Punya Konten Lokal, EMTEK Optimis Vidio Bisa Bersaing di Tengah Gempuran Layanan OTT Global

Rabu, 28 September 2022 20:22
Punya Konten Lokal, EMTEK Optimis Vidio Bisa Bersaing di Tengah Gempuran Layanan OTT Global
Sutanto Hartono. ©screen capture APOS Summit 2022


Kapanlagi Plus - Memiliki layanan berbeda dari OTT (over the top) lainnya, Vidio optimis bisa bersaing dengan gempuran OTT global yang kini merambah Indonesia. Berdiri sejak tahun 2014 lalu, kini Vidio sudah memiliki puluhan juta pelanggan.

Tidak hanya menayangkan acara hiburan, Vidio juga mempunyai konten olahraga. Selain itu banyak konten lokal yang tak dimiliki oleh OTT lain yang membuat keberadaan Vidio ditunggu oleh para penonton.

Managing Director EMTEK dan CEO Vidio, Sutanto Hartono menyampaikan pihaknya memang telah mengantisipasi masuknya pemain global ke Indonesia. Namun menurutnya, masyarakat akan tetap membutuhkan lebih dari satu layanan OTT dan ingin menyaksikan konten yang beragam. Dengan kekuatan yang dimiliki Vidio itu, pihaknya yakin bisa bersaing dengan OTT global lainnya seperti Netflix, Amazon Prime Video, Disney Hotstar, dan lainnya.

"Jadi kami percaya kami punya kekuatan yang mana kami menggabungkan konten TV, sport, dan drama," jelasnya saat menjadi pembicara dalam KTT APOS yang diselenggarakan Media Partners Asia (MPA) di Singapura, Rabu (28/9).

1. Lokal Sangat Penting

Vidio berkomitmen untuk menyajikan lebih banyak serial drama lokal. Sejak dihadirkan pada tahun 2020, Vidio sudah memiliki puluhan judul drama dan menargetkan 37 judul pada akhir 2022 ini.

"Orang-orang akan datang ke kami secara reguler dan lebih sering. Konten lokal sangat penting, termasuk sport. Itulah kekuatan kami, ujar Sutanto.

Dalam KTT yang dihadiri pemimpin media digital dari berbagai negara tersebut, Sutanto menyampaikan awal berdirinya Vidio, yang didorong oleh keberhasilan EMTEK dalam bisnis medianya. "Kami mendirikan Vidio pada 2014, awalnya sederhana karena kami berhasil dalam bisnis penerbitan, portal berita, dan lainnya, jadi kami pikir kami kuat dalam industri televisi dan kami ingin menciptakan ekosistem untuk menempatkan kanal-kanal kami termasuk konten televisi, itulah awalnya," paparnya.

2. Time Spent Terbanyak

Kini Vidio ditetapkan sebagai OTT terbesar dalam hal time spent atau waktu yang dihabiskan terbanyak. Selain itu pertumbuhan subscription atau langganan juga meningkat pesa.

Media Partner Asia juga menilai Vidio merupakan OTT yang pertumbuhannya cukup baik, tidak hanya di Indonesua tapi Asia Tenggara. "Pertumbuhan subscription awalnya datang dari sport karena kami percaya sport itu memunculkan kebiasaan orang mau membayar. Di Indonesia, subscription habit tidak begitu bagus jadi kami fokus menawarkan konten sport kami," jelas Sutanto.

"Setelah itu kami bergeser ke local content. Local content is the king in Indonesia, jadi kami mengakomodasi untuk menjadi produser konten terbesar di negara kami, dan kami memilih condong ke series daripada film," lanjutnya.

3. Jaringan Internet Belum Merata

Pelanggan terbesar Vidio saat ini tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tapi juga dari sejumlah daerah di Indonesia. Namun demikian, perluasan pelanggan ini memiliki tantangan sendiri, salah satunya ketersediaan infrastruktur jaringan internet yang masih terbatas di sejumlah daerah.

"Kami ingin memastikan drama-drama kami lebih baik dari apa yang mereka lihat setiap hari di televisi. Jadi kami beruntung dalam situasi itu karena drama lokal (sinetron) kami di TV biasanya lebih lama bahkan sampai ratusan episode, dan kami memperpendeknya menjadi delapan sampai 10 episode. Kami memang mengeluarkan anggaran lebih besar, mungkin tiga sampai lima kali lebih besar dari tipikal drama televisi (sinetron) dan ternyata lebih bagus," jelasnya.

(mer/phi)



MORE STORIES




REKOMENDASI