Diterbitkan:
Tradisi Nyedengin sudah ada sejak zaman dahulu di kalangan masyarakat Betawi. Kata Nyedengin berasal dari bahasa Betawi yang berarti mengukur. Dalam konteks perayaan Lebaran, Nyedengin merujuk pada kebiasaan mengukur dan menjahit pakaian baru sebelum Hari Raya tiba.
Pada masa lalu, pusat perbelanjaan belum sepopuler sekarang, sehingga pakaian baru untuk Lebaran hampir selalu dibuat di tukang jahit. Biasanya, tradisi ini dimulai pada 10 hari terakhir Ramadan, ketika orang tua membawa anak-anak mereka ke tukang jahit langganan untuk mengukur badan dan memilih model pakaian.
Pengamat budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, menyebutkan bahwa Nyedengin bukan hanya soal membuat pakaian baru, tetapi juga mencerminkan budaya masyarakat Betawi yang penuh dengan nilai kebersamaan dan persiapan untuk menyambut hari besar dengan sebaik mungkin. Lalu, bagaimana kisah tradisi ini? Simak informasi selengkapnya yang dirangkum Kapanlagi.com berikut ini.
Advertisement
Menurut laman kebudayaanbetawi.com, tradisi Nyedengin sudah ada sejak zaman dahulu di kalangan masyarakat Betawi. Kata Nyedengin yang berarti mengukur, dalam konteks Lebaran merujuk pada kebiasaan mengukur dan menjahit pakaian baru menjelang Hari Raya.
Pada zaman dulu, pusat perbelanjaan belum semaju sekarang, sehingga pakaian baru untuk Lebaran hampir selalu dibuat di tukang jahit. Proses ini umumnya dimulai pada 10 hari terakhir Ramadan, di mana orang tua membawa anak-anak mereka ke tukang jahit langganan untuk mengukur badan dan memilih model pakaian yang diinginkan.
Pengamat budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, mengungkapkan bahwa Nyedengin lebih dari sekadar membuat pakaian baru. Tradisi ini menggambarkan kebersamaan dalam masyarakat Betawi dan persiapan untuk menyambut hari besar dengan penuh kesungguhan.
Yahya mengenang, “Kami yang berumur di bawah 15 tahun dibuatkan baju tangan pendek dan celana pendek. Sementara abang-abang yang sudah sekolah PGA dan SMEA dibuatkan celana ulur (celana panjang) dan baju tangan panjang,” ujarnya, seperti yang dilansir dari Merdeka.com.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
Setelah proses Nyedengin selesai, baju yang sudah dijahit akan dikenakan pada pagi hari Idul Fitri. Masyarakat Betawi meyakini bahwa mengenakan pakaian baru saat hari kemenangan adalah simbol menyambut Idul Fitri dengan penuh kebersihan, baik secara lahir maupun batin.
Anak-anak yang sudah mendapatkan pakaian baru akan mengenakannya saat berangkat sholat Id di masjid atau lapangan. Biasanya, pakaian mereka berupa baju tangan pendek dan celana pendek bagi anak kecil, sementara remaja akan mengenakan kemeja tangan panjang dan celana panjang.
Pakaian baru ini juga menjadi simbol kebanggaan bagi mereka yang telah menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh. Selain untuk sholat Id, baju ini juga digunakan saat bersilaturahmi ke rumah keluarga dan tetangga, yang mencerminkan rasa hormat dalam perayaan Hari Raya. Yahya menambahkan, "Bagi anak kampung dari keluarga biasa, mengganti dan memakai baju baru hanya dimungkinkan pada saat hari Lebaran."
Advertisement
Pakaian yang dikenakan saat Lebaran tidak dibeli langsung, melainkan dibuat oleh tukang jahit langganan. Biasanya, kain untuk baju akan dibeli di pasar beberapa minggu sebelum Ramadan, lalu dibawa ke tukang jahit untuk diukur dan dijahit sesuai dengan ukuran tubuh masing-masing.
Pada saat proses Nyedengin, tukang jahit akan mengukur panjang dan lebar tubuh pemesan untuk memastikan baju yang dibuat pas dikenakan. Beberapa model pakaian yang sering dipesan adalah baju koko (sadariah), gamis, baju safari, dan celana panjang ulur.
Keterampilan tukang jahit sangat menentukan hasil akhir pakaian. Oleh karena itu, banyak keluarga yang memiliki tukang jahit langganan yang sudah dipercaya karena kualitas jahitannya. Proses ini sering kali menjadi pengalaman menyenangkan bagi anak-anak, karena mereka dapat memilih model baju dan melihat langsung bagaimana pakaian mereka dibuat.
“Oleh karena itu, setelah puasa masuk hari ke-10 (banyak yang sudah mengukur sejak awal puasa), saya diajak Babe ngukur ke tukang jahit,” tambahnya.
Karena banyaknya pesanan yang harus diselesaikan, tukang jahit sering kali baru menyelesaikan pekerjaannya pada malam takbiran. Momen ini menjadi saat yang mendebarkan bagi anak-anak karena mereka akan melihat hasil baju yang sudah jadi.
Banyak keluarga Betawi yang baru mengambil pakaian mereka setelah sholat tarawih terakhir pada malam takbiran. Jika ada kekurangan dalam jahitan atau ukuran yang kurang pas, tukang jahit biasanya langsung melakukan perbaikan agar bisa digunakan keesokan paginya.
Pengalaman mengambil baju di malam takbiran menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat Betawi zaman dulu. Suasana sibuk di rumah, suara takbir yang menggema, dan kegembiraan menyambut Lebaran menjadikan tradisi Nyedengin semakin terasa istimewa.
“Pernah sekali waktu kami diajak ngukur seminggu menjelang Lebaran. Hati berdebar karena baju kelar dijahit malam takbiran,” kata Yahya, mengenang.
Salah satu ciri khas baju hasil Nyedengin adalah ukurannya yang gedombrangan, alias dibuat lebih besar dari ukuran tubuh pemakainya. Hal ini dilakukan dengan tujuan kepraktisan dan ekonomi.
Pada zaman dahulu, membeli baju baru setiap tahun bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, orang tua sengaja meminta tukang jahit untuk membuat baju dengan ukuran yang sedikit lebih besar agar bisa digunakan selama beberapa tahun ke depan.
Selain itu, anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan membutuhkan pakaian yang bisa tetap muat meskipun mereka bertambah besar. Dengan strategi ini, pakaian Lebaran bisa dipakai lebih lama, sehingga lebih hemat dan tetap nyaman dipakai.
1. Apa itu tradisi Nyedenginbaju?
Nyedengin adalah tradisi masyarakat Betawi dalam menjahit baju baru untuk Lebaran dengan mengukur badan di tukang jahit sebelum Hari Raya.
2. Mengapa orang Betawi zaman dulu menjahit baju Lebaran?
Karena pada masa itu, pusat perbelanjaan belum berkembang seperti sekarang, sehingga pakaian Lebaran lebih sering dibuat sendiri dengan kain yang dijahit oleh tukang jahit langganan.
3. Kapan waktu yang tepat untuk Nyedengin baju?
Tradisi ini biasanya dilakukan 10 hari terakhir Ramadan, agar baju bisa selesai tepat waktu sebelum Lebaran.
4. Mengapa baju hasil Nyedengin dibuat lebih besar dari ukuran asli?
Agar pakaian bisa digunakan dalam jangka waktu lebih lama, terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
5. Apakah tradisi Nyedengin baju masih ada hingga sekarang?
Saat ini, tradisi Nyedengin mulai berkurang karena banyak orang lebih memilih membeli pakaian jadi di pusat perbelanjaan, meskipun beberapa keluarga masih mempertahankan kebiasaan ini.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
(kpl/rmt)
Advertisement
Resep Praktis dan Sat Set Membuat Seblak Komplet, Sederhana Tapi Menggugah Selera
Bingung Lebaran Mau Liburan Kemana? Ini 10 Rekomendasi Wisata Pantai Indah di Malang yang Cocok Dikunjungi
Biar Tak Melulu Pamer Jempol, Ini 8 Rekomendasi Pose dan Gaya Foto Lebaran yang Keren untuk Bapak-Bapak
Etika Bertamu Saat Lebaran yang Perlu Diterapkan Menurut Ajaran Islam
Jadikan Momen Rayamu Lebih Berkesan, Ini Rekomendasi Gaya Foto Keluarga Saat Lebaran Agar Tidak Gitu-Gitu Saja