Berawal dari Facebook, Herry Wujudkan Mimpi ke Jepang Jadi Ahli Nuklir

Rabu, 20 September 2017 12:36 Penulis: Tyssa Madelina
Berawal dari Facebook, Herry Wujudkan Mimpi ke Jepang Jadi Ahli Nuklir
© Brilio

Kapanlagi Plus - Menjadi seorang ahli nuklir adalah salah satu impian Herry Wijayanto. Lulusan Pendidikan Kimia, Universitas 11 Maret Solo (UNS) ini semakin berambisi untuk meraih cita-citanya sejak berkenalan dengan DR. Tus. Dilansir dari Brilio, Herry mengaku sudah memiliki keinginan untuk meneruskan kuliah di luar negeri sejak awal kuliah. Ia kemudian menghubungi dosen-dosennya yang berkuliah di luar negeri melalui jejaring media sosial Facebook dan tak disangka hal tersebut justru mempertemukannya dengan DR. Tus.

Dosen Herry memberikan pengarahan untuk menemui DR. Tus secara langsung. Bak mendapat angin segar, DR. Tus langsung menawarinya kesempatan untuk berkuliah di Jepang. Awalnya ia meragukan kredibilitas DR. Tus, namun lambat laun ia percaya setelah diundang ke Rumah Pintar DR. Tus.

Herry saat menjalani masa orientasi di Universitas Hiroshima (© Brilio)Herry saat menjalani masa orientasi di Universitas Hiroshima (© Brilio)

Singkat cerita, DR. Tus meminta Herry untuk mempersiapkan segala hal untuk keperluan kuliah di Jepang. Bahasa menjadi hal utama yang dipelajari Herry, selain itu ia juga belajar mengenai kebudayaan dan memperdalam ilmu agama, mengingat Jepang adalah salah satu negara yang tidak mengenal agama. Berkat tempaan tangan dingin DR. Tus, Herry berhasil mendapatkan beasiswa sampai Doktor di bidang 'Radio Chemistry' di Universitas Hiroshima.

DR. Tus mengungkapkan bahwa Herry memiliki potensi yang besar untuk kuliah di Jepang. Selain itu, riset yang dipelajari Herry akan berguna dan dibutuhkan oleh Indonesia di masa depan. Herry sendiri akan menempuh kuliahnya akhir September ini.

Rumah Pintar DR. Tus telah mencetak 25 pemuda-pemudi yang sukses melanjutkan kuliah di luar negeri. Berawal dari keresahannya akan sistem pendidikan di Indonesia, DR. Tus membangun sebuah sarana yang bersahabat bagi murid-muridnya. Melalui ketekunannya, ia kemudian mendirikan sebuah sarana pendidikan yang menerapkan sistem pembelajaran Jepang, dimana selain bahasa Inggris, siswa akan diajari soal kemadirian, pembentukan karakter, nilai-nilai kemanusiaan dan nilai agama.

Pendidik yang juga menulis buku ini juga berkeinginan untuk memotivasi anak didiknya meraih ilmu yang setinggi-tingginya sampai ke luar negeri. Ia bermimpi untuk mendidik generasi penerus bangsa tanpa bayaran satu rupiah atau yen. Baginya, bayaran terbaik adalah masa depan pendidikan di Indonesia.

(kpl/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina



MORE STORIES




REKOMENDASI