Bondowoso Manfaatkan Ijen untuk Kembangkan Pariwisata

Jum'at, 29 Maret 2019 10:38 Penulis: Wuri Anggarini
Bondowoso Manfaatkan Ijen untuk Kembangkan Pariwisata
┬ęShutterstock

Kapanlagi Plus - Pariwisata di Jawa Timur bukan hanya berkutat pada Bromo atau Banyuwangi saja. KLovers juga nggak boleh melupakan Kabupaten Bondowoso yang punya destinasi menawan, yakni kawasan Gunung Ijen. Tak mengherankan kalau pariwisata yang satu itu akan diandalkan untuk mendongkrak sektor pariwisata.

Guna merealisasikan visi tersebut, berbagai atraksi pun telah disiapkan. Rencana itu disampaikan langsung Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bondowoso Harry Patriantono, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Produk Ekowisata Kabupaten Bondowoso.

Event yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata ini, dilangsungkan Palm Hotel Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (28/3). Hal itu disampaikan Harry Priantono saat diskusi yang dimoderatori Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kementerian Pariwisata David Makes. Pembicara lain adalah Perwakilan Bapeda Bondowoso Sigit Dwiwahyu Banendro.

Kadispar Bondowoso Harry Patriantono menegaskan jika pemerintah daerah sudah menjadikan pariwisata sebagai prioritas.

“Bupati Bondowoso sudah menjadikan pariwisata sebagai prioritas. Sebagai komitmen, kita perbaiki struktur Organisasi Perangkat Daerah bidang pariwisata dan anggaran. Awalnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pariwisata Bondowoso masih grade C. karena, hanya ada 11 orang ASN yang menangani pariwisata. Tapi, kita akan terus meningkatkan agar OPD kami  ke grade A,” paparnya.

Harry menambahkan, keseriusan Pemda berujung pada semakin meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bondowoso. Baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Keseriusan juga diperlihatkan di tahun 2019. Yaitu dengan meluncurnya Calendar of Event 2019 Bondowoso. “Kita sudah lauching Calendar of Event 2019. Kita akan kenalkan seluruh potensi wisata. Tapi memang tidak semua bisa diakomodir, jadi hanya sekitar 40 event yang akan kita angkat untuk tahun ini,” paparnya.

Harry juga membahas mengenai Gunung Ijen. Menurutnya, Ijen ditelah ditetapkan menjadi kawasan strategis pariwisata Bondowoso. Rencana pengembangan juga sudah dilakukan.

“Untuk kawasan Ijen, kita sudah berbicara mengenai kewilayahan dengan daerah lain. Kerjasama kita buktikan dengan berbagai MoU. Pengembangan akan kita konsentrasikan di kawasan Ijen-Raung. Alhamdulillah dalam 2 tahun belakangan kita mendapatkan dukungan DAK dari Kementerian Pariwisata,” paparnya.

Tidak hanya itu, Pemda Bondowoso juga menyiapkan berbagai atraksi untuk meningkatkan potensi Ijen yang ada di kawasan Bondowoso. Seperti atraksi Ijen Trail Running dan diikuti berbagai peserta mancanegara.

Ada juga atraksi Ijen Bike Park. Harry menjelaskan, Ijen bisa menjadi tempat digelar funbike, crosscountry, hingga downhill. Berbagai komunitas sepeda di Jawa dan Bali juga kerap datang. Bondowoso juga dipercaya Enduro Asia untuk menyelenggarakan Enduro Asia, juga Jazz de Ijen.

“Kita sudah berpikir bagaimana wisatawan datang ke Bondowoso tidak hanya menghabiskan uangnya. Tetapi juga bagaimana mereka bisa merasa nyaman dan mendapatkan kesan baik,” paparnya.

Namun, Harry menjelaskan jika Pemda Bondowoso sebenarnya telah memanfaatkan kawasan Ijen sejak lama. Tepatnya, dengan mengangkat potensi kopi yang ada di sana.

“Kita sudah mengangkat potensi yang ada di Ijen sejak 3 tahun lalu. Lebih tepatnya melalui kopi. Atau saat Bondowoso ditetap menjadi Republik Kopi. Yang menjadi andalan Kopi Java Arabica. Sebab, produksi kopi dari Bondowoso adalah salah satu yang terbaik di dunia. Kopi ini kita angkat lewat Festival Kopi Nusantara. Ini jadi salah satu barometer pengembangan kopi. Apalagi kopi di Ijen dikelola petani, hingga PTPN,” paparnya.

Kadispar Bondowoso Harry Patriantono berharap FGD yang digelar Kemenpar bisa ditindaklanjuti. Caranya dengan terus berkoordinasi dan konsolidasi dengan Asita, komunitas ekowisata, juga stakeholder lainnya.

“Buat Bondowoso, FGD yang adakan Kemenpar ini adalah peluang yang bagus. Sebab, target kami sangat muluk. Menjadikan pariwisata Bondowoso menuju dunia,” tuturnya.

Sedangkan perwakilan Bapeda Bondowoso Sigit Dwiwahyu Banendro menambahkan, salah satu permasalahan di daerahnya adalah akses.

“Kabupaten Bondowoso tidak memiliki jalan nasional. Adanya jalan provinsi. Kita sedang mengusulkan dan sedang menunggu jawaban. Susah buat berharap orang akan lewat Bondowoso kalau kita tidak ada jalan nasional,” paparnya.

Padahal, Bondowoso memiliki keunggulan. “Salah satu keunggulan Bondowoso adalah memiliki sejumlah daerah dengan ketinggian di atas 1000 Mdpl. Itu yang harus dimanfaatkan,” ujarnya.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kementerian Pariwisata David Makes, berharap pariwisata Bondowoso memiliki tagline sendiri. Tagline yang tidak boleh sama dengan daerah lain.

David Makes juga mengimbau Bondowoso harus mengelola dengan baik atraksi wisata yang direncanakan akan dikembangkan sehingga tidak tumpang tindih dengan daerah lain, tetapi melahirkan sebuah sinergitas dengan tetangga wilayah administratif Bondowoso Salah satunya Banyuwangi.

David Makes juga memberikan acungan jempol buat Bondowoso yang sejak lama memperkenalkan diri sebagai Republik Kopi.

“Saya rasa pengembangan kopi Bondowoso sangat luar biasa. Bondowoso sudah menetapkan diri sebagai Republik Kopi. Itu bagus, karena ada visi. Karena 4 tahun lalu, orang tidak tahu kopi Bondowoso. Tapi kenyataan sudah mendunia. Itu adalah visi. Itu harus diperkuat,” harapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap Bondowoso tidak ragu untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai unggulan.

“Banyak daerah yang sukses setelah menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan. Tapi, dibutuhkan CEO Commitment untuk mencapai itu. Atau komitmen dari kepala daerah. Karena arah kebijakan berada di tangan kepala daerah. Tapi yakinlah potensi Bondowoso sangat luar biasa,” paparnya.

 

(adv/wri)

Editor:

Wuri Anggarini



MORE STORIES




REKOMENDASI