Kisah Inspiratif Yustina Yuniarti, Guru Honorer di Pelosok NTT yang Telah Mengabdi Selama 11 Tahun

Kisah Inspiratif Yustina Yuniarti, Guru Honorer di Pelosok NTT yang Telah Mengabdi Selama 11 Tahun
SDK Wukur Sendiri (Credit: Dokumentasi Pribadi)

Kapanlagi.com - Di tengah keterbatasan akses dan medan yang nggak mudah, semangat mengajar tetap menyala di pelosok Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sosok itu adalah Ibu Yustina Yuniarti, guru honorer SDK Wukur yang setiap hari menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer melewati jalan setapak dan hutan demi memastikan murid-muridnya tetap bisa belajar dan punya mimpi besar.

Selama 11 tahun, Yustina memilih bertahan mengabdi di sekolah sederhana tersebut. Di SDK Wukur sendiri, ada 34 siswa yang didampingi delapan tenaga pendidik. Meski fasilitas terbatas, semangat belajar tetap hidup berkat ketulusan para guru yang terus hadir untuk anak-anak di sana.

1. Perjuangan Mengajar di Tengah Keterbatasan

Bagi Yustina, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan hati. Walaupun harus menghadapi tantangan jalan yang sulit dan kondisi ekonomi yang nggak selalu mudah, ia tetap memilih bertahan demi pendidikan anak-anak di desanya.

"Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati," tutur Yustina.

Kisah Yustina juga menggambarkan perjuangan banyak perempuan Indonesia yang diam-diam terus berjuang demi masa depan keluarga dan generasi berikutnya. Semangat itu dinilai sejalan dengan perjuangan para ibu nasabah Mekaar yang setiap hari bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik.

(Giorgino Antonio pacar Sarwendah ternyata bukan CEO dari GLI.)

2. PNM Peduli Beri Dukungan dan Apresiasi

Melihat dedikasi tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Peduli hadir memberikan dukungan sosial kepada Yustina sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya di dunia pendidikan.

Bantuan ini diharapkan bisa menjadi penyemangat bagi Yustina dan para guru lain yang tetap bertahan mengajar di tengah berbagai keterbatasan. Kehadiran PNM juga menjadi bentuk kepedulian bahwa pemberdayaan nggak hanya soal usaha dan ekonomi, tapi juga tentang mendukung pendidikan di daerah terpencil.

"Terima kasih PNM sudah hadir membantu saya. Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati," ujar Yustina.

3. Ketulusan Kecil yang Berdampak Besar

Bagi PNM, perjuangan Yustina adalah pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus. Dari ruang kelas sederhana hingga jalan panjang yang ditempuh setiap hari, ada harapan besar yang terus dijaga demi masa depan anak-anak Indonesia.

Lewat program PNM Peduli, perusahaan berharap semakin banyak sosok inspiratif seperti Yustina yang mendapat dukungan untuk terus melanjutkan pengabdian mereka bagi pendidikan dan masyarakat.

(Azura anak Aurel Hermansyah jatuh dari tangga, langsung dilarikan ke UGD.)

(kpl/gtr)

Rekomendasi
Trending