Masyarakat Wuhan Diisolasi, Didiet Afandi Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya Malang Belum Bisa Lanjutkan Kuliah ke China

Jum'at, 31 Januari 2020 15:35 Penulis: Canda Dian Permana
Masyarakat Wuhan Diisolasi, Didiet Afandi Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya Malang Belum Bisa Lanjutkan Kuliah ke China
Didiet Afandi © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Didiet Afandi seharusnya minggu lalu kembali ke Huazhong China untuk kembali kuliah. Namun penutupan akses oleh pemerintah setempat, sistem perkuliah diundur sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Didiet merupakan dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) Malang yang sedang menempuh kuliah S3 di Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok (China).

Saat ini, dosen dan mahasiswa UB yang studi di China sedang mengambil liburan semester di Indonesia sejak awal Januari. Penutupan akses beberapa wilayah di China membuatnya belum kembali ke China, hingga saat ini.

"Saya masih di China dari Desember sampai awal Januari. Enam mahasiswa UB masih di Indonesia dan belum kembali ke China," kata Didiet di Malang, Rabu (29/1).

1. Kondisi China Sedang Musim Dingin

Didiet menceritakan pada awal tahun 2020, sebelum kembali ke Indonesia, kondisi China sedang musim dingin, sehingga memang tidak banyak yang beraktivitas keluar rumah. Saat itu sudah diperoleh informasi adanya warga yang terindikasi virus corona.

"Waktu awal-awal tahun kemarin baru ada dua warga yang terindikasi virus Corona. Saat itu, kondisi sedang musim dingin dan tidak banyak aktivitas karena saya pikir para warga lagi liburan dan pulang ke desa merayakan Imlek. Kebetulan saya tinggal di pusat kotanya," katanya.

Saat ini pemerintah setempat sedang memprotect Wuhan dari seluruh kegiatan untuk mencegah penyebaran virus corona. Didiet mengaku terus menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya yang di China guna mengetahui perkembangan setiap waktu.

"Terakhir teman-teman di sana koordinasi dengan KBRI dan beberapa ingin pulang, namun pemerintah setempat sedang menutup akses agar tidak menyebar. Di sana bis dan kereta api tidak jalan. Aktivitas sementara hanya di dalam ruangan saja," katanya.

2. Virus Corona Sempat Berkembang

Secara terpisah, dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), Dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A(K) menjelaskan, riset www.thelanset.com bahwa corona sempat berkembang beberapa tahun lalu dalam bentuk SARS dan MERS lalu. Saat ini virus itu disebut sebagai 2019-Novel Corona Virus (2019-nCov).

Awal Januari lalu sebuah minimarket pasar ikan ditutup karena diduga ada kontaminasi hewan dengan coronavirus. Perjalanan virus ini cukup cepat karena pasien yang terinfesi virus corona masuk ICU dalam jangka waktu lima hari.

"Masa inkubasinya dua sampai enam hari, lalu pada hari kesembilan mengalami sesak nafas lalu memberat dan ada ancaman gagal nafas, hari kesepuluh masuk ICU, dan rata-rata mengalami gejala penumonia (radang paru) yaitu batuk sesak dan kemudian ada demam," katanya.

3. Paling Banyak Menyerang Usia Muda Menuju Tua

Virus paling banyak menyerang warga usia 25 sampai 49 tahun itu bisa diantisipasi dengan tetap waspada, menjaga kebersihan tangan dalam waktu 20 detik, menghindari mengusap mata, hidung atau mulut setelah memegang pasien. Menutup mulut dan hidung menggunakan tissue setelah bersin, menggunakan masker bila mengalami gangguan saluran napas.

"Guna mengantisipasi menyebarnya virus corona, Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) juga mengadakan simulasi penanganan pasien yang terinfeksi virus tersebut," katanya.

(kpl/dar/CDP)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI