Apa Itu Klitih Adalah Aksi Kriminal Jalanan di Yogyakarta, Ketahui Asal-usul dan Bedanya dengan Tawuran - Begal

Selasa, 12 April 2022 13:44
Apa Itu Klitih Adalah Aksi Kriminal Jalanan di Yogyakarta, Ketahui Asal-usul dan Bedanya dengan Tawuran - Begal
Ilustrasi (Credit: Unsplash)


Kapanlagi Plus - Kasus kriminal berupa kekerasan di jalanan yang terjadi di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu kembali memicu kekhawatiran publik. Istilah klitih pun jadi topik hangat dalam perbincangan di media sosial. Lalu, apa sih arti klitih sebenarnya?

Banyak orang yang penasaran dengan apa itu klitih, terutama orang yang tinggal jauh dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Hal itu membuat kebanyakan orang mengira bahwa klitih sama dengan tawuran atau pembegalan karena sama-sama terjadi di jalanan.

Padahal, arti klitih, tawuran, dan pembegalan itu berbeda. Motif dari tiga kejahatan tersebut tak sama. Nah, jika kalian penasaran dengan apa arti klitih Jogja, silakan simak informasinya berikut ini.

 

 

 

1. Arti Klitih

Setelah kasus aksi kriminal jalanan di Yogyakarta viral di media sosial, istilah klitih kembali menjadi perhatian masyarakat. Sebenarnya, kasus ini tak hanya terjadi di Yogyakarta, tapi juga kawasan sekitarnya, seperti Magelang dan Semarang. Setelah fenomena ini menjadi isu nasional, orang yang tinggal jauh dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah pun penasaran dengan arti klitih.

Berdasarkan beberapa kasus yang telah terjadi, klitih dapat dipahami sebagai aksi kriminal jalanan yang terjadi di DIY dan sekitarnya. Aksi ini dilakukan oleh para pemuda yang menyakiti pengendara lain saat malam hari. Targetnya pun cenderung random. Biasanya korban adalah orang yang kebetulan melintas di jalan sepi saat malam hari. Selanjutnya, para pelaku melakukan perundungan secara fisik menggunakan senjata tajam, bisa dengan pisau, silet, celurit, dan lain sebagainya. Karena siksaan tersebut, korban bisa menderita luka yang cukup parah bahkan ada yang meninggal dunia.

 

 

 

2. Asal-Usul Klitih

Meskipun sekarang aksi klitih identik dengan kekerasan, sebenarnya asal-usulnya jauh dari kesan tersebut. Awalnya, klitih merupakan istilah yang digunakan masyarakat DIY untuk menyebut aktivitas keluar rumah untuk berkeliling dan mengisi waktu luang tanpa tujuan yang jelas. Dalam hal ini, klitih sebenarnya sama dengan aktivitas lain yang bertujuan menghilangkan kepenatan.

Sayangnya, makin lama kegiatan orang-orang yang punya waktu luang tersebut diisi dengan aksi kejahatan di jalanan. Pelaku yang tertangkap pun kebanyakan adalah pemuda atau pelajar. Hal itu membuat arti klitih mengalami pergeseran menjadi aktivitas kejahatan yang identik dengan remaja dan senjata tajam.

 

 

 

3. Perbedaan Antara Klitih, Tawuran, dan Begal

Masyarakat yang baru mendengar berita tentang klitih biasanya mengira hal ini sama dengan tawuran, aksi begal atau perampokan di jalan. Padahal motifnya berbeda.

Tawuran adalah perkelahian yang dilakukan beramai-ramai atau secara massal antara dua kelompok atau geng tertentu. Motif dari tawuran biasanya adalah perselisihan atau masalah turun-temurun dari dua kelompok yang bermusuhan. Sementara pembegalan adalah perampokan harta dengan atau tanpa melakukan siksaan secara fisik. Motif utama dari begal adalah harta.

Perselisihan dan harta bukanlah motif utama klitih. Alih-alih mengambil harta atau berusaha balas dendam atas masalah tertentu, klitih menyerang pengendara di jalan hanya sebagai kegiatan iseng. Setelah melukai target, para pelaku kemudian pergi begitu saja. Berdasarkan kasus yang telah terjadi, klitih juga dianggap sebagai ajang pembuktian para remaja yang ingin mencari jati diri. Setelah terbukti berani melakukan penyerangan, eksistensi diri di lingkungan pertemanan atau gengnya jadi diakui.

Motif semacam itu membuat masyarakat khawatir. Hal itu dapat dilihat dari berbagai percakapan di media sosial mengenai kasus klitih yang makin sering terjadi pada bulan Ramadhan 2022 ini. Rasa khawatir itu muncul karena siapa saja bisa menjadi target selanjutnya, padahal banyak profesi atau kegiatan tertentu yang memaksa seseorang masih harus berada di luar rumah sampai larut malam. Orang yang sebenarnya tak punya masalah dengan pihak mana pun bisa menjadi korban kekerasan di jalan.

 

 

 

4. Upaya Pemda DIY Atasi Klitih

Melihat kasus klitih yang semakin sering terjadi, masyarakat semakin khawatir dengan keselamatan diri atau orang-orang terdekat saat berada di luar rumah. Para pelaku klitih telah menjadi musuh masyarakat awam di DIY dan sekitarnya. Kasus ini seolah juga mencoreng wajah Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata yang seharusnya bisa menjamin keamanan para warganya.

Melansir dari laman Merdeka, Pemda dan Polda DIY pun melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah ini agar keamanan dan ketertiban masyarakat benar-benar terjaga.

1. Jaga Warga

Jaga Warga adalah kelompok yang bertugas membantu menyelesaikan konflik sosial di lingkungan masyarakat. Jaga Warga berperan di seluruh kelurahan di Yogyakarta. Jaga Warga di level kelurahan ini diminta untuk mengawasi aktivitas anak-anak muda setelah jam belajar masyarakat.

2. Penyuluhan Berkala

Penyuluhan berkala akan dilakukan sebagai upaya pembinaan terkait kejahatan jalanan melalui Bhabinkamtibmas. Selain itu, juga akan dilakukan razia tas bawaan pelajar dan penambahan CCTV di tempat rawan kejahatan.

3. Antisipasi Pola Baru Klitih

Meskipun pelaku klitih tak seramai tawuran, kelompok ini diduga punya kelompok yang terorganisir. Oleh karena itu, kejahatan ini bisa ditelisik lebih lanjut melalui pola dari kasus-kasus yang sudah terjadi.

Melansir Merdeka.com, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan bahwa kasus klitih yang terbaru ini memiliki pola baru dan berbeda dari aksi-aksi klitih sebelumnya. Pengkajian lebih dalam diperlukan untuk mengetahui akar permasalahannya, sehingga upaya pencegahan secara tepat dapat dilakukan.

Itulah penjelasan mengenai arti klitih atau kejahatan jalanan yang sedang menjadi topik panas di kalangan netizen.

 

 

 

(kpl/gen/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI