Perjuangan Anisa Amalia Octavia Menjadi Penerbang Pesawat Hercules Perempuan, Berat!

Rabu, 02 Oktober 2019 18:11 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini
Perjuangan Anisa Amalia Octavia Menjadi Penerbang Pesawat Hercules Perempuan, Berat!
Anisa Amalia Octavia © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Seiring waktu setelah terbang beberapa kali, tidak terasa phobia ketinggiannya pun hilang dengan sendirinya. Sekarang justru sebaliknya, Anisa Amalia Octavia semakin gila manuver dan berformasi ekstrem.

"Karena kalau saya mempertahankan itu, malah saya terseok-seok di pendidikan. Jadi saya mencoba menghilangkan. Saya tuh biar bisa mudah menjalani pendidikan di sana, akhirnya saya seneng manuver, seneng formasi, yang ekstrem-ekstrem itu. Jadi seneng. Nggak tahu kapan phobianya hilang. Ternyata bisa dilawan phobia itu," kisahnya.

Seiring waktu juga, orangtuanya dapat menerima dan legowo dengan status anaknya yang saat ini menjadi seorang pilot. Orangtuanya dengan sepenuh hati mendukungnya sebagai pilot perempuan, yang memang tidak banyak dimiliki oleh bangsa ini.
 
"Ibu saya mikirnya, sudahlah kalau ibu tetep nggandoli, nahan kamu, entar kamu malah nggak lancar. Ibu juga mengubah mindset, ibu doain kamu daripada mempersulit. Akhirnya orangtua saya setuju, saya masuk AU, jadi pilot," ungkap Sulung dari 3 bersaudara ini.
 

 

1. Butuh Tenaga Besar

Anisa kali pertama menerbangkan pesawat latih jenis TP-120, kemudian setelah penjurusan di fix wing berlatih dengan pesawat KT1B. Masing-masing ditempuh dengan 100 jam penerbangan. Belum genap sebulan Anisa di Skuadron Udara 32 dan baru menjalani 6 Shorty penerbangan setara 8 jam terbang dengan Hercules C-130.

Saat pertama kali menerbangkan Hercules yang dirasakannya cukup berat dan butuh tenaga. Karena di pesawat sebelumnya yang diketahui masih menggunakan pesawat latih dengan alat kemudi berbentuk joystick. Sekuat tenaga dikeluarkan, tetapi tuas power tidak bergerak, padahal friction yang berfungsi meringankan.

"Instrukturnya bilang, 'Ah kamu gini aja nggak kuat! Saya harus satu tangan memegang kontrol colum buat geraknya pesawat. Satu tangan buat power. Kalau take off gitu nggak boleh pakai dua tangan. Satu ngangkat pesawat, satunya memajukan atau mendorong pesawat. Dua-duanya harus kuat," ungkapnya.

2. Kuat

Setiap sore dan pagi, Anisa pun harus oleh raga angkat barbel dan push up agar tangannya bisa kuat mengendalikan tuas pesawat. Tetapi memang tidak hanya dirinya, para pilot yang masih baru semua merasakan berat.

"Yang cowok saja saya tanya, pertama kali terbang bagaimana sih, dulu juga nggak kuat. Ternyata masih bisa dilatih," tegas mengaku lega.

(kpl/dar/phi)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI