Teater Sastra UI Sajikan Pagelaran Drama 'Komedi Lurah Koplak', Gambarkan Potret Kondisi Demokrasi Indonesia Saat Ini
Drama 'Komedi Lurah Koplak: Lingsir, Lungsur, Longsor' (Credit Foto: Dokumentasi Pribadi)
Kapanlagi.com - Teater Sastra Universitas Indonesia (UI) belum lama ini genap berusia ke-39 tahun. Untuk merayakan momen tersebut, sebuah pagelaran drama spesial pun disajikan dengan judul 'Komedi Lurah Koplak: Lingsir, Lungsur, Longsor'. Acara ini digelar di Auditorium Gd. IX FIB UI, Kampus UI, Depok pada Kamis (14/12) malam.
Pagelaran drama ini mengangkat tema politik yang mana saat ini gejolak politik tengah memanas karena persaingan antara ke-3 Capres dan Cawapres yang bakal maju di tahun 2024 mendatang. Lewat penjungkirbalikan logika dan pengungkapan sisi buruk kemanusiaan, pementasan ini mengajak publik menertawakan diri sendiri sambil mengkritisi berbagai praktik penyimpangan di sekitar yang sering dianggap wajar.
Mengambil latar desa Watu Koplak, pagelaran drama yang dibalut komedi satire ini berkisah seorang Lurah desa yang sibuk cawe-cawe menyiapkan penerus demi memastikan kelanjutan program kerja yang belum selesai dengan berbagai cara, termasuk dengan politik uang. Di produksi ke-399 ini, Teater Sastra UI juga mengkritisi praktik sang Lurah yang menutupi kasus-kasus korupsi dan kolusi yang melibatkannya, sekaligus melanggengkan kerjasama terselubungnya dengan kelompok pengusaha lokal yang selama ini
menjadi penyandang dananya.
Advertisement
Untuk melanggengkan kekuasaannya, sang Lurah memilih sang Sekdes yang telah uzur dan sakit-sakitan, dengan syarat ia harus mengangkat anak Lurah, yang baru tamat SMA sebagai Sekdes berikutnya. Demi mengakomodir kepentingan sang Lurah, ia beserta kroni dan kerabatnya mengubah aturan.
"Lurah Koplak ini sendiri adalah personifikasi pemimpin yang menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaannya," beber Yudhi Soenarto, sang sutradara pagelaran drama ini.
1. Singgung Politik 'Berbayar'
Pesan yang ingin disampaikan dalam pagelaran drama ini, imbuh Yudhi, ada masalah dalam penyelenggaraan demokrasi di Indonesia, di mana penyelenggaraannya masih 'berbayar'.
"Padahal seharusnya tidak begitu, jika 'berbayar' itu bukan demokrasi tapi berdagang namanya," tandasnya.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
2. Terinspirasi dari Fenomena Demokrasi Saat Ini
Soal ide cerita, pria yang juga pendiri Teater Sastra UI ini menyebut, terinspirasi dari fenomena demokrasi yang terjadi di sekeliling masyarakat. Ia pun punya harapan, pagelaran ini bisa membuat publik paham jika pelaksanaan demokrasi yang benar adalah bukan dengan cara bagi-bagi uang.
"Walau memang tak mudah untuk mengubah budaya itu karena sudah puluhan tahun terjadi. Tapi setidaknya bisa menjadi masukan bagi publik, kalau masih ada yang bagi-bagi duit, ambil duitnya tapi pilih sesuai hati nurani," tandas anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini.
Ke depannya, kelompok teater berbasis kampus yang anggotanya terdiri atas mahasiswa, pengajar dan alumni UI ini akan tetap konsisten memproduksi pertunjukan teater aktual, kritis dan berkelas.
(Di usia pernikahan 29 tahun, Atalia Praratya gugat cerai Ridwan Kamil.)
(kpl/gtr)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba