Kebaya Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Indonesia, Ini Daftar Penuhnya

Kebaya Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Indonesia, Ini Daftar Penuhnya
Ilustrasi kebaya (Credit: Pixabay/Deddy_Sunarto)

Kapanlagi.com - Indonesia, negeri yang kaya akan budaya dan keindahan alam, memang tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Dengan lebih dari 17.000 pulau, setiap sudutnya menyimpan warisan yang berharga, tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga diakui oleh dunia internasional. Salah satu bentuk pengakuan tersebut datang dari UNESCO, yang memberikan label Warisan Dunia sebagai tanda penghormatan terhadap keanekaragaman yang dimiliki tanah air kita.

Pengakuan dari UNESCO bukan sekadar gelar bergengsi, melainkan sebuah pengakuan atas keindahan dan nilai sejarah yang terkandung dalam setiap situs. Dari candi-candi megah yang menjulang tinggi hingga taman nasional yang menakjubkan, masing-masing situs ini adalah cerminan dari perjalanan panjang dan warisan luar biasa yang harus kita lestarikan untuk generasi mendatang.

Baru-baru ini, dua ikon budaya Indonesia, Reog Ponorogo dan Kebaya, berhasil mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Dunia. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih dalam mengenai Warisan Budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO, sebagaimana dihimpun Kapanlagi.com dari berbagai sumber, Kamis (5/12).

1. Daftar Warisan Budaya Indonesia yang Diakui UNESCO

Indonesia, negeri yang kaya akan seni dan budayanya, telah mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO untuk berbagai warisan budaya yang menakjubkan.

Sejak Wayang diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003, hingga Kebaya yang baru saja diresmikan pada 4 Desember 2024, setiap elemen mencerminkan kedalaman filosofi dan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya.

Dari keris yang melambangkan kebijaksanaan, batik yang menggambarkan siklus kehidupan, hingga angklung yang merepresentasikan kebersamaan budaya Sunda, semua ini mengisahkan keunikan dan keindahan Indonesia.

Tari Saman yang penuh ritme, tas noken dari Papua yang menggambarkan kearifan lokal, hingga gamelan yang melambangkan harmoni sosial, semuanya bersatu dalam satu simfoni budaya yang kaya.

Tak ketinggalan, seni merakit perahu Pinisi dan pencak silat yang menunjukkan ketahanan dan sportivitas, serta Reog Ponorogo yang memikat dan kebaya yang elegan, menjadikan Indonesia sebagai surga bagi pencinta seni dan budaya.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Terbaru Reog Ponorogo dan Kebaya Diakui UNESCO

Pada tanggal 3 Desember 2024, Reog Ponorogo dengan bangga mencatatkan namanya dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, diakui dalam kategori "In Need of Urgent Safeguarding" pada Sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Asuncion, Paraguay.

Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, yang memimpin delegasi Indonesia, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Komite WBTb UNESCO serta semua pihak yang berkontribusi dalam pengakuan ini.

Menurut Oemar, pengakuan ini tidak hanya menegaskan nilai seni Reog, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat untuk melestarikan identitas budaya Indonesia bagi generasi yang akan datang.

Tak lama setelahnya, pada 4 Desember 2024, kebaya juga mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO, menambah kebanggaan budaya Indonesia di pentas dunia.

3. Situs Warisan Budaya Dunia di Indonesia yang Diakui UNESCO

Candi Borobudur, mahakarya budaya Buddha yang megah, terletak di jantung Magelang, Jawa Tengah, dan memegang gelar sebagai candi Buddha terbesar di dunia.

Dibangun oleh Dinasti Syailendra pada abad ke-9, keindahan situs ini terpancar melalui lebih dari 2.000 panel relief dan 504 arca Buddha yang menakjubkan.

Setiap relief tidak hanya menggambarkan ajaran Buddha, tetapi juga mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa kuno yang kaya akan tradisi.

Lebih dari sekadar tempat ibadah, Borobudur telah menjelma menjadi magnet wisata sejarah yang menarik ribuan pengunjung dari seluruh penjuru dunia, siap menyelami kedalaman spiritual dan estetika yang ditawarkannya.

4. Taman Nasional Komodo: Habitat Kadal Purba

Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara bukan hanya sekadar rumah bagi Komodo, kadal raksasa yang menjadi ikon dunia, tetapi juga menyimpan keindahan bawah laut yang menakjubkan dengan keanekaragaman hayati yang melimpah.

Di tengah pesona alam yang memukau ini, pengelolaan taman berkomitmen untuk melestarikan flora dan fauna yang unik, sehingga setiap langkah pengunjung bukan hanya sekadar menikmati keindahan, tetapi juga menyadari betapa pentingnya menjaga ekosistem yang berharga ini.

5. Taman Nasional Ujung Kulon: Perlindungan Badak Jawa

Taman Nasional Ujung Kulon, yang terletak di ujung barat Pulau Jawa, bukan hanya sekadar taman, tetapi juga benteng kehidupan bagi badak Jawa, salah satu spesies paling langka di dunia.

Dikelilingi hutan tropis yang lebat dan ekosistem yang kaya, taman ini memikat hati siapa pun yang mengunjunginya.

Melalui upaya konservasi yang penuh dedikasi, Ujung Kulon berhasil melindungi populasi badak Jawa dari ancaman kepunahan, menjadikannya simbol keberhasilan konservasi di tanah air kita.

6. Situs Manusia Purba Sangiran: Jejak Evolusi Manusia

Sangiran, yang terletak di jantung Jawa Tengah, merupakan permata arkeologi yang menyimpan rahasia evolusi manusia.

Di situs ini, fosil Homo erectus yang berusia lebih dari satu juta tahun terungkap, memberikan gambaran menakjubkan tentang perjalanan sejarah manusia di Asia.

Tak hanya sebagai tempat penelitian, Museum Sangiran juga berfungsi sebagai pusat edukasi yang menarik, mengundang pengunjung untuk menyelami kisah-kisah menakjubkan tentang asal-usul kita.

7. Lanskap Budaya Bali: Harmoni Alam dan Tradisi

Sistem Subak di Bali, yang merupakan cerminan dari filosofi Tri Hita Karana, telah diakui sebagai warisan budaya yang tak ternilai. Sebagai metode irigasi tradisional, Subak tidak hanya mendukung pertanian padi, tetapi juga menjaga keseimbangan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kearifan lokal ini bukan hanya bagian integral dari budaya Bali, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi.

Para pengunjung berkesempatan untuk menyelami keunikan sistem ini melalui tur yang memikat di antara hamparan persawahan yang menawan di Pulau Dewata.

(Di usia pernikahan 29 tahun, Atalia Praratya gugat cerai Ridwan Kamil.)

(kpl/rmt)

Rekomendasi
Trending