dekat. Mengantarkan makanan pada hari Lebaran tidak hanya sebagai bentuk berbagi, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga.
Dalam bahasa Jawa Indramayu, Irim-Irim berarti mengirim atau membawa makanan ke sanak saudara terdekat. Salah satu yang menjadi ciri khas dalam tradisi ini adalah keterlibatan seluruh anggota keluarga, mulai dari yang muda hingga yang tua. Para ibu rumah tangga biasanya menyiapkan hidangan sejak malam hari sebelum Lebaran. Pagi-pagi sekali, mereka sudah mempersiapkan makanan yang akan dibawa dan dibagikan. Setelah Sholat Idul Fitri, mereka pergi ke rumah saudara dan tetangga sambil membawa hidangan khas Lebaran.
Selain menjadi ajang berbagi makanan, irim-iriman juga mengandung makna kebersamaan. Tradisi ini membuat masyarakat Indramayu semakin erat, baik antar keluarga, maupun antara tetangga. Makanan yang dibagikan menjadi simbol saling memberi dan menerima berkah di hari yang penuh kemenangan ini.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
Nyekar adalah tradisi yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indramayu sebelum atau setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri. Nyekar dilakukan dengan mengunjungi makam orang tua atau keluarga yang telah meninggal untuk mendoakan mereka. Tradisi ini bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan dan doa bagi yang telah mendahului. Masyarakat merasa lebih dekat dengan leluhur dan meminta berkah untuk hidup yang lebih baik.
Para pelaku nyekar biasanya membawa bunga atau air suci untuk ditaburkan di makam. Di beberapa tempat, bahkan ada yang membawa makanan atau kue untuk dimakan bersama setelah berziarah. Ini menjadi momen refleksi dan juga kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk terus melanjutkan hidup dengan penuh semangat. Dengan demikian, nyekar menjadi bagian dari Lebaran yang menyatukan rasa rindu, doa, dan kebersamaan antar generasi.
Selain itu, tradisi nyekar juga melambangkan keberlanjutan tradisi keluarga. Melalui kegiatan ini, masyarakat Indramayu mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa para leluhur. Tradisi ini memperkuat rasa cinta terhadap tanah air, keluarga, dan sesama.
Advertisement
Sebelum hingga setelah pelaksanaan Sholat Idul Fitri, masyarakat Indramayu biasanya mengadakan tradisi Obrog, yaitu tradisi mengamen ala warga di sana dengan berkeliling kampung. Obrog bukan sekedar ngamen biasa, melainkan mirip seperti pawai, karena pengamen tersebut membunyikan berbagai alat musik tarling (dangdut tradisional Pantura Jawa Barat) menggunakan sound systemn.
Tradisi obrog, kerap dinantikan warga adanya para pengamen yang menggunakan boneka barongan yang lucu dan berwajah menyeramkan. Biasanya, obrog dimainkan hingga 10 orang yang terdiri dari pemusik, pemain tokoh barongan dan yang membawa wadah untuk meminta uang ke rumah-rumah warga di Indramayu.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
(kpl/frr)
Advertisement
Apa Saja Ciri-Ciri Penyakit Jantung pada Urine? Yuk Waspada, Ini Penjelasannya
Aktor Hollywood Val Kilmer, Rekan Main Tom Cruise dalam Film 'TOP GUN' Meninggal Dunia
Apa Itu Post-Holiday Bues Usai Libur Lebaran? Ini Gejala dan Cara Mengatasinya
Rendang hingga Opor, Ini Deretan Masakan Pelengkap Ketupat yang Wajib Ada saat Lebaran
Cara Memasak Rendang agar Daging Empuk dan Santan Tidak Pecah, Tips Sajian Matang Sempurna