CEO Promotor K-Pop We All Are One Dipolisikan, Diduga Bawa Kabur Uang Tiket

Sabtu, 19 November 2022 06:19
CEO Promotor K-Pop We All Are One Dipolisikan, Diduga Bawa Kabur Uang Tiket
Credit: instagram.com/weallareone_official


Kapanlagi Plus - K-Pop We All Are One jadi salah satu konser yang paling dinantikan di akhir tahun ini. Konser tersebut sedianya digelar selama 3 hari (10-12 November 2022) di Stadion Madya, Jakarta. Akan tetapi, penonton harus sabar karena konser tersebut harus ditunda hingga 2023.

Kabar tersebut disampaikan langsung oleh pihak promotor melalui unggahan di media sosial. PT Coution Live Indonesia selaku penyelenggara menyebut mereka mempertimbangkan beberapa insiden terkait keamanan dalam kerumunan yang belakangan terjadi di Indonesia dan Korea Selatan.

Hal ini tentunya membuat para pembeli tiket kecewa. Banyak yang menuntut pengembalian dana, namun hingga kini masih tidak mendapatkan respons apa pun dari pihak promotor.

 

1. Dugaan Bawa Kabur Uang Konser

Tak kunjung mendapat respon dari promotor soal pengembalian dana, terbaru muncul pelaporan terhadap CEO promotor yang dikenal sebagai Direktur Park atau yang bernama asli Jai Hyun Park.

Pihak pelapor bernama Derpita Gultom. Ia membuat laporan ke Polsek Metro Tamansari dengan menuding Park melanggar Pasal 378 KUHP soal penipuan dan terdaftar pada LP/B/552/XI/2022/SPKT. UNIT RESKRIM/Polsek Metro Tamansari.

 

2. PT Visi Musik Indonesia Dukung Langkah Tersebut

Dalam mengadakan acara We Are All One, PT Coution Live Indonesia melalui Direkturnya Jai Hyun Park menunjuk dan menugaskan PT. Visi Musik Asia sebagai vendor dimana Direktur Park memerintah PT Visi Musik Asia untuk membantu mengelola urusan lapangan untuk pelaksanaan acara We Are All One dimana Direktur Park menjanji-janjikan bahwa PT. Visi Musik Asia akan dibayar hanya dalam bentuk komisi persentase dari total nilai produksi yang di dikte dan wajib disetujui oleh Direktur Park sendiri.

Sementara itu, PT Visi Musik Indonesia selaku mendukung langkah pelaporan tersebut. Sebab, mereka menilai ada hal-hal tidak beres yang dialami selama berhubungan dengan pihak promotor.

"Dengan berjalannya waktu ketika persiapan konser masih dalam proses, Direktur Park memberikan perintah untuk menarik sebagian hasil penjualan konser tersebut dari tiketdotcom dan uangnya dipergunakan untuk melakukan pembayaran kebutuhan pelaksanaan event yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 11-12 November 2022 sesuai arahan Direktur Park. Ketika terjadi, dalam waktu yang sama PT. Visi Musik Asia juga menagih pembayaran untuk jasa kerja lapangannya akan tetapi tidak ditanggapi dengan baik oleh Direktur Park dan tidak dibayarkan," ungkap pihak vendor.

"Pada tanggal 3 November 2022, PT Coution Live Indonesia memanggil PT VISI MUSIK ASIA dan menginfokan bahwa salah satu artis tidak bisa datang pada acara tanggal 12 November 2022 dan pada akhirnya PT Coution Live Indonesia Memutuskan bahwa acara di diundur ke bulan Januari 2023 dan mereka segera memproses kebutuhan untuk bulan Januari 2023. PT Visi menunggu beberapa hari mengenai kesiapan jadwal terbaru yang tidak kunjung mendapatkan kejelasan," lanjutnya.

Hingga pada 11 November 2022, pihak vendor mendapatkan informasi adanya surat panggilan dari Dirjen Imigrasi untuk direktur PT Coution Live Indonesia. Saat itu diketahui paspor milik Direktur Park sudah ditahan tanpa diketahui alasannya.

 

3. Kerugian Mencapai 7 Miliar

Sehingga, PT Visi Musik Asia pun meminta bantuan konsultan hukum setelah mencurigai adanya permainan dalam konser tersebut. Ditambah lagi pihak vendor tidak mendapatkan bayaran sampai melewati batas tanggal pembayaran.

"Dilaporkan karena ada kekhawatiran Direktur Park kabur dan tidak menyelesaikan tanggung jawabnya," ungkap Rizky Triadi sebagai Direktur PT Visi Musik Indonesia.

"Sebelum lapor sudah mediasi tapi digantung terus. Dan sampai sekarang tidak dibayar sama sekali dan sudah tidak jawab (ketika dihubungi) lagi," lanjutnya.

Rizky Triadi pun mengungkap kerugian mencapai Rp 7 miliar dari hasil penjualan tiket. Dan setengahnya sudah ditarik oleh Direktur Park.

"Hasil penjualan tiket kurang lebih sudah mencapai Rp 7 miliar. Dan dana itu sudah hampir setengahnya ditarik Direktur Park," jelasnya.

"Sekarang masih dalam tahap pelaporan," sambung Rizky Triadi.

 

4. Sedang Berkonsultasi Dengan Pihak Terkait

PT Visi Musik Indonesia tengah berkonsultasi terkait pelaporan lain terhadap Direktur Park. Mereka membicarakan hal itu dengan anak Hotman Paris, Fritz Paris Hutapea.

"Untuk updatenya saat ini masih info terakhir yang saya dapat dalam sekarang beberapa para perwakilan dari PT Coution katanya sudah ada yang ditangkap oleh pihak imigrasi, sedangkan Direktur Park masih dalam proses pencarian dan paspornya saat ini sudah ditahan pihak imigrasi. PT Visi Musik Asia akan terus melalukan upaya apapun untuk menegakkan keadilan untuk semua," pungkas Fritz.

 

(kpl/pur/ums)



MORE STORIES




REKOMENDASI