Netizen Geram, Ternyata Ini Alasan Menkominfo Blokir Telegram

Senin, 17 Juli 2017 10:18 Penulis: Agista Rully
Netizen Geram, Ternyata Ini Alasan Menkominfo Blokir Telegram
blog.android30t.com

Kapanlagi Plus - Dalam beberapa hari terakhir, pengguna sosial media terutama Twitter tengah geram dengan tindakan pemerintah. Pasalnya salah satu platform pesan instan Telegram diblok oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi karena alasan penyebaran radikalisme. Well, sebelum menghakimi lebih jauh mari simak alasan Rudiantara atas tindakan blokir ini.

"Semua platform yang mengandung konten negatif dan bertentangan dengan aturan akan selalu kami awasi," ujar Rudiantara, Menkominfo dikutip dari antaranews.com.

Menurut Rudiantara, Telegram tidak menyediakan staf atau organisasi yang melayani keluhan akibat penggunaan platform ini. "Hal ini berbeda dengan platform sejenis (Youtube, facebook, twitter) yang sesuai dengan prosedur yang kita buat," imbuhnya.

Menkominfo mendapatkan banyak hujatan di sosial media karena memblokir Telegram  istimewaMenkominfo mendapatkan banyak hujatan di sosial media karena memblokir Telegram istimewa

Pemblokiran yang dilakukan Menkominfo pun terbatas pada platform desktop alias blokir DNS seperti web.telegram.org, desktop.telegram.org, atau telegram.me. Sementara Menkominfo tidak memblokir platform aplikasi smartphone yang berarti bahwa Telegram masih bisa diakses melalui ponsel pengguna.

Sistem enkripsi Telegram membuat aplikasi penerima pesan satu ini tidak mau membagikan secuil pun informasi dari pengguna pada pemerintah. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh pemerintah akan timbulnya pengiriman pesan terselubung dari tindakan radikalisme dan terorisme.

Sementara itu, CEO Telegram Pavel Durov telah mengirimkan e-mail pada Menkominfo dan menawarkan tiga solusi untuk mengatasi pemblokiran ini. Mengingat saat ini pengguna awal Telegram berasal dari Indonesia dan angkanya telah mencapai jutaan.

Platform ini diblokir karena dianggap berisi konten terorisme dan radikalisme  NewsweekPlatform ini diblokir karena dianggap berisi konten terorisme dan radikalisme Newsweek

"Jadi saya kecewa saat mendengar Kominfo memblokir Telegram di Indonesia. Ternyata Kemenkominfo baru-baru ini mengirim surel berisi daftar channel publik yang isinya berkaitan dengan terorisme dan tim kami tidak bisa memproses laporan tersebut dengan cepat," tulis Durov.

Durov menyayangkan adanya miskomunikasi karena tidak mengetahui permintaan tersebut dari Kominfo. Maka dari itu dirinya menawarkan tiga solusi dengan cara memblokir semua channel publik yang berhubungan dengan teroris, membalas e-mail Kominfo, serta membentuk tim moderator yang memahami bahasa dan budaya Indonesia agar bisa memproses laporan berkaitan dengan konten terorisme lebih cepat dan akurat.

"Faktanya, setiap bulan kami memblokir ribuan channel publik dan melaporkan hasilnya di @isiswatch. Kami selalu mencoba lebih efisien dalam mencegah propaganda teroris dan selalu terbuka dengan ide baru agar bisa melakukannya lebih baik lagi," ujar Durov.

Well, semoga Kominfo dan Telegram dapat bekerja sama dengan baik sehingga platform yang mampu mengirim file kapasitas besar ini dapat digunakan kembali ya KLovers!

(ant/agt)

Editor:

Agista Rully



PLUS TERKAIT

LATEST UPDATE




REKOMENDASI