Logan Rice, Beras dari Ganyong dan Bayam Hasil Karya Siswi MTs Malang

Sabtu, 31 Agustus 2019 11:30 Penulis: Rahmi Safitri
Logan Rice, Beras dari Ganyong dan Bayam Hasil Karya Siswi MTs Malang
Penemu LOGAN Rice © KapanLagi.com®/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Satu lagi karya remaja Indonesia yang layak mendapat apresiasi. Kali ini giliran Dania Wijayanti dan Rizqina Faizana, siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Malang. Mereka membuat inovasi beras buatan yang diberi nama Logan Rice, kepanjangan dari Low Glycemic and High Nutrition Analog Rice. Uniknya beras analog ini terbuat dari tanaman umbi ganyong, singkong dan bayam.

"Rasanya tidak beda jauh dari beras biasa, bisa dikonsumsi langsung tanpa lauk atau bisa dijadikan nasi goreng. Dimakan dengan susu seperti sereal juga enak," kata Dania Wijayanti dalam Anugerah Inovasi Teknologi (Inotek) 2019 di Hotel Savana Kota Malang, Kamis (29/8/2019).

1. Cocok Buat Penderita Diabetes

Menurut Dania, ide pembuatan beras ini berawal dari kegelisahan tentang konsumsi beras penduduk Indonesia yang dinilai sudah tinggi. Kondisi tersebut dianggap berbahaya bagi ketahanan pangan nasional. Karya itu menjadi alternatif bagi penyediaan bahan pangan non beras, dengan bersumber dari alam Indonesia yang belum termanfaatkan.

Secara bentuk, Logan Rice mirip dengan beras, memiliki nutrisi tinggi dan lebih sehat. Proteinnya lebih tinggi dari beras biasa dan memiliki serat yang tinggi. Seratnya itu berbanding terbalik dengan kadar glycemic-nya. 

"Cocok banget untuk penderita diabetes, karena rendah glycemic dan cocok untuk orang yang lagi diet," kata Rizqina.

2. Bahannya Mudah Didapat

Proses pembuatannya sendiri cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu lama. Selain itu, bahan-bahan pun bisa didapatkan di pasaran dengan cukup mudah.

"Pertama tepung ganyong dan bahan lainnya dicambur dan diuleni. Kemudian dicetak seperti buliran beras, lalu dioven selama 1 jam 50 menit dengan suhu 100 derajat celsius," kata Dania.

3. Proses Memasaknya Cepat

Setelah diperoleh bentuk menyerupai beras, tinggal dimasak seperti menanak nasi, bisa menggunakan rice cooker seperti biasa. Yang lebih penting lagi menanaknya lebih cepat dari nasi biasa sehingga yang terburu-buru bisa menghemat waktu.

"Ini lebih cepat. Kalau beras biasa satu cup 15 menit, ini 8-10 menit," tegas Dania.

4. Harga Bisa Lebih Murah

Bahan-bahan yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan mudah di pasaran dalam bentuk tepung ganyong. Sehingga masyarakat bisa memproduksi sendiri untuk dengan diet dengan lebih murah.

"Harga untuk skala laboratorium sekitar Rp 35.000 per kilogram, kalau industri bisa lebih murah lagi," tegasnya.

Inovasi Dania dan Rizqina tersebut berhasil menyabet Juara I Kategori Inovasi Teknologi Bidang Agrobisnis dalam lomba Inovasi Teknologi (Inotek) 2019 Kota Malang. Keduanya berhak atas hadiah Rp 9 Juta dan piagam penghargaan. Selamat!

 

(kpl/dar/pit)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI