Tren Unik, Warga Papua Nugini Lagi Gandrung Permainan Tradisional Indonesia

Minggu, 16 Juni 2019 12:36 Penulis: Iwan Tantomi
Tren Unik, Warga Papua Nugini Lagi Gandrung Permainan Tradisional Indonesia
© shutterstock

Kapanlagi Plus - Bukan rahasia baru jika Indonesia amat kaya dengan budaya. Tak hanya hadir dalam bentuk upacara adat, tetapi tradisi khas juga hadir dalam wujud permainan tradisional. Uniknya lagi, masing-masing daerah ternyata memiliki jenis permainan tradisional yang berbeda. Lantas apa jadinya jika permainan tradisional ini diperkenalkan ke masyarakat Papua Nugini?

Keseruan itulah yang terjadi di hari kedua Festival Crossborder Sota 2019, Sabtu (15/6). Ada tiga permainan tradisional Indonesia yang diperkenalkan. Pertama tarik tambang, kemudian lomba bakiak berisi 4 orang, dan lomba lari dengan batok kelapa.

Kegembiraan langsung terpancar dari pengunjung festival, khususnya yang berasal dari Papua Nugini. Sebab, permainan yang dihadirkan belum pernah mereka lihat sebelumnya, utamanya lomba bakiak dan lari dengan batok kelapa.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Muh Ricky Fauziyani mengatakan permainan menjadi bagian dari strategi untuk mendatangkan wisatawan Papua Nugini.

"Berbagai treatment memang harus dilakukan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat Papua Nugini. Salah satu yang kita tampilkan adalah permainan tradisional. Dan terbukti permainan ini bisa menarik perhatian wisatawan Papua Nugini," paparnya.

Suasana seru tercipta di lomba bakiak. Satu tim yang terdiri dari empat orang, membuat peserta asal Papua Nugini kerepotan. Namun, di situlah keseruan tercipta. Alih-alih berjalan, para peserta malah terjatuh. Mereka kesulitan menggerakkan kaki bersama-sama.

"Dalam permainan, kita mengajak masyarakat untuk memperkuat kebersamaan. Mereka yang kompak, pasti memenangkan lomba. Karena tantangan sesungguhnya ada di situ. Tapi suasana yang tercipta benar-benar meriah. Ada kegembiraan di sana," katanya.

Selain permainan tradisional, hari kedua Festival Crossborder Sota 2019 juga dibuat seru oleh aksi Maro Band, dan Bremer Band. Mereka sukses membuat seluruh pengunjung bergoyang. Berkali-kali mereka menghadirkan musik berirama beat dan reggae. Dua genre yang sangat digemari di sana.

Ada juga lagu-lagu dari Papua Nugini yang dibawakan. Strategi ini sukses membuat wisatawan Papua Nugini mendekat ke panggung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, memberikan acungan jempol untuk strategi yang diterapkan di Festival Crossborder Sota 2019.

"Luar biasa. Karena wisatawan asal Papua Nugini juga diajak menikmati budaya Indonesia. Budaya dalam bentuk games. Ini bukan hanya memberikan kegembiraan, tapi juga memperkenalkan budaya kita. Sukses buat Festival Crossborder Sota," tutur mantan Dirut PT Telkom itu.

(*/tmi)

Reporter:

Iwan Tantomi



MORE STORIES




REKOMENDASI