Operasi Bypass Jantung Kini Tak Perlu Sayatan Besar, Mitra Keluarga Kelapa Gading Sudah Tangani 100 Lebih Pasien
Mitra Keluarga Kelapa Gading (Credit: Dok. Pribadi)
Kapanlagi.com - Operasi bypass jantung kini tak lagi identik dengan sayatan besar di dada maupun keharusan berobat ke luar negeri. Kemajuan teknologi medis membuat pasien penyakit jantung koroner kini bisa menjalani prosedur yang lebih minim luka dengan masa pemulihan yang jauh lebih singkat.
Salah satu rumah sakit yang telah mengembangkan layanan tersebut adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dalam satu tahun terakhir, rumah sakit ini berhasil menangani lebih dari 100 pasien melalui prosedur Minimally Invasive Cardiac Surgery Coronary Artery Bypass Graft (MICS CABG). Pencapaian ini sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu rumah sakit swasta yang berpengalaman dalam layanan bedah jantung minimal invasif di Indonesia.
Penyakit jantung sendiri masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen dari seluruh kelompok usia. Salah satu kasus yang paling sering memerlukan tindakan operasi adalah penyakit jantung koroner, yaitu kondisi ketika pembuluh darah koroner menyempit atau tersumbat akibat penumpukan plak.
Advertisement
1. MICS CABG Hadirkan Operasi Bypass dengan Luka Lebih Kecil
Selama bertahun-tahun, operasi bypass dilakukan dengan metode bedah terbuka yang mengharuskan dokter membelah tulang dada agar dapat mengakses jantung secara langsung. Prosedur ini memang efektif, tetapi biasanya membutuhkan waktu pemulihan yang cukup panjang karena luka operasi yang besar.
Kini, teknologi MICS CABG menawarkan pendekatan berbeda. Operasi dilakukan melalui sayatan kecil di sela tulang rusuk sehingga tulang dada tidak perlu dibelah. Meski minim luka, prosedur ini tetap memungkinkan dokter membuat jalur baru untuk mengembalikan aliran darah menuju jantung yang sebelumnya terhambat akibat penyumbatan.
Teknik ini membantu mengurangi trauma pada jaringan tubuh, menekan rasa nyeri setelah operasi, sekaligus mempercepat proses pemulihan sehingga pasien dapat kembali menjalani aktivitas dalam waktu yang lebih singkat.
Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Konsultan Jantung Dewasa Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), menjelaskan bahwa teknik minimal invasif memberikan keuntungan besar bagi pasien.
"Kalau minimal invasif, pasien bisa lima hari pulang dari rumah sakit, kemudian beraktivitas seperti biasa," ujar dr. Wirya.
Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular dr. Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp. VE (K), MH. Menurutnya, meski dilakukan melalui sayatan kecil sekitar 7 hingga 8 sentimeter, prosedur ini tetap mampu menangani seluruh pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan.
"Dibandingkan operasi konvensional, dengan MICS CABG semua pembuluh darah bisa dilakukan bypass walau dengan luka yang sangat kecil sekitar 7–8 sentimeter," jelas dr. Marolop.
(Gisela Cindy resmi menikah dengan Sian di Kanada!)
2. Tak Perlu Lagi Berobat ke Luar Negeri
Keberhasilan menangani lebih dari 100 tindakan MICS CABG dalam setahun menjadi bukti bahwa layanan bedah jantung berteknologi modern kini sudah tersedia di Indonesia. Pasien tidak lagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perjalanan maupun akomodasi ke luar negeri demi mendapatkan prosedur serupa.
Direktur Regional III Mitra Keluarga, dr. Ronald Reagen, MM, MARS, mengatakan masyarakat kini memiliki pilihan untuk menjalani operasi bypass minimal invasif dengan standar pelayanan yang baik tanpa meninggalkan Indonesia.
"Sekarang masyarakat Indonesia yang mengalami masalah jantung koroner tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menjalani operasi bypass tanpa sayatan ini. Prosedur tersebut sudah bisa dilakukan di Indonesia dan salah satu fasilitas kesehatan yang menjadi pionir serta berpengalaman menangani operasi bypass jantung minimal invasif adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading," ujarnya.
Layanan ini didukung oleh tim dokter bedah jantung berpengalaman yang terdiri dari dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), dr. Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp. VE (K), MH, serta dr. Bimo Kusumo, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), FIATCVS, FICS, MARS.
Tingginya kepercayaan masyarakat juga terlihat dari asal pasien yang tidak hanya berasal dari Jakarta dan kota penyangga, tetapi juga berbagai daerah di Indonesia, termasuk luar Pulau Jawa.
3. Pasien Rasakan Manfaat Pemulihan Lebih Cepat
Keunggulan MICS CABG bukan hanya dirasakan dari sisi medis, tetapi juga langsung dirasakan pasien setelah menjalani operasi.
Novi Cahyono (57), salah satu pasien, mengaku sudah dapat kembali beraktivitas dan berolahraga ringan tiga bulan setelah menjalani operasi.
"Tiga bulan setelah operasi, saya sangat bersyukur sudah bisa beraktivitas normal, olahraga kecil seperti jalan pagi dan lari-lari kecil. Operasi ini tidak hanya menyelamatkan jantung saya, tetapi juga membuat kualitas hidup saya menjadi lebih baik," katanya.
Pengalaman positif juga dirasakan Gwie Yu Gwan (64). Ia sempat mempertimbangkan menjalani operasi di luar negeri sebelum akhirnya memilih Mitra Keluarga Kelapa Gading.
"Setelah operasi tidak terlalu sakit, tidak ada keluhan. Semakin hari kondisi saya semakin enak," ungkapnya.
Melalui Heart & Vascular Center, Mitra Keluarga Kelapa Gading terus memperkuat layanan mulai dari deteksi dini, diagnosis, tindakan bedah hingga rehabilitasi pasien. Rumah sakit berharap semakin banyak masyarakat mendapatkan akses terhadap teknologi operasi jantung modern sehingga penanganan penyakit jantung dapat dilakukan lebih cepat dan kualitas hidup pasien terus meningkat.
(kpl/gtr)
Advertisement