Millenial di Jawa Timur Tak Perlu Takut Jadi Pengangguran dengan Program MJC

Selasa, 28 Mei 2019 13:15 Penulis: Guntur Merdekawan
Millenial di Jawa Timur Tak Perlu Takut Jadi Pengangguran dengan Program MJC
Milenial Job Center (MJC) © KapanLagi.com


Kapanlagi Plus - Ijazah kuliah atau bahkan SMA tak selalu menjamin seseorang untuk bisa dapat pekerjaan yang diimpikan. Tak heran jika angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Di Jawa Timur saja, 70% angka pengangguran usia muda atau di bawah 25 tahun adalah lulusan SMA ke atas.

Guna menekan angka pengangguran itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pun meluncurkan program bernama Milenial Job Center (MJC), East Java Super Corridor (EJSC) dan Big Data. Ketiga program ini dibuat untuk mengembangkan potensi para milenial yang kesulitan masuk ke dalam sebuah instansi atau mendapatkan pekerjaan.

MJC dan ESJC memang masuk dalam janji kampanye 99 hari kerja pertama Khofifah dan wakilnya, Emil Dardak. Beberapa persiapan pun telah dilakukan, seperti melakukan uji coba program di beberapa titik.

"Persiapan ekosistem inilah yang harus dikoordinasikan dengan klien yang disebut dunia usaha dunia industri (DUDI) dan mentornya. Selain itu juga talentnya sendiri adalah anak-anak lulusan SMK/SMA atau S1," tutur gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

1. Perlu Perhatian Lebih

Menurut Emil, para milenial perlu mendapat perhatian lebih dan juga wadah untuk menyalurkan bakat yang mereka miliki. Hal ini penting dilakukan karena tingkat pengangguran terbanyak didominasi oleh kalangan SMA ke atas.

"Para lulusan SMA sederajat merupakan penyumbang pengangguran terbesar, bisa jadi karena pekerjaan yang mereka minati tidak tersedia di pasar. Oleh sebab itu, MJC merupakan salah satu solusinya," jelas suami Arumi Bachsin itu.

2. Trend Milenial

Sebagai sosok Wagub yang masih sangat muda, Emil sendiri begitu mengikuti dengan tren pekerjaan di era digital ini. Menurutnya, mulai muncul job-job baru yang sangat di luar dugaan dan begitu menarik minat para muda-mudi. Sebut saja, web developer, Youtuber, fotografer/videografer dan masih banyak lainnya.

Nah meski punya bakat tertentu, tanpa ada 'jembatan' penghubung, para milenial juga tetap bakal kesulitan untuk terjun ke dunia bisnis. Dan di sinilah alasan kenapa MJC diluncurkan oleh Khofifah dan Emil.

"Permasalahannya adalah mereka tidak punya karir dan tidak ada yang hiring. Sekalipun ada perushaan yang hire, mereka biasanya nggak mau pakai jasa yang masih diragukan. Nah melalui Millennial Job Center ini nanti para talent akan dilatih oleh mentor-mentor supaya bisa terjun ke dunia industri," sambung Emil.

"Lewat MJC sebetulnya para milenial tidak hanya sekadar mendapat keterampilan dari pelaku digital ekonomi, tetapi juga menyambungkan market akses ke UKM dan IKM," tambah Khofifah.

3. Dukungan Pengusaha Digital Market

Pada kesempatan yang sama, CEO Kapanlagi Youniverse Steve Christian, menyampaikan apresiasinya atas peluncuran MJC, EJSC, dan Big Data di lingkup Provinsi Jatim. Menurutnya, program ini sangat membantu pengembangan tenaga-tenaga kreatif. Bahkan, pihaknya juga bersedia menjadi mentor bagi para talent yang telah terdaftar di MJC.

"Ini merupakan bentuk inisiatif yang sangat membantu khususnya di dunia media seperti kami. Kami berharap dimulai dari Jatim dan nantinya akan bisa menjadi program nasional di Indonesia," tutur Steve.

Gimana? Menarik sekali bukan? Nggak perlu kuatir Lebaran tahun depan bakal ditanya kerja apa kalau kalian sudah ikut program ini!

(kpl/lip/gtr)



MORE STORIES




REKOMENDASI