Perjuangan Hafiz Jadi Peselancar Cilik, Luka Jahitan - Ditentang Sang Ibu

Senin, 30 Oktober 2017 21:05 Penulis: Tyssa Madelina
Perjuangan Hafiz Jadi Peselancar Cilik, Luka Jahitan - Ditentang Sang Ibu
Ilustrasi Peselancar Menaklukkan Ombak di Pantai Lhoknga, Banda Aceh ©AFP PHOTO/Chaideer Mahyuddin

Kapanlagi Plus - Usianya memang masih muda, tahun ini ia baru saja menginjak umur ke 11. Namun, prestasinya dalam cabang olahraga selancar laut sudah tak bisa diremehkan lagi. Ditambah lagi, acara Aceh International Surfing Championship (AISC) yang berlangsung sejak tanggal 26-28 Oktober 2017 lalu di Pantai Matanurung, Simeule, Aceh semakin membawa namanya tersohor di cabang olahraga air tersebut.

Sebelumnya, selancar laut atau surfing adalah salah satu olahraga yang paling diminati oleh para wisatawan dunia. Dikenal sebagai negara maritim, Indonesia memiliki banyak laut yang berpotensi untuk digunakan sebagai arena olahraga ini, salah satunya di Aceh. Selain memiliki potensi ombak yang memikat adrenalin para surfer, laut di Aceh nampaknya juga memikat nyali seorang anak muda untuk menekuninya.

Namanya Hafiz, usianya masih 8 tahun saat pertama kali tertarik dengan surfing. Namun karena terhalang oleh kondisi ekonomi, ayahnya yang bekerja sebagai satpam di Ranu Surf Camp, Pantai Matanurung tidak dapat memfasilitasinya peralatan surfing. Alhasil, si kecil Hafiz pun harus meminjam papan selancar yang digunakannya untuk berlatih.

Sosok Hafiz, cita-citanya adalah menjadi peselancar profesional dan membawa nama harum kotanya ke kancah internasional. ©2017 merdeka.com/afifSosok Hafiz, cita-citanya adalah menjadi peselancar profesional dan membawa nama harum kotanya ke kancah internasional. ©2017 merdeka.com/afif

Beruntungnya, atas kegigihan Hafiz, ia pun diberi hadiah oleh salah seorang turing asing di camp tersebut. Tidak main-main, Hafiz langsung diberi empat buah papan selancar dengan dua ukuran, kecil dan besar. Namun, tentunya sebelum berhasil menaklukan ombak seperti saat ini, perjalanan Hafiz tidaklah mudah.

Satu tahun setelah memiliki papan selancarnya sendiri, Hafiz mengalami kecelakaan saat sedang latihan. Akibat kecelakaan tersebut, ia mendapat tiga jahitan di dahinya. Sang ibu, Ely yang sedari awal sudah tidak menyetujui hobi barunya tersebut semakin menentang tatkala ia khawatir buah hatinya nanti akan berhadapan dengan ombak yang lebih besar. Namun, akibat kegigihan Hafiz beserta dukungan besar dari sang ayah, Efy pun memilih untuk ikhlas membiarkan Hafiz untuk tetap berlatih.

Kini, setelah menyelesaikan kompetisinya di Aceh, Hafiz mengaku semakin termotivasi. Meskipun pada kompetisi di Simeulue lalu, Hafiz harus tersingkir karena belum berhasil mengalahkan beberapa seniornya namun semangatnya tak gentar. Ke depannya, ia berharap dapat menjadi surfer profesional dan bisa berkompetisi di kancah internasional. Ia ingin membawa nama harum Simeulue di ajang berikutnya.

(kpl/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina



MORE STORIES




REKOMENDASI