Dari Smart Eco-Tourism hingga Circular Economy, Ini 4 dari 8 Kampus yang Ramaikan Final Genera-Z Berbakti 2026

Dari Smart Eco-Tourism hingga Circular Economy,  Ini 4 dari 8 Kampus yang Ramaikan Final Genera-Z Berbakti 2026 Finalis Genera-Z Berbakti 2026. ©Adrian Utama Putra/Liputan6

Kapanlagi.com - Ajang Genera-Z Berbakti 2026 bukan sekadar kompetisi proposal pengabdian masyarakat biasa. Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menghadirkan solusi nyata bagi desa wisata binaan Bakti BCA melalui inovasi, kolaborasi, dan semangat keberlanjutan.

Menariknya, pada tahap final top 8 ini dua kampus berbeda harus saling beradu gagasan untuk satu desa binaan yang sama. Masing-masing tim membawa pendekatan, ide, hingga solusi yang berbeda demi menciptakan dampak sosial berkelanjutan bagi masyarakat desa.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Bawa Konsep Smart Eco-Tourism

Tim mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati. (Kapanlagi/Helmi)

Salah satu tim yang tampil di final top 8 ini adalah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung. Tim yang terdiri dari Tessa Rahayu (Jurusan Kimia), Ripki Albabila (Jurusan Fisika), dan Tri Febriansah (Jurusan Teknik Informatika) ini mengusung proposal bertajuk “DESA HIDUP: Smart Eco-Tourism untuk Transformasi Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Lingkungan dan Digital”.

Mereka memilih Desa Wisata Kreatif Terong di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung sebagai lokasi pengabdian dengan fokus pada pengembangan wisata berbasis lingkungan dan digital. Proposal yang mereka bawa tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga bagaimana masyarakat desa dapat berkembang bersama potensi wisata yang dimiliki.

"Jujur enggak nyangka, campur aduk. Ada senangnya, ada sedihnya, ada juga rasa beban karena semakin ke sini amanah yang kita emban semakin besar," ujar Tessa.

Tri mengungkapkan perjalanan menuju Top 8 pun tidaklah mudah. Timnya melewati banyak dinamika mulai dari debat panjang, pulang kehujanan, hingga rapat larut malam demi mematangkan proposal.

"Kita mulai dari debat, adu argumen, sampai larut malam. Pernah juga pulang kehujanan, kena banjir, macet, dan lain-lain," katanya.

Proposal yang mereka usung lahir dari proses diskusi dan survei panjang. Lewat konsep smart eco-tourism, mereka ingin menghadirkan pengembangan desa wisata yang lebih terintegrasi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Ripki menjelaskan filosofi tim mereka bernama "Tangkal" yang berarti pohon dalam bahasa Sunda.

"Filosofinya seperti pohon, tumbuh, berdampak, dan bermanfaat. Jadi program kami ingin menciptakan dampak yang terus tumbuh dan memberi manfaat untuk lingkungan sekitar," jelas Ripki.

Ketiganya berharap program tersebut mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengembangan wisata yang lebih berkelanjutan.

"Desanya sebenarnya sudah bagus, tapi memang ada beberapa hal yang perlu pendampingan dan itu cocok dengan program yang kami bawa," tambahnya.

Di balik proses kompetisi yang penuh tekanan, ada banyak momen berharga yang justru menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka. Tri mengaku program ini memberinya pengalaman kebersamaan yang sebelumnya jarang ia rasakan selama kuliah.

"Saya jadi punya banyak momen bersama teman-teman kampus. Diskusi bareng, makan bareng, istirahat bareng. Itu jadi momen yang sangat berkesan buat saya," ujarnya.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UIN, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Tim UGM Angkat Green-Blue Economy dan Sustainable Tourism

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada.(Kapanlagi/Helmi)

Masih untuk Desa Wisata Kreatif Terong, tim Universitas Gadjah Mada (UGM) hadir membawa pendekatan berbeda lewat proposal "Optimalisasi Potensi Lokal Desa melalui Sustainable Tourism dan Inovasi Berbasis Green-Blue Economy untuk Meningkatkan Kesejahteraan".

Tim yang digawangi Nauval Rajwaa Raysendria (Fakultas Biologi), Fauzyiah Putri Rudiyanto (Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan), dan Muhammad Ahnaf Al-Faruq (Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis) ini sebenarnya telah lama aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat melalui tim Laskar Selasik dan akan ke Belitung.

Karena wilayah pengabdian sama, kedua tim memutuskan untuk mengikuti ajang Genera-Z Berbakti 2026. Tak hanya 12 mahasiswa yang terdaftar dalam proposal masing-masing tim, sekitar 30 mahasiswa disebut ikut membantu proses riset hingga penyusunan ide.

Uzi menjelaskan konsep utama proposalnya adalah Green-Blue Economy yang menggabungkan potensi wilayah daratan dan pesisir secara berkelanjutan.

"Ketahanan pangan itu bukan cuma soal laut dan ikan, tapi juga pertanian di wilayah pesisir," jelas Uzi.

Sementara Faruq menegaskan pentingnya pertanian sebagai fondasi kehidupan masyarakat. "Pada intinya ketahanan pangan adalah no farm no life. Tanpa pertanian tidak ada kehidupan," katanya.

Selain sektor pangan, tim UGM juga ingin memperkuat potensi budaya lokal Belitung melalui konsep sustainable tourism. "Kami ingin membawa cerita budaya yang selama ini tersimpan agar bisa diketahui banyak orang," ujar Faruq.

Pelestarian Lingkungan dan Budaya Lokal

Bagi mereka, wisata berkelanjutan bukan sekadar menghadirkan wisatawan, tetapi menjaga budaya dan lingkungan agar tetap lestari.

"Program kami bukan untuk mengubah kebiasaan masyarakat, tapi mendekati budaya yang sudah ada untuk kita bangun bersama. Jadi wisata yang dibangun bukan eksploitasi, tetapi menjaga lingkungan sekaligus memperkenalkan budaya lokal," tambah Uzi.

Perjalanan tim mahasiswa UGM menuju final Top 8 dipenuhi cerita menarik. Tim harus menyusun proposal dalam waktu sekitar dua minggu di tengah kesibukan kuliah, magang, hingga pekerjaan part time.

"Setelah magang, habis magrib kami kumpul terus sampai malam buat diskusi proposal," kenang Faruq.

Bahkan mereka beberapa kali harus berpindah tempat rapat karena diusir satpam kampus saat berdiskusi hingga larut malam. Meski begitu, pengalaman tersebut justru menjadi momen paling berkesan bagi mereka.

Setelah masuk babak final, ketiga mahasiswa tersebut menegaskan bahwa tujuan utama mereka bukan semata memenangkan kompetisi, melainkan pengabdian masyarakat.

"Kalau pun nanti bukan rezeki kami menang, kami tetap akan berangkat dan mengabdi di Belitung," kata Nauval.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UGM, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Unpad Fokus Kelola Sampah dan Sanitasi

Tim mahasiswa Universitas Padjadjaran. (Kapanlagi/Helmi)

Berbeda dengan Desa Terong, dua finalis lainnya beradu gagasan untuk pengabdian di Desa Wisata Situs Gunung Padang, Jawa Barat.

Tim Universitas Padjadjaran (Unpad) yang terdiri dari Muhammad Ghifari Arfananda (Jurusan Ilmu Pemerintahan), Yusfi Sri Wahyuningtias (Jurusan Pariwisata Bahari), dan Dellpati Al Musawwir Nasution (Jurusan Agroteknologi) mengusung proposal bertajuk "MEGA-LESTARI (Megalitik Lestari): Integrasi Circular Economy dan Eco-Sanitation Berbasis Pemberdayaan Pemuda".

Lewat proposal tersebut, mereka fokus pada persoalan pengelolaan sampah wisata dan sanitasi di kawasan Gunung Padang.

"Kalau objek wisatanya bagus tapi kamar mandinya tidak bersih, wisatawan mungkin hanya datang sekali," ujar Dellpati.

Karena itu, mereka menghadirkan konsep eco-sanitation untuk meningkatkan kualitas fasilitas MCK wisata. Selain itu, mereka juga membawa circular economy berbasis pengolahan sampah organik dan anorganik.

Sampah Diolah Jadi Maggot hingga Souvenir UMKM

Menurut Ghifari, saat survei lapangan mereka menemukan sekitar 120 karung sampah per bulan yang belum terkelola dengan baik. "Sampahnya akhirnya dibakar secara terbuka," katanya.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim Unpad menghadirkan sistem pengolahan sampah terpadu. Sampah organik akan diolah menggunakan budidaya maggot untuk pakan ternak warga dan pupuk kompos.

Sementara sampah anorganik akan dicacah menjadi souvenir bernilai ekonomi bagi UMKM lokal. "Jadi sampahnya bukan cuma selesai diolah, tapi bisa diputar lagi menjadi ekonomi sirkular," ujar mereka.

Tak hanya fokus pada lingkungan, mereka juga menggandeng karang taruna dan kelompok sadar wisata agar masyarakat desa terlibat langsung dalam pengembangan wisata Gunung Padang.

"Kami ingin Gunung Padang bisa lebih lestari dan next level. Dampak ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Ghifari.

Tim Unpad memastikan program Mega-Lestari tetap akan dijalankan meski nantinya tidak keluar sebagai pemenang. Dellpati berharap program pengabdian masyarakat seperti ini tidak berhenti hanya karena kompetisi selesai.

"Siapapun yang terpilih nanti, semoga programnya tetap berlanjut dan tidak berhenti ketika pulang dari desa," ujarnya.

Bagi Tim Unpad, Genera-Z Berbakti BCA bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang kolaborasi dan pembelajaran bersama mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Menariknya, sebagian besar anggota tim Unpad ini baru pertama kali mengikuti kompetisi pengabdian masyarakat.

"Ini jadi first experience kami ikut program seperti ini," tambah Ghifari.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UNPAD, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

IPB University Hadirkan Empat Program Terintegrasi

Tim mahasiswa IPB University. (KapanlagiAdrian Utama Putra)

Lawan dari tim Unpad untuk pengabdian di Desa Situs Gunung Padang adalah mahasiswa IPB University yang terdiri dari Miki Andriyansah (Jurusan Manajemen Hutan), Ivana Destya Treeocta Fernandez (Jurusan Meteorologi Terapan), dan Lubna Marwah Syahidah Anfaresi (Jurusan Silvikultur). Mereka membawa proposal bertajuk "Sabilulungan LESTARI (Kelola Sampah, TOGA, dan Agroforestri)".

Awalnya, mereka mengaku hanya ingin mencoba mengikuti kompetisi tanpa ekspektasi tinggi. Karena itu mereka tidak menyangka timnya bisa menembus Top 8 Genera-Z Berbakti 2026.

"Kita awalnya nggak nyangka juga. Tapi ternyata bisa sampai Top 8," ujar Miki.

Dalam menyusun proposal, tim mahasiswa IPB membagi tugas berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Lubna menjelaskan pembagian tugas dilakukan mulai dari penyusunan action plan, health and care, hingga creative team. Meski demikian, seluruh anggota tetap bekerja secara kolektif.

Destya menambahkan tim IPB memilih Gunung Padang karena tertarik dengan potensi budaya dan sejarah situs megalitik tersebut.

"Saya sendiri sebelumnya enggak tahu ternyata ada situs megalitikum yang lebih tua dari piramida Mesir," ujar Destya..

Melalui program "Sabilulungan LESTARI", mereka menghadirkan empat inovasi utama yang saling terintegrasi. Program pertama adalah Simponi atau Sistem Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik. Kedua, Si Anjur, yakni Sistem Analisis Udara dan Cuaca untuk membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan kawasan wisata.

Ketiga adalah Kembara atau Kebun Edukasi Masyarakat Berbasis Alam dengan konsep agroforestri. Dan keempat adalah Sadul Rahayu berupa layanan medical check up gratis untuk masyarakat desa.

"Jadi ada empat program utama yang saling terintegrasi," kata Miki.

Siapkan Modul Edukasi untuk Jaga Keberlanjutan Program

Meski fokus pada lingkungan dan wisata, Tim IPB juga ingin memastikan program yang dibawa mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat desa.

"Kita mau mulai memberikan dampak dari lokasi terdekat dengan kita dulu," kata Lubna.

Untuk menjaga keberlanjutan program, mereka juga menyiapkan modul edukasi bagi masyarakat dan mahasiswa. "Jadi bukan cuma kita memberi informasi, tapi kita belajar bersama dengan masyarakat di Gunung Padang," ujarnya.

Jika kamu tertarik dengan ide yang ditawarkan oleh tim UNPAD, dukung tim tersebut menjadi tim terfavorit di link berikut.

Genera-Z Berbakti 2026 Jadi Ruang Anak Muda Menciptakan Solusi Nyata

Lebih dari sekadar kompetisi, Genera-Z Berbakti 2026 menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk saling belajar dan menciptakan solusi nyata bagi masyarakat. Seluruh finalis memiliki satu semangat yang sama, yakni menghadirkan dampak berkelanjutan untuk desa wisata binaan Bakti BCA.

Menarik untuk melihat beragam ide-ide kreatif dan inovasi yang mereka paparan kepada dewan juri sebagai finalis Top 8 Genera-Z Berbakti 2026. Nah, siapa ya yang bakal keluar sebagai pemenang dan membawa perubahan nyata untuk desa binaannya masing-masing?

Yuk, ikuti terus perjalanan inspiratif para finalis Genera-Z Berbakti 2026 dan jangan lupa dukung tim favorit kamu sekarang juga!

Tentang Genera-Z Berbakti 2026

Genera-Z Berbakti merupakan program yang terbuka bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengimplementasikan ide inovatif melalui KKN, program pengabdian masyarakat, dan kegiatan serupa lainnya di desa wisata binaan Bakti BCA.

Setelah tahap seleksi proposal, program akan memasuki fase penjurian finalis, dilanjutkan pengumuman pemenang, bootcamp, hingga pelepasan peserta ke lokasi pengabdian. Fase implementasi program dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli hingga 6 Agustus 2026.

Informasi lebih lanjut mengenai Genera-Z Berbakti 2026 dapat diakses melalui bca.id/generazberbakti.

Ikuti perjalanan 4 kampus lainnya di link berikut ini.

(Giorgino Antonio pacar Sarwendah ternyata bukan CEO dari GLI.)

(kpl/gil)

Rekomendasi
Trending