7 Tradisi Unik Lebaran Khas Papua, Mulai dari Salam Rebana hingga Bikin Kue Lontar

Penulis: Ricka Milla Suatin

Diterbitkan:

7 Tradisi Unik Lebaran Khas Papua, Mulai dari Salam Rebana hingga Bikin Kue Lontar
Ilustrasi Sholat Idul Fitri (Credit: Pexels)
Kapanlagi.com -

Lebaran di Papua bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga merupakan momen spesial yang kaya akan tradisi lokal dengan makna mendalam. Setiap tahun, masyarakat Papua menyelenggarakan berbagai kegiatan unik yang melibatkan budaya, kepercayaan, dan nilai kebersamaan yang sangat kuat. Salah satu yang paling menarik adalah berbagai tradisi yang dilakukan selama perayaan Idul Fitri, yang mencerminkan betapa keberagaman budaya dan agama di Papua dapat hidup berdampingan dalam keharmonisan.

Di Papua, masyarakat tidak hanya merayakan Lebaran dengan ibadah dan pertemuan keluarga, tetapi juga dengan tradisi yang melibatkan silaturahmi antar umat beragama, berbagi kebahagiaan, dan menjaga kearifan lokal. Dari tradisi salam rebana yang meriah hingga pembuatan kue lontar khas, semua ritual tersebut mencerminkan semangat kebersamaan yang terus dilestarikan. Keunikan-keunikan ini menjadikan Lebaran di Papua semakin istimewa.

Mari kita pelajari lebih lanjut mengenai tujuh tradisi khas Lebaran di Papua yang menarik untuk diketahui, serta bagaimana tradisi-tradisi tersebut terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Papua. Artikel ini dirangkum oleh Kapanlagi.com dari berbagai sumber pada Senin (31/3).

1. Silaturahmi Rebana: Meriahkan Lebaran dengan Musik dan Kunjungan

Silaturahmi Rebana adalah tradisi unik yang dilakukan oleh pemuda Muslim di Abepantai, Jayapura, Papua. Pada Hari Raya Idul Fitri, para pemuda ini mengunjungi rumah warga sambil mengiringi kunjungan mereka dengan musik rebana sebagai simbol saling memaafkan. Kegiatan ini diadakan pada hari pertama hingga kedua Lebaran dan melibatkan sekitar 50 pemuda yang berkeliling desa, membawa nuansa keceriaan dan kebersamaan. Tradisi ini bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk penguatan hubungan antar sesama warga.

Para pemuda yang terlibat dalam tradisi ini mengunjungi rumah-rumah sanak saudara dan tokoh masyarakat sambil melantunkan musik rebana. Aktivitas ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Abepantai yang dirayakan setiap tahunnya.

Masyarakat pun menyambut antusias kehadiran para pemuda ini, bahkan banyak yang mengabadikan momen tersebut sebagai kenang-kenangan. Menurut Rizky Waroy, koordinator kegiatan, silaturahmi rebana adalah tradisi yang perlu dilestarikan agar tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Abepantai.

"Tradisi ini kami laksanakan setiap tahun dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri dan pemuda masjid Abepantai sangat antusias dalam kegiatan ini," ujar Ketua Remaja Masjid Abepantai, Rizky Waroy, mengutip ANTARA.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

2. Tradisi Peta (Pegang Tangan): Menjaga Kerukunan Antarumat Beragama

Tradisi Peta, yang berarti "Pegang Tangan," adalah tradisi yang dilakukan di Biak Numfor dan beberapa daerah lainnya di Papua. Saat Lebaran, umat Muslim dan non-Muslim saling mengunjungi rumah satu sama lain untuk mengucapkan selamat hari raya.

Tradisi ini sangat sederhana, namun bermakna besar karena menampilkan kedekatan antar umat beragama yang saling menghormati. Anak-anak maupun orang dewasa berpartisipasi dalam saling berjabat tangan dan berbagi makanan ringan.

Peta menjadi bukti nyata betapa pentingnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Papua. Semua orang, tanpa memandang agama, berpartisipasi dalam tradisi ini, mempererat ikatan sosial dan membangun rasa kebersamaan. Dengan berbagi ucapan selamat dan makanan, masyarakat di Papua menunjukkan bahwa agama tidak menjadi penghalang dalam mempererat hubungan antar sesama.

“Mungkin kalau di tempat lain ada juga tradisi seperti ini, tapi di Biak ini sangat unik dan Peta merupakan sebuah tradisi silaturahmi antara Muslim dan non-Muslim ataupun sebaliknya berkunjung di hari besar keagamaan, dan saya cukup salut dengan tradisi seperti ini,” ujar warga di sana, Bela, mengutip RRI.

3. Membuat Kue Lontar: Sajian Spesial untuk Lebaran

Kue lontar adalah sajian khas yang sangat populer di Papua saat Lebaran. Terbuat dari tepung sagu, kue lontar biasanya dimasak dengan cara dikukus, menghasilkan tekstur kenyal dan lezat.

Kue ini memiliki rasa manis dan sering kali dihidangkan sebagai hidangan penutup di meja makan. Proses pembuatannya melibatkan masyarakat setempat, dengan resep turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Kue lontar bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam budaya Papua. Penyajian kue ini saat Lebaran melambangkan rasa syukur dan kebersamaan. Biasanya, lontar dibagikan kepada tamu yang datang berkunjung, menjadi bentuk perayaan bersama. Dengan cita rasa khas, kue lontar menjadi sajian yang sangat dinantikan saat Lebaran di Papua.

4. Hadrat di Kaimana: Pawai Meriah dengan Salawat dan Musik Tradisional

Tradisi Hadrat adalah pawai meriah yang biasanya dilaksanakan di Kaimana, Papua Barat, dan juga di Jayapura. Pawai ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik yang beragama Islam maupun non-Muslim. Diiringi oleh musik tradisional seperti kendang, tifa, dan rebana, peserta pawai melantunkan salawat sambil berkeliling dan bersilaturahmi. Suasana yang tercipta sangat harmonis, menunjukkan betapa toleransi antar agama di Papua begitu kuat.

Pawai Hadrat bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan dan moderasi beragama di Papua. Peserta dari berbagai latar belakang agama merayakan Lebaran dengan penuh sukacita, memperlihatkan bagaimana perbedaan tidak menghalangi terciptanya suasana damai dan penuh keharmonisan. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri di wilayah tersebut.

5. Tradisi Bakar Batu Halal: Masak Bersama dengan Cara Tradisional

Tradisi Bakar Batu adalah cara memasak khas Papua yang juga diadaptasi oleh umat Muslim di Papua. Meskipun Bakar Batu biasanya melibatkan daging babi, umat Muslim menggantinya dengan ayam atau hewan halal lainnya untuk memenuhi syarat syariat Islam. Proses memasak dengan membakar batu dan menguburnya dalam tanah tetap dipertahankan, menghasilkan rasa makanan yang khas dan lezat.

Bakar Batu Halal ini bukan hanya sebagai cara memasak, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga dan masyarakat. Semua orang berkumpul untuk membantu proses memasak dan menikmati hidangan bersama-sama. Dengan menggunakan cara tradisional ini, masyarakat Papua tetap menjaga kearifan lokal sambil menghormati syariat agama.

6. Tradisi Ziarah Kubur Bersama: Doa dan Refleksi Setelah Shalat Id

Ziarah kubur bersama adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Papua setelah Shalat Idul Fitri. Keluarga-keluarga mengunjungi makam leluhur mereka untuk mendoakan arwah mereka dan membersihkan makam. Momen ini sangat khidmat dan memberikan kesempatan untuk merefleksikan makna hidup dan kematian. Ziarah kubur bersama menjadi cara masyarakat Papua untuk menghormati leluhur dan memperkuat ikatan keluarga.

Selain itu, tradisi ini juga memiliki nilai spiritual yang mendalam, mengingatkan umat untuk selalu mengingat kehidupan setelah mati. Ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul, berdoa bersama, dan menjaga hubungan yang lebih erat dengan leluhur mereka. Tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga koneksi spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

7. Berbagi dengan Tetangga: Membuka Pintu untuk Semua

Tradisi berbagi makanan dengan tetangga adalah bentuk kebersamaan yang dijalankan oleh umat Muslim di Papua. Saat Lebaran, rumah-rumah umat Muslim selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama. Makanan khas Lebaran, seperti ketupat dan opor ayam, dibagikan kepada tetangga, termasuk yang bukan Muslim, sebagai simbol saling menghormati dan berbagi kebahagiaan.

Tradisi ini menjadi salah satu cara terbaik untuk mempererat hubungan antar tetangga, menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat, dan menjaga kerukunan dalam masyarakat. Dengan saling memberi, umat Muslim di Papua tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga memperlihatkan semangat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.

8. FAQ

1. Apa itu tradisi silaturahmi rebana di Papua?

Silaturahmi rebana adalah tradisi yang dilakukan oleh pemuda Muslim di Abepantai, Jayapura, di mana mereka mengunjungi rumah warga sambil mengiringi dengan musik rebana sebagai bentuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.

2. Apa yang dimaksud dengan tradisi Peta di Papua?

Peta atau Pegang Tangan adalah tradisi di Biak Numfor yang melibatkan umat Muslim dan non-Muslim untuk saling berjabat tangan dan berbagi makanan saat Lebaran, sebagai simbol toleransi antarumat beragama.

3. Apa itu tradisi Bakar Batu Halal di Papua?

Tradisi Bakar Batu Halal adalah cara memasak tradisional dengan memanaskan batu dan menguburnya untuk memasak makanan. Umat Muslim di Papua mengganti daging babi dengan ayam atau daging halal lainnya, menjaga kearifan lokal sesuai dengan syariat Islam.

4. Mengapa tradisi ziarah kubur bersama penting di Papua?

Ziarah kubur bersama adalah tradisi di Papua yang dilakukan setelah Shalat Idul Fitri, di mana keluarga mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan dan membersihkan makam, memperkuat ikatan keluarga, dan mengingat kehidupan setelah mati.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

(kpl/rmt)