Pernah Diundang NASA, Gomos Manalu Kini Dapatkan Beasiswa ke ITB

Agista Rully | Jum'at, 12 Mei 2017 14:18
Pernah Diundang NASA, Gomos Manalu Kini Dapatkan Beasiswa ke ITB
Facebook.com/Gomos Paruliman Manalu

Kapanlagi.com - Ada sebuah tolak ukur yang digunakan oleh ilmuwan luar negeri untuk menilai tingkat kreatifitas dan inovasi sebuah bangsa. Tolak ukur tersebut adalah Global Innovation Index. Semakin tinggi peringkat suatu negara dalam berinovasi maka kemajuan industri negara tersebut juga semakin baik. Saat ini posisi tertinggi negara paling inovatif masih dipegang oleh negara-negara Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-88 tapi hal tersebut tak berarti bahwa masyarakat Indonesia tidak cerdas. Ada banyak orang cerdas di Indonesia hanya saja jarang diketahui dan diberi kesempatan untuk berkembang. Gomos Parulian Manalu misalnya, mungkin sebagian dari kalian jarang mendengar namanya bukan?

Gomos Manalu, pemuda Medan yang pernah diundang meneliti di NASA dan diterima melalui jalur undangan ITB  berbagai sumberGomos Manalu, pemuda Medan yang pernah diundang meneliti di NASA dan diterima melalui jalur undangan ITB berbagai sumber

Pemuda asal Medan ini telah menorehkan prestasi yang mencengangkan. Bagaimana tidak? Pada Maret 2016, hasil penelitian Gomos bersama rekannya Gilbert Nadapdap yang berjudul Micro-Aerobic Metabolism of The Yeast Saccharomyces Cerevisae in A Microgravity Environment diterbangkan ke luar angkasa oleh NASA. Gomos dan Gilbert merupakan orang Indonesia pertama yang karya penelitiannya dimanfaatkan oleh badan luar angkasa Amerika Serikat tersebut.

Yang lebih mengejutkan lagi, kecerdasan Gomos hanya berbekal buku dan barang bekas yang dikumpulkan sang Ayah. Saat ini, pemuda yang tinggal di Pematang Siantar tersebut telah diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jalur undangan atau jalur tanpa tes. Sayangnya, pemuda yang unggul di mata pelajaran eksakta ini hampir tak bisa melanjutkan semangatnya belajar karena keterbatasan biaya.

Penelitian Gomos jadi penelitian pertama orang Indonesia yang dimanfaatkan oleh NASA di luar angkasa  Facebook.com/Gomos Parulian ManaluPenelitian Gomos jadi penelitian pertama orang Indonesia yang dimanfaatkan oleh NASA di luar angkasa Facebook.com/Gomos Parulian Manalu

"Kendala kami untuk melanjutkan sekolahnya. Sementara dia sudah diterima di ITB, kami kurang biaya. Dan buat ongkos pun sudah tak punya lagi. Harapannya pemerintah bisa membantu anak kami mencapai cita-citanya," ujar sang Ayah, Jesman dikutip dari berbagai sumber. Gomos sendiri bercita-cita untuk mendirikan perusahaan yang mempekerjakan anak-anak Indonesia.

"Cita-cita saya adalah memimpin perusahaan di bidang informatika. Pendidikan harapannya bisa S1 Informatika, S2 harapannya bisa lanjutkan lagi," jelas sulung dari 5 bersaudara ini. Untuk pemuda cerdas dan berpotensi seperti Gomos, kondisi ekonomi keluarganya memang cukup mengharukan. Ibunya hanyalah seorang pedagang roti di terminal, sementara sang Ayah adalah seorang pemulung.

Menurut Gomos, Indonesia harus mengejar ketertinggalan pendidikan dengan menjadi humble dalam berbagi ilmu  Facebook.com/Gomos Parulian ManaluMenurut Gomos, Indonesia harus mengejar ketertinggalan pendidikan dengan menjadi humble dalam berbagi ilmu Facebook.com/Gomos Parulian Manalu

Beruntung kegalauan keluarga Gomos segera diatasi oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun. Jadi Gomos tak perlu mengkhawatirkan lagi masalah biaya akomodasi dan juga uang saku selama menimba ilmu di Bandung. Mendapatkan kesempatan emas seperti ini, Gomos semakin merasa terpacu.

"Semakin terpacu karena sudah tertanam dalam hatiku, aku ingin memperjuangkan kepedulian mereka yang sudah membantu aku, sekolah, dan juga orangtuaku," tutupnya.

(kpl/agt)




LATEST UPDATE




REKOMENDASI