Media Jerman ke Indonesia: Makan Gudeg di Yogyakarta Hingga Wisata ke Monas

Selasa, 30 Juli 2019 12:00 Penulis: Ayu Miranti
Media Jerman ke Indonesia: Makan Gudeg di Yogyakarta Hingga Wisata ke Monas
┬ęShutterstock

Kapanlagi Plus - Bukan rahasia lagi jika Indonesia punya daya tarik yang begitu kuat dalam hal pariwisata. Tidak hanya pesona alam, budaya serta adat yang unik dan beraneka ragam. Wisata kuliner yang dimilikinya juga patut untuk diacungi jempol. Yogyakarta dan Jakarta adalah deretan kota di Indonesia yang punya pesona wisata yang luar biasa. Nggak heran jika wisatawan lokal maupun mancanegara ingin banget untuk berkunjung ke sana.

Terdengarnya keindahan pariwisata Indonesia ke wisatawan asing, tentu saja nggak jauh dari usaha Kementerian Pariwisata. Terbaru, Kemenpar mengadakan famtrip yang diikuti oleh media asal Jerman. Acara yang diadakan tangga; 19-23 Juli 2019 kemarin berlangsung sangat antusias. Ingin tahu seperti apa keseruannya?

Famtrip bertema Experiencing Cultural Wonders kali ini diikuti 5 pembuat opini. Terdiri dari empat koran harian dan satu majalah fotografi. Kelima media tersebut dipasarkan di area Jerman Selatan. Seperti Munchen, Frankfurt, Stuttgart, Mainz, Ausburg, dan Nuremberg yang notabene kota-kota di Jerman dengan tingkat penghasilan penduduknya yang tinggi. Total sebaran produksi dari kelima media tersebut mencapai 830.000 eksemplar dengan total perkiraan sebaran 2.3 juta pembaca.

Sembari menikmati sajian kuliner tradisional, peserta disuguhi tarian Golek Menak Kenyo Tinembe. Setelah pertunjukan selesai, peserta famtrip diajak untuk kostum tradisional dan kemudian melakukan sesi foto dengan latar belakang rumah tradisional Jawa.

Di hari kedua, peserta famtrip melakukan city tour di situs-situs Mataram Islam. Seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Jeron Benteng, dan Alun-Alun Kidul. Sebagai pusat kebudayaan Yogyakarta, Keraton memiliki unsur wisata budaya dan sejarah yang sangat kental. Mulai dari budaya intangible seperti sejarah kerajaan, proses penurunan kekuasaan, sistem pemerintahan. Maupun kebudayaan tangible; seperti baju adat, hadiah hadiah kerajaan asing, peralataan kerajaan, dan koleksi hewan keratin.

Peserta famtrip juga diajak mengenal kejayaan Indonesia di masa Hindu Buddha. Destinasi yang dipilih adalah Temple Tour. Terdiri dari Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Tujuan lain dari destinasi ini adalah memamerkan toleransi bangsa Indonesia.

Destinasi ke empat dalam perjalanan wisata pengenalan ini merupakan kombinasi wisata alam dan sejarah. Peserta diajak untuk menikmati panorama lembah Gunung Merapi menggunakan Jeep. Ditambah beberapa stop point yang menggambarkan efek letusan Gunung Merapi pada tahun 2010. Seperti Museum Sisa Hartaku dan Batu Alien. Destinasi ini juga mengajak peserta famtrip untuk mengenal pola hidup masyarakat lereng Gunung Merapi melalui aktivitas pertambangan pasir dan industri kopi lokal.

Sebagai ultimate destination, peserta diajak ke Candi Borobudur. Candi ini adalah destinasi super prioritas. Selain itu, estetika Candi Borobudur mampu merepresentasikan kejayaan sejarah bangsa Indonesia di era Hindu Buddha. Peserta famtrip diajak untuk menelisik tingkat kecerdasan bangsa Indonesia melalui arsitektur bangunan Candi Borobudur dan semua nilai yang terkandung di dalam setiap pahatan relief.

Dari Yogyakarta, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Ibukota negara dianggap mampu menjadi representasi sejarah Indonesia pada masa kolonialisme dan awal kemerdekaan.

Di destinasi ini, peserta juga diajak untuk melihat panorama kota Jakarta yang menyuguhkan kesan metropolis. Seluruh rangkaian perjalanan wisata pengenalan tersebut ditutup dengan mengunjungi Kawasan Kota Tua Jakarta dan Museum Fatahillah yang sarat dengan wisata sejarah.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan acungan jempol terhadap suksesnya pelaksanaan famtrip. Ia berharap kegiatan ini juga berimpact positif terhadap kunjungan wisman asal Jerman.

“Jika selama ini Indonesia dikenal melalui Bali, famtrip kali ini membuat wisatawan mancanegara juga mengetahui jika Indonesia memiliki Yogyakarta dan Jakarta. Kota yang sangat kental dengan sejarah dan budaya. Kita harapkan media yang mengikuti famtrip menyampaikan informasi mengenai kekayaan itu. Dan membuat wisatawan Jerman yang berkunjung ke Indonesia semakin meningkat,” paparnya.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata Nia Niscaya, ada alasan mengapa famtrip mengangkat potensi wisata sejarah dan budaya.

“Indonesia tidak bisa dipisahkan dari budaya. Dua hal ini sudah seperti dua sisi mata uang. Sangat susah dipisahkan. Mengapa? Karena Keberagaman budaya menjadi citra kuat Indonesia di mata dunia. Dan kekayaan ini jelas tak lepas dari perkembangan sejarah. Sejarah yang dilalui bangsa Indonesia sejak zaman pra sejarah hingga era modern,” papar Nia, Minggu (28/7).

Ditambahkan Nia, dampak dari sejarah panjang itu membuat Indonesia memiliki banyak peninggalan budaya. Baik tangible maupun intangible.

“Peninggalan ini kemudian kita coba dimanfaatkan. Kita jadikan sebagai daya tarik wisata. Harapannya, mampu mendatangkan wisatawan. Baik wisatawan dalam maupun luar negeri,” sambungnya.

Sementara Asdep Pengembangan Pemasaran II Regional IV Kemenpar Agustini Rahayu, mengatakan famtrip yang digelar ini merupakan strategi untuk mengangkat destinasi Indonesia melalui persepsi media.

“Famtrip ini menjadi strategi kita untuk mempromosikan daya tarik wisata budaya dan sejarah. Sekaligus, sebagai penguatan Branding Wonderful Indonesia di Pasar Jerman,” tuturnya.

Ditambahkannya, famtrip juga diharapkan bisa membantu memenuhi pencapaian target kunjungan wisatawan asal Jerman. Sebesar 320.800 wisman pada tahun 2019. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2018 target kunjungan wisman Jerman sebesar 304.000 orang.

(*/ayu)

Editor:

Ayu Miranti



MORE STORIES




REKOMENDASI