Cerita UNAIR, UNCEN, UI, dan BINUS Lolos ke Final Genera-Z Berbakti 2026 dengan Proposal Inovatif

Finalis Genera-Z Berbakti 2026. (Kapanlagi/Adrian Utama Putra)

Kapanlagi.com - Ajang Genera-Z Berbakti 2026 menghadirkan kisah inspiratif dari para mahasiswa lintas daerah yang ingin membawa perubahan nyata bagi Desa Binaan Bakti BCA. Tidak sekadar berkompetisi, para finalis datang dengan gagasan besar, riset mendalam, hingga semangat pengabdian yang lahir dari keresahan mereka melihat potensi desa yang belum tergarap maksimal.

Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Cenderawasih (Uncen) saling beradu gagasan untuk bisa menjalankan pengabdian di Desa Wisata Patakbanteng, Jawa Tengah. Sementara Universitas Indonesia dan BINUS University menghadirkan ide inovatif untuk pengembangan Desa Wisata Kakaskasen Dua, Tomohon, Sulawesi Utara.

Masing-masing tim datang dengan pendekatan berbeda, mulai dari isu kesehatan, lingkungan, pemberdayaan perempuan, hingga wellness tourism berbasis budaya lokal.

Tim Universitas Airlangga: Dari Rapat Tengah Malam hingga Pemberdayaan "Kader Srikandi"

Tim mahasiswa Universitas Airlangga. (Kapanlagi/Adrian Utama Putra)

Tim mahasiswa Universitas Airlangga terdiri dari dari Usamah atau Sam (Jurusan Teknik Lingkungan), Adib Fardanfath Arighi (Jurusan Kedokteran Hewan), dan Regina Saraswati Devita Nugra Heni (Jurusan Kesehatan Masyarakat).

Mereka mengusung proposal bertajuk "Amerta Pertiwi: Menenun Keberlanjutan melalui Sirkularitas Teknologi Lingkungan dan Pemberdayaan Kesehatan Berbasis Srikandi yang Terdigitalisasi".

Bagi Regina, perjalanan menuju delapan besar melewati proses panjang yang penuh perjuangan. Di tengah jadwal kuliah, UTS, hingga kegiatan organisasi, mereka tetap meluangkan waktu untuk rapat hampir setiap hari.

"Pagi rapat, habis magrib rapat lagi, malam lanjut ngerjain proposal. Tapi akhirnya semua terbayar," ungkap Regina.

Menariknya, tim Unair memilih turun langsung ke Desa Patakbanteng untuk melakukan forum group discussion (FGD), survei lapangan, hingga berbincang dengan warga. Dari sana, mereka menemukan bahwa kekuatan terbesar desa justru berada pada perempuan-perempuan desa yang aktif mengelola rumah tangga dan lingkungan.

"Kami sadar aset terbesarnya justru perempuan-perempuannya. Budaya di sana kuat sekali, termasuk cara mereka mengelola sampah dan kehidupan rumah tangga," ujar Sam.

Usung Rumah Bibit hingga Peternakan Kelinci untuk Atasi Stunting

Berangkat dari temuan tersebut, mereka merancang konsep revitalisasi rumah pemberdayaan melalui tiga program utama, yakni rumah bibit, rumah kompos, dan rumah inovasi. Salah satu program yang paling menarik perhatian adalah pengembangan peternakan kelinci sebagai sumber protein lokal untuk anak stunting.

Menurut Adib, kelinci dipilih karena cocok dikembangkan di dataran tinggi dan memiliki siklus reproduksi yang cepat. Program tersebut nantinya akan terhubung dengan dapur gizi stunting yang menjadi bagian dari rumah inovasi desa.

Tak hanya fokus pada pangan, tim UNAIR juga menyiapkan program pemberdayaan "Kader Srikandi". Para perempuan desa akan mendapat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga, distribusi pangan, hingga digitalisasi desa.

Bagi mereka, pemberdayaan perempuan menjadi kunci perubahan sosial yang berkelanjutan. "Kalau perempuan diberdayakan, dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri, tapi juga ke keluarga dan lingkungannya," kata Regina.

Meski kompetisi nantinya selesai, tim UNAIR memastikan semangat pengabdian mereka tidak akan berhenti. Bahkan para dosen dan sivitas kampus disebut siap membantu melanjutkan program tersebut.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UNAIR, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Tim Universitas Cenderawasih: Hadirkan Program "Nutrimom" untuk Desa Patakbanteng

Tim Mahasiswa Universitas Cenderawasih. (Kapanlagi/Adrian Utama Putra)

Lawan tim Unair datang dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, yang beranggotakan Monieka Dyah Anggraeni atau Monik dari Jurusan Ilmu Keperawatan, Elisabet Ayomi dari Sistem Informasi, dan Syahlika Nur Azizah atau Ika dari Ilmu Keperawatan.

Mereka membawa proposal bertajuk "Transformasi Desa Sehat, Lestari, dan Berdaya melalui Integrasi Inovasi Kesehatan, Pengelolaan Lingkungan, dan Kemandirian Pangan Berbasis Teknologi".

Lolos ke delapan besar menjadi momen emosional yang tidak terlupakan bagi ketiganya. "Kita sampai sujud syukur," cerita Ika.

Sebelum mendaftar, mereka mengaku menghabiskan waktu tiga hari penuh hanya untuk membedah peluang dan kesiapan tim. Setelah berdiskusi panjang, ketiga mahasiswi ini akhirnya memilih Desa Patakbanteng karena dianggap paling sesuai dengan latar belakang keilmuan mereka di bidang kesehatan dan lingkungan.

Salah satu program unggulan mereka adalah "Nutrimom", program edukasi kesehatan sekaligus demonstrasi pengolahan pangan lokal untuk ibu hamil, ibu balita, dan kader kesehatan desa.

"Kita ingin mereka bisa mengolah pangan lokal supaya lebih bermanfaat untuk keluarga," ujar Ika.

Selain itu, tim UNCEN juga menyoroti isu lingkungan desa wisata. Mereka melakukan wawancara daring dengan perangkat desa dan warga agar program yang dirancang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

Dari sisi teknologi, Elis menghadirkan platform digital pemantauan kesehatan desa yang nantinya terintegrasi dalam satu website.

"Kita buat platform digital untuk monitoring kesehatan di desa," kata Elis.

Perjalanan menyusun proposal pun penuh cerita. Ketiganya bahkan sering berdiskusi hingga malam hari di kampus demi mematangkan konsep.

"Kita hampir mau tidur di kampus. Jam dua siang sudah janjian kumpul, terus lanjut sampai malam ditemani satpam," kata Ika sambil tertawa.

Sebagai peserta yang datang dari wilayah paling jauh, pengalaman hadir di Jakarta juga menjadi kenangan spesial bagi mereka. Elis bahkan mengaku untuk pertama kalinya naik pesawat karena mengikuti Genera-Z Berbakti 2026.

"First time aku naik pesawat karena BCA," katanya penuh semangat.

Sementara Ika merasa ajang BCA ini menjadi bukti bahwa mimpi yang mereka bangun sejak awal perlahan mulai terwujud. Ketiganya sepakat bahwa tujuan utama program ini bukan hanya soal menang, melainkan bagaimana masyarakat desa bisa terus berkembang secara mandiri.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UNCEN, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Tim Universitas Indonesia: Wellness Tourism dan Cerita Desa Berbasis Digital

Tim mahasiswa Universitas Indonesia. (Kapanlagi/Adrian Utama Putra)

Sementara itu, Universitas Indonesia (UI) hadir dengan tim lintas daerah yang terdiri dari Irfan Saputra (Juruan Bisnis Kreatif) asal Makassar, Divanykailla Aurora Nugroho atau Diva (Jurusan Psikologi) asal Lombok, dan Sarah Naomi Khairunnisa (Jurusan Geografi) asal Depok.

Mereka mengusung proposal "KATALIS: Kakaskasen Dua Transformation for Agriculture, Wellness Tourism, and Local Innovation Sustainability".

Menariknya, perjalanan tim UI dimulai dari obrolan santai di kantin kampus. Dari percakapan ringan itulah lahir ide untuk mengikuti Genera-Z Berbakti 2026.

"Dari ngobrol iseng di kantin terus kepikiran, 'ikut Genera-Z nggak sih?' Dari UI sendiri yang submit banyak banget, jadi kita sebenarnya cuma bismillah dan jalan aja," kata Diva sambil tertawa.

Dalam proses brainstorming, mereka menemukan potensi besar Desa Wisata Kakaskasen Dua, terutama pada bunga krisan dan kekayaan alam Tomohon. Melalui proposal tersebut, tim UI menghadirkan tiga program utama, yakni Artafloria, Nature Experience, dan CERDAS atau Cerita Desa Wisata Kakaskasen Dua.

Tiga Program Utama untuk Desa Wisata Kakaskasen Dua

Artafloria fokus pada pengembangan UMKM berbasis bunga krisan melalui produk turunan seperti kain eco print, selendang, hingga produk fashion.

"Kita bikin produk seperti selendang, kain, dan fashion dengan teknik eco print. Jadi nilai jualnya bisa lebih tinggi," jelas Irfan.

Sementara program CERDAS hadir melalui website interaktif berbasis story map yang tidak hanya menampilkan lokasi wisata, tetapi juga cerita sejarah dan pengalaman masyarakat lokal. "Kita melibatkan masyarakat lewat pemetaan partisipatif," ujar Sarah.

Di sisi lain, program Nature Experience menjadi inti konsep wellness tourism yang mereka tawarkan. Konsep ini memadukan wisata alam dengan aktivitas mindfulness dan kesehatan mental seperti yoga di alam terbuka hingga mindful gardening.

"Kita ingin wisatawan nggak cuma datang menikmati alam, tapi juga mendapatkan pengalaman healing," kata Diva.

Tak hanya itu, mereka juga menyiapkan pelatihan bahasa Inggris, hospitality, hingga penanganan kesehatan dasar bagi masyarakat dan kelompok sadar wisata. Bagi tim UI, tujuan terbesar mereka bukan sekadar memenangkan kompetisi, tetapi menjadi "katalisator" perubahan bagi masyarakat desa.

"Kami bukan ingin mengubah masyarakat, tapi mendampingi mereka memaksimalkan apa yang sebenarnya sudah mereka miliki," tutur Sarah.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UI, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Tim BINUS University: Usung Semangat "MAPALUS" ala Minahasa

Tim mahasiswa Binus University. (Kapanlagi/Adrian Utama Putra)

Pesaing tim UI datang dari BINUS University yang terdiri dari Preti Sury Angel dari jurusan Tourism asal Kalimantan Barat, Ria Noviana dari Digital Business asal Tangerang, dan Ichiro Dexther Rewah dari Cyber Security.

Mereka mengusung proposal bertajuk "MAPALUS: Minahasan Action for Preserving Arts, Local Upskilling, and Sustainability".

Konsep MAPALUS sendiri terinspirasi dari budaya gotong royong masyarakat Minahasa yang menjadi ruh utama proposal mereka.

"Bangga banget bisa sampai sejauh ini," ujar Preti.

Karena berasal dari kampus dan kota berbeda, proses penyusunan proposal dilakukan secara daring melalui Zoom. Mereka bahkan mengaku menyusun proposal dalam waktu yang cukup mepet.

"Tantangan terbesarnya memang komunikasi dan cari waktu," kata Ria.

Meski begitu, mereka berhasil menghadirkan konsep pemberdayaan masyarakat berbasis wellness tourism yang berkelanjutan. Alih-alih membuat program jangka pendek, tim BINUS memilih fokus pada penguatan kapasitas masyarakat agar desa bisa berkembang secara mandiri meski program selesai.

"Permasalahan di desa itu nggak bisa selesai dalam waktu singkat," ujar Ria.

Selain pemberdayaan masyarakat, mereka juga ingin mendorong pengembangan potensi lokal dan seni budaya Minahasa agar semakin dikenal luas. Momen pengumuman lolos ke delapan besar juga menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mereka.

"Aku lagi tidur, terus pas bangun lihat handphone ternyata kita lolos," cerita Ria sambil tertawa.

Ke depan, mereka berharap Genera-Z Berbakti 2026 dapat menjangkau lebih banyak desa di berbagai daerah Indonesia yang memiliki potensi besar namun masih membutuhkan pendampingan.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim BINUS, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Generasi Muda dan Harapan untuk Desa Indonesia

Ajang Genera-Z Berbakti 2026 membuktikan bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya hadir membawa ide kreatif, tetapi juga semangat kolaborasi dan kepedulian sosial yang kuat.

Mulai dari isu stunting, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan perempuan, wellness tourism, hingga digitalisasi desa, seluruh finalis menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari keberanian untuk turun langsung memahami kebutuhan masyarakat.

Menarik untuk melihat beragam ide-ide kreatif dan inovasi yang mereka paparan kepada dewan juri sebagai finalis Top 8 Genera-Z Berbakti 2026. Nah, siapa ya yang bakal keluar sebagai pemenang dan membawa perubahan nyata untuk desa binaannya masing-masing?

Yuk, ikuti terus perjalanan inspiratif para finalis Genera-Z Berbakti 2026 dan jangan lupa dukung tim favorit kamu sekarang juga!

Tentang Genera-Z Berbakti 2026

Genera-Z Berbakti merupakan program yang terbuka bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengimplementasikan ide inovatif melalui KKN, program pengabdian masyarakat, dan kegiatan serupa lainnya di desa wisata binaan Bakti BCA.

Setelah tahap seleksi proposal, program akan memasuki fase penjurian finalis, dilanjutkan pengumuman pemenang, bootcamp, hingga pelepasan peserta ke lokasi pengabdian. Fase implementasi program dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli hingga 6 Agustus 2026.

Informasi lebih lanjut mengenai Genera-Z Berbakti 2026 dapat diakses melalui bca.id/generazberbakti

Ikuti perjalanan 4 kampus lainnya di link berikut ini.

(kpl/gil)

Rekomendasi

Trending