Aturan Islam: Puasa Syawal atau Mengganti Puasa Ramadan, Mana yang Didahulukan?

Penulis: Ricka Milla Suatin

Diterbitkan:

Aturan Islam: Puasa Syawal atau Mengganti Puasa Ramadan, Mana yang Didahulukan?
Ilustrasi Masjid (credit: pixabay/hisalman)
Kapanlagi.com -

Setelah bulan Ramadan berakhir, banyak umat Muslim yang perlu mengganti puasa Ramadan (qadha). Bagi mereka, sering muncul pertanyaan, mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu, mengganti puasa Ramadan atau melaksanakan puasa Syawal? Pertanyaan ini kerap menjadi perbincangan di kalangan umat Islam.

Pada dasarnya, puasa Ramadan adalah ibadah yang wajib dan harus diutamakan. Di sisi lain, meskipun puasa Syawal memiliki banyak keutamaan dan sangat dianjurkan, ia tetap merupakan ibadah sunnah. Oleh karena itu, mengganti puasa Ramadan (qadha) lebih diutamakan daripada menjalankan puasa Syawal. Ini sejalan dengan prinsip dasar dalam Islam, yang mengajarkan agar kewajiban lebih diutamakan daripada amalan sunnah.

Namun, ada beberapa situasi khusus yang perlu diperhatikan. Misalnya, jika seseorang tidak dapat berpuasa di bulan Ramadan karena alasan tertentu seperti sakit atau perjalanan jauh, maka dia diperbolehkan untuk melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu. Meski demikian, disarankan untuk segera mengganti puasa yang ditinggalkan setelah uzur tersebut hilang. Lalu, mana yang lebih utama? Mari kita simak penjelasan lebih lanjut.

1. Mengutamakan Qadha Puasa Ramadan

Menurut mayoritas ulama, mengganti puasa Ramadan (qadha) sebaiknya didahulukan. Meskipun puasa Syawal memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan dikatakan dapat menghapus dosa selama setahun penuh, kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan lebih diutamakan. Puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja selama bulan Syawal setelah qadha puasa selesai. Tidak ada batasan khusus kapan puasa Syawal harus dilakukan, asalkan masih dalam bulan Syawal.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 yang menekankan kewajiban mengganti puasa bagi mereka yang tidak berpuasa karena uzur. Bahkan, beberapa mazhab menambahkan aturan fidyah bagi mereka yang menunda-nunda qadha tanpa alasan yang sah. Oleh karena itu, melaksanakan qadha puasa Ramadan adalah hal yang sangat penting dan seharusnya menjadi prioritas.

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١٨٤

"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184)

Banyak umat Islam yang merasa bingung tentang batas akhir mengganti puasa dan konsekuensinya jika terlambat. Sebagian ulama berpendapat bahwa qadha puasa harus diselesaikan sebelum Ramadan berikutnya, sementara ada juga yang memberikan kelonggaran hingga akhir bulan Syaban. Yang terpenting adalah segera mengganti puasa setelah uzur hilang, tanpa menunda-nunda tanpa alasan yang jelas.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

2. Kewajiban Mengganti Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu. Jika seseorang meninggalkan puasa karena alasan yang dibolehkan, seperti sakit atau perjalanan, maka dia wajib mengganti puasa yang ditinggalkan di luar bulan Ramadan sesuai dengan jumlah hari yang terlewat.

Dalam Islam, kewajiban lebih diutamakan daripada amalan sunnah. Oleh karena itu, banyak ulama yang berpendapat bahwa seseorang sebaiknya mengganti puasanya terlebih dahulu sebelum melaksanakan puasa sunnah Syawal. Ini sesuai dengan prinsip dalam ajaran Islam yang mengutamakan kewajiban sebelum ibadah yang bersifat tambahan atau sunnah.

3. Pendapat Prof. Quraish Shihab: Qadha Lebih Utama

Menurut Prof. Quraish Shihab, yang dimuat dalam NU Online, puasa qadha Ramadan sebaiknya didahulukan sebelum puasa Syawal. Hal ini dikarenakan qadha puasa adalah kewajiban yang harus dilaksanakan, sedangkan puasa Syawal hanya bersifat sunnah.

Menurut Prof. Shihab, puasa sunnah Syawal bisa dilakukan kapan saja selama bulan Syawal. Tidak harus dilakukan berturut-turut mulai dari 2 Syawal, sehari setelah Idul Fitri. Oleh karena itu, di awal bulan Syawal, sebaiknya fokuskan terlebih dahulu pada mengganti puasa Ramadan yang tertinggal.

4. Fleksibilitas Waktu untuk Puasa Syawal

Banyak orang beranggapan bahwa puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut setelah Idul Fitri. Namun, menurut Prof. Quraish Shihab, puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja dalam bulan Syawal, sehingga memberi kelonggaran bagi mereka yang masih memiliki puasa yang harus diganti.

Bagi mereka yang memilih untuk mendahulukan qadha puasa Ramadan, mereka masih memiliki kesempatan untuk menjalankan puasa Syawal di akhir bulan Syawal. Hal ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal tanpa mengabaikan kewajiban mengganti puasa Ramadan. Dengan fleksibilitas ini, seseorang yang memiliki keterbatasan waktu tetap bisa memenuhi kedua kewajiban ibadah tersebut.

5. Kesimpulan: Mana yang Harus Didahulukan?

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa lebih utama untuk mendahulukan qadha puasa Ramadan daripada langsung melaksanakan puasa Syawal. Hal ini karena qadha adalah kewajiban yang harus diselesaikan, sementara puasa Syawal adalah ibadah sunnah. Jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan, sebaiknya ia menunaikan qadha terlebih dahulu. Setelah itu, jika masih ada waktu di bulan Syawal, ia bisa melaksanakan puasa sunnah tersebut.

Namun, bagi mereka yang ingin tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal meskipun memiliki keterbatasan waktu, ada pandangan yang membolehkan menggabungkan niat antara qadha dan puasa Syawal. Meskipun demikian, mayoritas ulama tetap menyarankan untuk memisahkan keduanya agar lebih sesuai dengan ketentuan syariat.

6. FAQ

1. Apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut?

Tidak. Puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja selama bulan Syawal, baik berturut-turut maupun terpisah.

2. Apakah boleh menggabungkan niat puasa qadha Ramadan dan puasa Syawal?

Terdapat perbedaan pendapat. Namun, lebih baik memisahkan keduanya untuk memastikan pahala masing-masing ibadah.

3. Apakah boleh puasa Syawal sebelum mengganti puasa Ramadan?

Sebaiknya tidak, karena qadha puasa Ramadan adalah kewajiban yang harus dipenuhi sebelum menjalankan puasa sunnah.

4. Bagaimana jika seseorang tidak sempat menjalankan puasa Syawal karena masih mengqadha Ramadan?

Tidak masalah, karena puasa Syawal bersifat sunnah, sedangkan qadha Ramadan adalah kewajiban yang lebih utama untuk diselesaikan.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

(kpl/rmt)