10 Pelatih Timnas Tertua dan Termuda di Festival Bola Dunia 2026, Bukti Sepak Bola Tak Mengenal Batas Usia
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni. (AFP/Juan Mabromata)
Kapanlagi.com - Ketika kamera menyorot para pemain yang berebut bola, ada sosok lain yang diam-diam menentukan arah pertandingan dari balik garis tepi lapangan. Mereka tidak mencetak gol, tidak melakukan penyelamatan gemilang, tetapi satu keputusan kecil dari bangku pelatih bisa mengubah nasib sebuah timnas.
Menariknya, Festival Bola Dunia 2026 mempertemukan dua generasi yang sangat kontras. Ada pelatih yang usianya hampir 80 tahun dan sudah melewati ribuan pertandingan, tetapi ada pula juru taktik yang bahkan belum genap berusia 40 tahun.
Perbedaan usia mereka nyaris empat dekade, tetapi tujuan mereka sama yakni membawa negaranya meraih kejayaan.
Advertisement
Siapa saja mereka? Yuk, kenalan lebih dekat, KLovers!
1. Dick Advocaat - Usia 78 Tahun
Meski usianya mendekati 80 tahun, semangat Dick Advocaat sebagai pelatih Curacao di pinggir lapangan masih sama seperti saat pertama kali menjadi pelatih puluhan tahun lalu. Pengalamannya menangani berbagai klub dan tim nasional membuat sosok berjuluk The Little General itu tetap menjadi salah satu figur paling disegani di dunia sepak bola.
(Untuk pertama kalinya, Tom Holland konfirmasi pernikahannya dengan Zendaya.)
2. Miroslav Koubek - Usia 75 Tahun
Miroslav Koubek dikenal sebagai pelatih yang lebih suka bekerja dalam senyap. Ia bukan tipe pelatih yang gemar menjadi pusat perhatian, tetapi kemampuannya membangun organisasi permainan membuatnya dihormati selama puluhan tahun di sepak bola Ceko.
3. Hugo Broos - Usia 74 Tahun
Pengalaman panjang di sepak bola Afrika Selatan membuat Hugo Broos memahami karakter pemain di benua tersebut. Ia dikenal dekat dengan pemain, tetapi tetap tegas ketika mengambil keputusan penting.
4. Carlos Queiroz - Usia 73 Tahun
Dari Real Madrid hingga Manchester United, dari Portugal hingga Ghana, jejak Carlos Queiroz tersebar di berbagai penjuru dunia. Tak banyak pelatih yang memiliki pengalaman internasional seluas dirinya.
5. Marcelo Bielsa - Usia 71 Tahun
Meski koleksi trofinya tidak sebanyak pelatih lain, pengaruh Marcelo Bielsa jauh melampaui lemari penghargaan. Filosofi sepak bolanya menginspirasi Pep Guardiola, Mauricio Pochettino, Diego Simeone hingga banyak pelatih generasi baru.
Kalau para pelatih senior mengandalkan pengalaman, generasi muda hadir dengan keberanian bereksperimen. Mereka tumbuh di era video analysis, artificial intelligence, hingga data statistik yang semakin detail.
6. Julian Nagelsmann - Usia 39 Tahun
Cedera membuat Julian Nagelsmann harus mengakhiri mimpi sebagai pemain profesional. Namun dari situlah lahir salah satu pelatih paling inovatif di Eropa dan Jerman. Ia dikenal gemar memanfaatkan video analysis, data statistik, hingga pendekatan taktik yang sangat modern.
7. Emerse Fae - Usia 41 Tahun
Karier kepelatihan Emerse Fae berkembang sangat cepat. Dari asisten pelatih, ia dipercaya memimpin Pantai Gading dan langsung menghadirkan atmosfer baru berkat hubungan yang dekat dengan para pemain.
8. Pape Thiaw - Usia 44 Tahun
Sebagai mantan penyerang Senegal, Pape Thiaw memahami bagaimana rasanya mengenakan seragam tim nasional. Pengalaman itu membuat pendekatannya terasa lebih personal sehingga para pemain mudah membangun kepercayaan kepadanya.
9. Sebastian Beccacece - Usia 45 Tahun
Murid Jorge Sampaoli ini dikenal berani memberi kesempatan kepada pemain muda Ekuador. Energinya yang tinggi di pinggir lapangan membuatnya menjadi salah satu pelatih paling ekspresif dari Amerika Selatan.
10. Lionel Scaloni - Usia 48 Tahun
Keberhasilan Lionel Scaloni membawa Argentina kembali menjadi kekuatan utama sepak bola dunia membuat namanya kini sejajar dengan pelatih-pelatih terbaik generasinya. Di usia yang belum genap 50 tahun, ia sudah memiliki pencapaian yang diimpikan banyak pelatih sepanjang karier mereka.
Melihat daftar ini, satu hal menjadi sangat jelas, tidak ada usia yang benar-benar ideal untuk menjadi pelatih hebat. Ada yang membangun karier lewat pengalaman selama puluhan tahun, ada pula yang datang membawa keberanian, teknologi, dan cara berpikir baru.
Di dunia sepak bola, rambut yang mulai memutih bukan jaminan selalu lebih bijak. Sebaliknya, usia muda juga bukan berarti minim kepemimpinan. Yang membedakan mereka justru kemampuan membaca pertandingan, memahami karakter pemain, dan mengambil keputusan dalam hitungan detik ketika tekanan sedang berada di puncaknya.
Kalau menurut KLovers, kamu lebih menyukai pelatih berpengalaman yang mengandalkan insting, atau juru taktik muda dengan pendekatan modern dan penuh inovasi?
(Rizky Billar polisikan enam akun sosial media terkait hoaks cerai dan perselingkuhan.)
(kpl/gil)
Advertisement
