Kisah Iga Analusya, Ubah Limbah Sabut Kelapa Jadi Peluang Usaha

Kisah Iga Analusya, Ubah Limbah Sabut Kelapa Jadi Peluang Usaha
Iga Analusya, nasabah PNM Mekaar (Dok. Pribadi)

Kapanlagi.com - Bagi Iga Analusya, menjadi nasabah PNM Mekaar membawa pengalaman yang lebih luas dari sekadar memperoleh modal usaha. Perempuan 32 tahun asal pesisir Padang, Sumatera Barat, itu memanfaatkan kesempatan belajar dan pendampingan untuk mengembangkan Farilla Craft, usaha kerajinan yang berawal dari limbah sabut kelapa.

Melalui Farilla Craft, Iga mengolah material yang sebelumnya menumpuk di kawasan pesisir menjadi beragam produk bernilai jual, seperti tas, dompet, pot, hingga dekorasi bernuansa natural. Dari usaha tersebut, ia tidak hanya membangun bisnis keluarga, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk ikut berkarya.

1. Berawal dari Pelatihan Pengolahan Sabut Kelapa

Ide memanfaatkan sabut kelapa muncul setelah Iga mengikuti pelatihan pengolahan sabut kelapa pada 2021. Saat itu, sejumlah narasumber didatangkan untuk memberikan keterampilan baru kepada warga pesisir.

Pelatihan tersebut kemudian menjadi titik awal bagi Iga untuk melihat limbah sabut kelapa sebagai bahan yang memiliki potensi ekonomi. Ia mengembangkan gagasan tersebut bersama sang suami yang berperan sebagai desainer produk.

"Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar," ujar Iga, mengenang awal mula usahanya bersama sang suami yang berperan sebagai desainer produk.

Usaha Farilla Craft sebenarnya sudah berjalan sebelum Iga menikah. Perkembangannya mulai terasa lebih signifikan setelah ia bergabung dengan PNM Mekaar pada akhir 2023.

Modal awal senilai Rp3.000.000 digunakan Iga untuk membeli bahan baku. Dengan cara tersebut, proses produksi tidak lagi harus menunggu pesanan masuk terlebih dahulu. Seiring pertumbuhan usaha, plafon pinjamannya kini meningkat menjadi Rp8.500.000.

2. Farilla Craft Libatkan Warga Sekitar

Pertumbuhan usaha membuat kapasitas produksi Farilla Craft ikut meningkat. Dalam satu kali produksi, usaha tersebut kini dapat menghasilkan hingga 100 pinsil, sementara pesanan dalam jumlah besar seperti dari instansi pemerintah dapat membutuhkan waktu pengerjaan sekitar tiga minggu.

Di balik proses produksi itu terdapat keterlibatan warga sekitar. Iga memberdayakan sekitar 15 hingga 20 orang pengrajin yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga di lingkungan pesisir tempat tinggalnya.

Bagi Iga, perkembangan Farilla Craft tidak berhenti pada bertambahnya skala usaha. Ia juga melihat adanya peluang untuk menjadikan bisnis tersebut sebagai ruang berkarya bagi masyarakat di sekitarnya.

Rencana itu bahkan ingin ia perluas ke depan dengan merangkul lebih banyak anak putus sekolah dan ibu rumah tangga di kawasan pesisir Padang. Iga berharap mereka dapat turut berkarya bersama Farilla Craft sekaligus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.

3. PNM Mekaar Buka Wawasan Iga soal Pengembangan Usaha

Iga menilai manfaat bergabung dengan PNM Mekaar tidak hanya berasal dari fasilitas permodalan. Pelatihan dan pendampingan yang diterimanya turut memperluas pengetahuan mengenai pengelolaan usaha.

Pengalaman tersebut semakin terasa ketika Iga mengikuti program Mekaarpreneur 2026 dan berhasil masuk dalam 120 besar. Dalam program itu, ia mendapatkan wawasan mengenai pengelolaan usaha berbasis teknologi serta strategi promosi melalui media sosial.

"Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat," kata Iga.

Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan dalam pengembangan Farilla Craft. Iga mulai menyesuaikan produk dengan selera pasar generasi muda, tetapi tetap mempertahankan sentuhan tradisional yang menjadi karakter usaha tersebut.

Inspirasi untuk menghadirkan produk dengan kemasan yang lebih modern dan eksklusif juga datang dari kunjungan mahasiswa ke tempat usahanya untuk melakukan studi banding.

4. PNM Dorong Nasabah Melihat Peluang di Sekitar

Direktur Utama PNM, Kindaris, turut mendorong para ibu yang menjadi nasabah PNM Mekaar agar lebih jeli melihat peluang usaha, termasuk dari hal-hal yang selama ini dianggap sederhana.

"Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan," kata Kindaris.

Dalam menjalankan usahanya, Iga juga menerapkan perencanaan dalam penggunaan modal. Sebelum pencairan, ia mencatat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dipenuhi menggunakan modal dari PNM.

Kebiasaan tersebut membuat dana usaha lebih terarah untuk kebutuhan produksi dan membantu Iga menghindari penggunaan modal untuk pengeluaran konsumtif.

Ke depan, Iga ingin memperluas galeri Farilla Craft sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat sekitar, termasuk anak putus sekolah dan ibu rumah tangga, untuk berkarya bersama.

Kisah Farilla Craft menjadi bagian dari program PNM yang merupakan kelanjutan dari inisiatif serupa pada tahun sebelumnya bertajuk #CariTauLangkahBaru, yang diarahkan untuk memperluas dampak dan membina nasabah unggulan agar terus berkembang.

(kpl/gtr)

Rekomendasi

Trending