Battle Perdana Genera-Z Berbakti 2026 Pecah! Adu Inovasi Mahasiswa UGM vs UIN Bandung Bikin Panelis Penasaran

Battle Perdana Genera-Z Berbakti 2026 Pecah! Adu Inovasi Mahasiswa UGM vs UIN Bandung Bikin Panelis Penasaran
Battle perdana tim UIN Bandung dan tim Universitas Gadjah Mada di Genera-Z Berbakti 2026.

Kapanlagi.com - Perjalanan para finalis BCA Genera-Z Berbakti 2026 semakin penuh tantangan. Kalau di episode pertama penonton diajak mengenal lebih dekat para peserta dan chemistry setiap kampus, kini saatnya mereka membuktikan kualitas ide yang sudah dipersiapkan lewat sesi presentasi di hadapan panelis.

Bukan panelis biasa, para peserta harus tampil percaya diri di depan Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni. Ketiganya siap mengupas habis proposal yang telah disusun sekaligus menguji seberapa matang para finalis memahami program yang mereka rancang.

Tri Mumpuni, Nicholas Saputra dan Cinta Laura Kiehl, panelis BCA Genera-Z Berbakti 2026. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Menariknya lagi, ada aturan baru yang membuat para finalis perlu mengubah kembali strategi kompetisi yang telah disiapkan sebelumnya. Setiap tim harus melewati tiga tahapan penting, yakni Idea Pitching, Think Tank, dan Head to Head. Setiap stage hanya boleh diwakili oleh satu anggota tim, sehingga setiap peserta benar-benar dituntut untuk tampil maksimal membawa nama kelompoknya. Perubahan aturan ini membuat para finalis perlu mengubah kembali strategi kompetisi yang telah disiapkan sebelumnya.

Battle pertama pun mempertemukan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) yang beranggotakan Faruq, Nauval, dan Uzi melawan tim Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati yang terdiri dari Rifki, Tri, dan Tessa.

Kedua tim sama-sama mengembangkan proposal pemberdayaan untuk salah satu Desa Bakti BCA yaitu Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung, Kep. Bangka Belitung. Adu ide berlangsung sengit karena masing-masing menghadirkan solusi yang inovatif, kritis, bahkan membawa alat peraga untuk memperkuat presentasi mereka. Penasaran seperti apa keseruannya?

1. Adu Presentasi dan Alat Peraga yang Bikin Panelis Terpukau

Stage pertama dimulai dengan Idea Pitching, di mana masing-masing kampus mendapat kesempatan mempresentasikan program unggulannya. Sejak awal, kedua kampus sudah menunjukkan keseriusan mereka lewat alat peraga yang dibuat khusus untuk menggambarkan konsep program dan inovasi secara lebih nyata.

Faruq, tim finalis UGM tampil dalam sesi idea Pitch dengan membawa alat peraga. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Mewakili tim UGM, Faruq tampil percaya diri membawakan presentasi yang runtut dan mudah dipahami. Ia menjelaskan konsep sustainable tourism berbasis green blue economy melalui tiga program utama, yaitu Terong Eco Cycle, Terong Explore, dan Festival Cerite Terong.

Tak hanya menyampaikan ide, tim UGM juga membawa maket sistem pengelolaan sampah sebagai gambaran implementasi program mereka di salah satu Desa Bakti BCA ini.

Penyampaian Faruq yang tenang dan menguasai materi bahkan sempat membuat tim lawan merasa tertekan.

"Faruq itu sangat luar biasa. Dari penyampaian juga sangat luar biasa. Tertata dengan rapi," komentar Tri.

Di balik penampilan apik tersebut, ada proses persiapan yang cukup intens dilakukan bersama tim.

"Faruq benar-benar mengubah dalam satu malam. Dengan segala keterbatasannya, dia mampu berhasil melewati itu," ungkap Uzi.

Tak mau kalah, giliran Tri dari tim UIN Sunan Gunung Djati maju membawakan presentasi kelompoknya. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama Desa Wisata Kreatif Terong adalah kondisi bekas area tambang yang membuat kualitas air menjadi kurang baik, ditambah persoalan pengelolaan sampah.

Tri, tim finalis UIN Sunan Gunung Djati tampil dalam sesi Idea Pitch dengan membawa alat peraga. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Dari permasalahan tersebut, tim UIN Sunan Gunung Djati menawarkan tiga program unggulan, yakni Eco Living, Smart Eco Tourism, dan Eco Cultural Showcase.

Yang membuat presentasi mereka semakin menarik adalah kehadiran alat penguji kualitas air yang benar-benar bisa digunakan untuk mendeteksi pH, kandungan mineral, hingga logam di dalam air.

"Mas Tri yang presentasi itu keren banget, karena dia bener-bener bisa nge-framework program kerja kita," puji Tessa.

Meskipun demikian, Tri mengaku kurang puas dengan penampilannya di panggung Genera-Z Berbakti 2026. "Nggak nyangka bisa cukup lancar, biarpun ada beberapa hal yang menurut saya masih kurang."

2. Panelis Uji Alat Peraga Bikin Suasana Makin Tegang

Tim panelis mengajukan pertanyaan dalam sesi Think Tank. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Usai mempresentasikan ide, tantangan berlanjut ke stage Think Tank. Pada sesi ini, para panelis mulai menguji lebih dalam proposal yang sudah dipaparkan melalui berbagai pertanyaan kritis.

Tim UGM menunjuk Nauval sebagai wakil, sedangkan tim UIN Sunan Gunung Djati mempercayakan sesi ini kepada Tessa. Berbagai pertanyaan datang silih berganti, mulai dari implementasi program hingga efektivitas solusi yang ditawarkan.

Meski penuh tekanan, Tessa berhasil menikmati momen tersebut.

"Momen yang bikin aku bangga saat presentasi itu, aku bisa berbicara di situ, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis, dan aku bisa mengintegrasikan program yang kita bawa dengan jawaban-jawaban aku yang menurut aku oke lah," ungkapnya.

Tak hanya mengulas konsep di atas kertas, lagi-lagi alat peraga yang dibawa oleh para finalis menarik perhatian panelis. Hal tersebut terlihat ketika Nicholas Saputra ingin menguji langsung alat peraga yang dibawa para peserta.

Tim panelis menguji alat peraga yang dibawa tim UIN Sunan Gunung Djati. (c)Adrian Putra/KapanLagi

Nicholas pun naik ke panggung untuk mencoba alat penguji kualitas air milik tim UIN Sunan Gunung Djati.

"Saat panelis maju itu aku kayak oh my God, aku bisa ngejelasin dengan baik nggak ya, soalnya alatnya bener-bener engineering banget," cerita Tessa.

Nicholas kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan teknis yang cukup mendalam. Hal tersebut membuat Tri dan Rifki ikut maju ke depan untuk membantu menjelaskan teknologi yang digunakan pada alat tersebut.

Tim panelis mengajukan pertanyaan terkait alat peraga tim UGM. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Sementara itu, Cinta Laura Kiehl dan Tri Mumpuni juga menunjukkan ketertarikannya pada maket pengelolaan sampah milik tim UGM yang menggambarkan sistem pengolahan sampah organik sebagai bagian dari solusi mereka di Desa Terong. Mereka juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait teknologi pada maket yang berhasil dijawab dengan lancar oleh Nauval.

"Untungnya pas di akhir-akhir itu, Kak Cinta dan Bu Puni juga ke tempatku makanya ya alhamdulilah," ujar Nauval.

3. Head to Head Jadi Penentu, Siapa yang Paling Siap?

Rifki dan Uzi tampil di stage Head to Head. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Tahapan terakhir adalah Head to Head, sesi ketika kedua tim saling melempar pertanyaan sekaligus mengkritisi program lawan.

Tim UGM menunjuk Uzi, sedangkan tim UIN Sunan Gunung Djati diwakili oleh Rifki.

Atmosfer kompetisi di Genera-Z Berbakti 2026 semakin terasa karena keduanya harus berpikir cepat untuk mempertahankan argumen sekaligus menjawab kritik yang datang. Adapun, salah satu yang diperdebatkan oleh Uzi maupun Rifki adalah terkait anggaran dari program yang bakal dijalankan.

Dalam hal ini, Uzi menyoroti sistem kelistrikan dari teknologi yang hendak dibawa oleh tim UIN Sunan Gunung Djati ke Desa Wisata Kreatif Terong. Menurut tim UGM, teknologi tersebut membutuhkan listrik yang justru akan membebani ekonomi masyarakat setempat.

Membalas kritikan tersebut, Rifki juga menilai program pembuatan magot yang dicanangkan oleh tim UGM memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.

"Bagaimana ketika terjadi kegagalan dalam proses pembuatan magot itu sendiri dan apakah teman-teman akan menghambur-hamburkan anggaran yang telah dicetuskan dalam program magot ini?," ujar Rifki.

Meski saling menguji, Uzi dan Rifki tetap mampu menjaga sportivitas hingga akhir stage.

Tim panelis memberikan wejangan untuk para finalis di akhir sesi battle. (c) Adrian Putra/KapanLagi

Setelah dua tim melewati tiga stages yang penuh tantangan ini, para panelis pun berunding untuk menentukan siapa yang layak untuk menjalankan program KKN di Desa Wisata Kreatif Terong. Penasaran dengan tanggapan para panelis dari penampilan tim UIN Sunan Gunung Djati dan tim UGM?

Jawabannya bisa kamu saksikan langsung di BCA Genera-Z Berbakti 2026 Episode 2 hanya di YouTube Solusi BCA atau ketik bca.id/genzberbakti. Juga tersedia di Vidio.

(kpl/wri)

Rekomendasi

Trending