Heroik, Inilah Sosok Martir Yang Menghadang Pelaku Bom Gereja Santa Maria Tak Bercela

Senin, 14 Mei 2018 10:48 Penulis: Dhefa Mauren Roos Mary
Heroik, Inilah Sosok Martir Yang Menghadang Pelaku Bom Gereja Santa Maria Tak Bercela
(Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Kapanlagi Plus - Aksi terorisme yang terjadi kemarin di Surabaya menimbulkan duka mendalam. Bukan hanya bagi rakyat Indonesia pada umumnya, namun juga bagi para keluarga korban. Salah satunya adalah keluarga Aloysius Bayu Rendra Wardhana.

Dilansir dari Liputan6.com, Aloysius dilaporkan menjadi salah satu korban pada kejadian keji kemarin. Alyosius bukanlah satu korban yang jatuh di 3 gereja terlapor. Dengan beraninya Aloysius justru 'datang' kepada sang pelaku!

Situasi sekitar rumah duk martir bom Aloysius Bayu (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)Situasi sekitar rumah duk martir bom Aloysius Bayu (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Aloysius meninggal dunia sebagai menjadi martir. Ia justru datang kepada pelaku bom Surabaya tersebut. Dimana ia menghadang sang pelaku yang sedang melaju di atas sepeda motornya menuju Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) yang terletak di Jalan Ngagel 1, Surabaya, Jawa Timur.

Aksi nekatnya ini memang mencegah jatuhnya lebih banyak korban, namun ia mengorbankan dirinya sendiri. Kesedihan pun tak dapat dihindarkan. Suasana duka menyelimuti kediamannya.

Rumah duka ini berada di Kompleks Perumahan Gubeng Kertajaya I/15 SUrabaya. Sejumlah karangan bunga tanda duka cita pun berjajar di sepanjang jalan menuju lokasi ini. Termasuk dari Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana, Ketua DPRD Surabaya Armuji, dan dari keluarga besar Grab Surabaya.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, memastikan ledakan yang terdengar di Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, diduga bom bunuh diri. (credit : Abidin/Suarasurabaya.net)Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, memastikan ledakan yang terdengar di Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, diduga bom bunuh diri. (credit : Abidin/Suarasurabaya.net)

Ditemui di rumah duka, sang ayah, Siswanto justru menyampaikan permintaan maaf atas naman anaknya. "Mohoh maaf mas, jika ada kesalahan sama Bayu, " ucap Siswanto saat ditemui di oleh tim Liputan6, Minggu (13/5/2018).

Di samping sang ayah, adik kandung korban yang bernama Galih turut buka suara. Galih mengungkapkan bahwa semasa hidup sang kakak adalah sosok pria yang tegas. Sayangnya mendiang harus pergi meninggalkan 2 anak, 1 anak laki-laki berumur 3 tahun dan 1 anak perempuan yang masih berumur 1 tahun. Juga sang istri, Monika, yang bekerja sebagai guru PAUD di Santa Clara.

Pada kesempatan ini Galih menceritakan pertemuan terakhirnya dengan sang kakak. Momen ini sendiri berlangsung pada tanggal 11 Mei yang lalu. Kata Galih, " Enggak ada pesan sama sekali dari kakak. Kakak saya sering menyapa dengan tanya, 'Sudah makan belum? Itu saja."

Bernama lengkap Aloysius Bayu Rendra Wardhana, mendiang merupakan seorang laki-laki kelahiran Surabaya, 20 Juni 1980. Ia diketahui sebagai relawan gereja. Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) adalah tempat dimana ia mengabdikan diri sebagai koordinator relawan keamanan. Menurut kabar yang beredar, saat kejadian Bayu sedang berada di gerbang gereja. Dimana di sana ada sejumlah petugas kepolisian yang bersamanya.

"Entah apa yang akan terjadi bila Bayu tidak berada di sekitaran gerbang itu. Kemungkinan besar korban akan jauh lebih banyak. Itu adalah jasa besar Bayu, " ungkap Joko Triyono, salah satu warga yang juga tetangga dari korban.

For your information, korban tercatat sebagai alumnus Universitas Dharma Cendika, jurusan hukum. Untuk menopang hidupnya bersama keluarga kecilnya ia berkerja sebagai wedding photographer dan driver online. Selamat jalan Aloysius Bayu Rendra Wardhana.

(credit video : vidio.com Liputan6.com)

(kpl/lip/ren)



MORE STORIES




REKOMENDASI