Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945 Beserta Maknanya

Senin, 16 Agustus 2021 15:55 Penulis: Anik Setiyaningrum
Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945 Beserta Maknanya
Ilustrasi (Credit: Freepik)


Kapanlagi Plus - Hari ini, 76 tahun yang lalu atau 16 Agustus 1945 merupakan peristiwa yang mendebarkan bagi kelompok pemuda yang ingin segera melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Anggota kelompok pemuda tersebut antara lain, Wikana, Chaerul Saleh, dan Sukarni itu nekat menculik Soekarno dan Hatta sebagai jurus untuk mempercepat proklamasi. Kini, peristiwa penculikan yang mendebarkan itu sering disebut sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tanpa aksi penculikan Soekarno-Hatta tersebut, cerita kemerdekaan Indonesia jelas akan berbeda. Peristiwa Rengasdengklok dan usaha lain menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 menjadi rangkaian cerita penting dan menarik untuk selalu dikenang. Berdasarkan informasi dari situs kemendikbud.go.id, kesadaran Indonesia untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia diawali dari bom yang dijatuhkan oleh Sekutu di kota Hiroshima dan Nagasaki.

Bom yang kemudian meluluhlantakkan itu membuat Kaisar Hirohito menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Nah, golongan muda itu tadi segera memanfaatkan situasi untuk mendesak Soekarno-Hatta. Peristiwa Rengasdengklok ini disusul oleh perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Untuk mengetahui peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945, simak beberapa informasi berikut ini.

 

1. Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Pada 15 Agustus 1945, setelah mendengar kabar dari radio BBC milik Inggris bahwa Kaisar Hirohito menyerah, golongan muda membujuk Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan Indonesia. Meski tampak sigap, golongan muda tak bisa dengan mudah mendapat persetujuan dari Soekarno-Hatta yang masih menunggu pernyataan resmi dari pemerintah Jepang.

Pada keesokan harinya, tanggal 16 Agustus 1945, tak menyerah dengan penolakan golongan tua yang lebih memilih untuk menunggu sampai 24 Agustus sesuai tanggal yang ditetapkan oleh Marsekal Terauchi sebagai waktu kemerdekaan, golongan muda melancarkan aksi penculikan Soekarno-Hatta beserta Fatmawati, dan Guntur ke Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok ini bertujuan untuk (sekali lagi) mendesak golongan tua agar mempercepat rencana proklamasi.

Sayangnya, usaha golongan muda tak banyak membuahkan hasil hingga sore hari. Hingga akhirnya, Ahmad Soebardjo datang dan membujuk golongan muda untuk melepaskan dwitunggal atau Soekarno-Hatta dengan jaminan bahwa proklamasi akan dilaksanakan esok hari. Setelah itu, rombongan berangkat ke Jakarta, ke rumah Laksamana Maeda untuk membahas rencana proklamasi. Perundingan pun terjadi dengan Gunseikan (Kepala Pemerintah Militer) Jendral Moichiro Yamamoto dan menghasilkan jawaban yang mengecewakan.

Rasa kecewa itu datang dari pelarangan Gunseikan terhadap Indonesia yang ingin membuat langkah perubahan situasi sebelum Sekutu datang. Rasa kecewa itu juga yang membuat para tokoh sepakat untuk tak mengharapkan banyak hal, apalagi kemerdekaan dari Jepang. Itu berarti rencana proklamasi haru segera dirancang. Saat itu juga, Sukarni dan kawan-kawannya mengawal Anggota PPKI menuju rumah Laksamana Maeda untuk turut menyusun rencana kemerdekaan.

 

2. Perumusan Naskah Proklamasi

17 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, penyusunan naskah proklamasi berjalan di ruang makan Laksamana Maeda. Dua jam kemudian, naskah sebanyak dua alenia yang berisi pemikiran matang itu selesai dibuat. Seperti yang mungkin sudah sering kalian dengar, naskah tulisan tangan Soekarno tersebut diketik oleh Sayuti Melik, kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta. Namun, sebelum melangkah ke prosesi pembacaan, kalian simak dulu sisi lain dari Peristiwa Rengasdengklok berikut ini.

Mengapa naskah dua alenia yang konon hanya dikerjakan dua jam di ruang makan tersebut dikatakan berisi pemikiran yang matang? Pasalnya, cita-cita kemerdekaan Indonesia telah ada sejak lama. Perundingan sudah banyak dilakukan. Sayangnya, tak ada satu pun orang yang sedang menjadi "bidan" untuk kelahiran bangsa tersebut yang membawa teks keputusan PPKI yang telah dipersiapkan sejak lama.

Berkaca pada rangkaian Peristiwa Rengasdengklok tersebut, seorang dokumenter Indonesia bernama Muhidin M Dahlan, menulis tentang mentalitas dokumentasi Indonesia yang dinilai sembrono, untuk Jawa Pos edisi 14 Agustus 2021. Ia menyebut bahwa dua teks itu, Proklamasi dan UUD (Pancasila termasuk di dalamnya), nyaris saja tidak dipunyai akibat keteledoran yang amat parah. Karena tak seorang pun tahu di mana letak calon akta resmi yang sudah disiapkan dalam perundingan sebelumnya, teks harus ditulis ulang. Soekarno mendikte, Hatta mengoreksi, Sayuti Melik mengetiknya.

Mentang-mentang naskah sudah diketik, naskah tulisan tangan Soekarna kemudian dibuang ke keranjang sampah. Untung saja ada seorang jurnalis bernama M. Diah yang mengambil dan menyetrika kertas koyak di keranjang sampah tersebut. Setelah nyaris setengah abad disimpan, akhirnya dokumen penting itu di kembalikan kepada Indonesia.

Setelah itu, barulah pada pukul 10.00 WIB, di halaman rumah Soekarno yang beralamat di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, naskah proklamasi tersebut dibacakan dengan penuh suka-cita. Berita disebar di mana-mana dengan berbagai cara yang inti dari isinya yaitu "MERDEKA! INDONESIA TELAH MERDEKA!"

 

3. Makna Peristiwa Rengasdengklok

Setelah mengetahui kronologi dari peristiwa Rengasdengklok beserta perumusan naskah Proklamasi, tentu kalian wajar jika ada perasaan campur aduk di hati kalian. Kagum karena melihat keberanian para pendiri bangsa, juga rasa heran dengan beberapa sikap yang bisa dikatakan "teledor" dalam hal dokumentasi naskah proklamasi.

Meski begitu, jelas banyak sekali kisah bermakna yang bisa kalian ambil sebagai pelajaran. Pelajaran yang bisa kalian ambil antara lain,

1. Kesigapan pemuda dalam membaca situasi dan memanfaatkannya untuk mendesak golongan tua memproklamasikan kemerdekaan.

2. Kemandirian Indonesia dalam meraih kemerdekaan tanpa menunggu Jepang dan memproklamasikan diri atas nama bangsa Indonesia, bukan PPKI atau lembaga persiapan kemerdekaan bentukan Jepang.

3. Persatuan dua golongan (muda dan tua) meski melewati perundingan yang cukup alot.

Peristiwa Rengasdengklok di atas bisa kalian jadikan sebagai bahan renungan untuk mengingat jasa-jasa pahlawan dan sebagai warga negara Indonesia, sudah selayaknya kalian lanjutkan perjuangannya.

(Sumber: Kemendikbud.go.id, muhidindahlan.radiobuku.com)

 

(kpl/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI