Prediksi Musim Kemarau 2025 di Indonesia, Simak Penjelasan BMKG

Prediksi Musim Kemarau 2025 di Indonesia, Simak Penjelasan BMKG
Ilustrasi Musim Kemarau (Credit: Joshua Woroniecki/Unsplash)

Kapanlagi.com - Musim kemarau tahun 2025 sudah memulai debutnya sejak bulan April dan diprediksi akan terus meluas hingga pertengahan tahun. Meskipun durasinya diperkirakan lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, ancaman kekeringan tetap mengintai di sejumlah wilayah strategis di Indonesia. Ini adalah sinyal penting bagi sektor pertanian, energi, hingga penanganan bencana untuk bersiap menghadapi puncak kekeringan yang diperkirakan akan terjadi antara bulan Juni hingga Agustus.

Berbeda dengan tahun 2023 yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang kuat, musim kemarau kali ini berlangsung dalam kondisi iklim global yang netral, baik di Samudra Pasifik maupun Hindia. Namun, suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya dapat memicu gangguan cuaca lokal di Indonesia. Hal ini berpotensi berdampak pada dinamika pertanian, ketersediaan air bersih, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan di beberapa daerah.

Prediksi yang dihasilkan berdasarkan pemantauan lebih dari 500 zona musim di Indonesia menunjukkan bahwa musim kemarau tidak akan terjadi secara serentak. Beberapa wilayah, seperti Sumatera dan Kalimantan, akan mengalami kemarau lebih awal, sementara daerah lainnya mungkin mengalami penundaan dari pola normal. Meskipun musim kemarau kali ini tidak sepanjang tahun lalu, masyarakat dan pemangku kepentingan diingatkan untuk tetap waspada terhadap ancaman kekeringan dan penurunan kualitas udara.

Tetap simak informasi terbaru seputar musim kemarau ini, dirangkum dari KapanLagi.com, Senin (14/4). Bersama-sama, kita bisa menghadapi tantangan ini dengan lebih siap!

1. Musim Kemarau Mulai Terjadi di Bulan April

Musim kemarau tahun ini telah resmi dimulai sejak April 2025, dengan 115 Zona Musim (ZOM) yang secara bertahap memasuki periode kering, dan fenomena ini diperkirakan akan meluas hingga Mei dan Juni, mencakup daerah-daerah seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Papua. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, awal kemarau kali ini tidak terjadi serentak di seluruh wilayah, dengan beberapa daerah mengalami perubahan jadwal yang signifikan—ada yang maju, mundur, atau tetap normal—yang tentunya akan memengaruhi sektor produksi dan layanan publik.

Sementara itu, wilayah Sumatera, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi menunjukkan variasi dalam awal musim kemarau, dipengaruhi oleh suhu permukaan laut dan kelembapan udara yang menjadi kunci dalam pembentukan awan hujan serta pola angin musiman.

“Awal musim kemarau di Indonesia diprediksi tidak terjadi secara serempak. Pada bulan April 2025, sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BMKG, Senin.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Kemarau 2025 Diprediksi Lebih Singkat Tanpa Gangguan Iklim di Samudra

Tahun 2025 menghadirkan kabar menarik dalam dunia cuaca Indonesia, di mana fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang biasanya berperan sebagai pengatur musim kemarau ekstrem kini berada dalam kondisi netral. Hal ini berpotensi membuat musim kemarau kali ini lebih singkat di sebagian besar wilayah, meski beberapa daerah seperti Sumatera dan Kalimantan diperkirakan akan merasakan kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat, ada risiko gangguan lokal yang perlu diwaspadai.

Meskipun musim kemarau 2025 tampak lebih stabil, pola curah hujan yang tidak merata bisa menyebabkan dampak yang bervariasi di sektor-sektor penting seperti pertanian, energi, dan pengelolaan sumber daya air. Seperti yang disampaikan para ahli,

“Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan,” katanya.

3. Puncak Kemarau Terjadi di Bulan Juni hingga Agustus

Puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan akan melanda secara nasional mulai Juni hingga Agustus 2025, dengan Agustus menjadi bulan paling kritis yang akan menyapu sebagian besar wilayah dengan kekeringan terparah. Di Sulawesi Utara, daerah seperti Bolaang Mongondow, Minahasa, Manado, dan Bitung akan merasakan dampak paling berat, di mana cuaca cenderung stabil tanpa hujan dan kelembapan udara sangat rendah. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian dan kehutanan, karena rendahnya curah hujan dapat meningkatkan risiko gagal panen dan memicu kebakaran hutan serta lahan, terutama di daerah dengan cadangan air tanah yang terbatas dan kurangnya infrastruktur embung.

4. Wilayah yang Mengalami Tiga Kategori Utama Kemarau di Indonesia

Sebaran musim kemarau 2025 terbagi ke dalam tiga kategori utama berdasarkan sifat intensitas kekeringannya, dan tiap wilayah menghadapi tantangan berbeda yang perlu dipahami secara spesifik.

Wilayah dengan Kemarau Normal

  • Wilayah yang termasuk dalam kategori kemarau normal akan mengalami curah hujan dan durasi kekeringan yang sesuai dengan rata-rata klimatologis tahunan, dengan pola musim yang konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Kawasan ini mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, di mana durasi kemarau diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat bulan dengan transisi yang tidak ekstrem. Meskipun berada di jalur normal, wilayah ini tetap harus bersiap terhadap kemungkinan cuaca ekstrem lokal yang bisa terjadi karena fluktuasi suhu dan kelembapan udara.

Wilayah dengan Kemarau Lebih Kering dari Normal

  • Beberapa wilayah Indonesia akan mengalami kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi rata-rata, dengan curah hujan yang sangat rendah, suhu tinggi, dan durasi tanpa hujan yang lebih lama. Daerah yang terdampak mencakup Sumatera bagian utara, sebagian kecil Kalimantan Barat, sebagian Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan. Dalam konteks ini, risiko utama meliputi kekeringan lahan, gangguan pasokan air bersih, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta potensi gagal panen akibat tanaman tidak mendapat cukup air selama fase pertumbuhan kritis.

Wilayah dengan Kemarau Lebih Basah dari Normal

  • Kategori ini mencakup daerah yang tetap menerima curah hujan relatif tinggi meski berada dalam musim kemarau, yang dapat membuka peluang produksi pertanian jika dimanfaatkan dengan tepat. Wilayah yang termasuk antara lain sebagian kecil Aceh, sebagian besar Lampung, Jawa bagian barat dan tengah, Bali, NTB, NTT, serta beberapa area di Sulawesi dan Papua bagian tengah. Kondisi ini berpeluang memberikan keuntungan bagi sektor pertanian dengan memperpanjang musim tanam, namun tetap harus diwaspadai karena cuaca lembap juga dapat memicu pertumbuhan hama tanaman dan penyakit yang lebih cepat berkembang.

5. Langkah Mitigasi dan Antisipasi dalam Menghadapi Musim Kemarau 2025

Agar dampak negatif dari musim kemarau dapat diminimalkan, berbagai langkah mitigasi perlu diterapkan secara lintas sektor dengan pendekatan berbasis wilayah dan risiko lokal.

Penyesuaian Jadwal Tanam dan Varietas Tanaman

  • Langkah pertama yang disarankan adalah menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan prediksi awal musim kemarau di masing-masing zona wilayah. Petani diimbau untuk memilih varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan seperti padi gogo atau jagung unggul tahan kering, serta menyesuaikan masa tanam agar tidak berbenturan dengan puncak musim kering. Hal ini bertujuan untuk menjaga produktivitas pertanian dan menghindari gagal panen akibat stres air pada tanaman.

Optimalisasi Infrastruktur Air dan Embung

  • Pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengoptimalkan embung, sumur bor, dan irigasi mikro sebagai cadangan air selama musim kemarau berlangsung. Pengisian embung dan penampungan air sebaiknya dilakukan saat curah hujan masih tersedia, terutama di wilayah rawan kekeringan yang tidak memiliki akses air permukaan yang mencukupi. Infrastruktur ini menjadi sangat penting untuk menunjang kebutuhan pertanian, konsumsi rumah tangga, dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Peningkatan Kesiapsiagaan terhadap Karhutla

  • Musim kemarau yang lebih kering di beberapa wilayah meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, langkah mitigasi seperti pembasahan lahan gambut, peningkatan patroli lapangan, dan penggunaan sistem peringatan dini harus diintensifkan terutama di daerah-daerah rawan seperti Kalimantan, Riau, dan Papua. Upaya ini harus dilakukan sebelum curah hujan benar-benar berhenti agar pengendalian karhutla lebih efektif.

Manajemen Kualitas Udara dan Kesehatan Masyarakat

  • Kondisi udara selama musim kemarau berpotensi menurun drastis, khususnya di daerah perkotaan dan kawasan industri yang padat aktivitas. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas udara, termasuk penggunaan masker, mengurangi pembakaran terbuka, serta menyediakan layanan kesehatan tambahan untuk mengantisipasi penyakit pernapasan dan dampak suhu panas terhadap kelompok rentan.

Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Energi dan Konsumsi

  • Sektor energi dan air bersih menghadapi tantangan tersendiri selama musim kemarau, terutama dalam menjaga pasokan untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan jaringan distribusi air baku. Efisiensi penggunaan air, diversifikasi sumber energi, serta peningkatan kapasitas penampungan dan pemantauan debit air sungai harus menjadi fokus utama dalam strategi adaptasi jangka menengah. Langkah ini penting agar layanan publik tetap berjalan optimal meski di tengah tekanan musim kering.

“Untuk wilayah yang mengalami musim kemarau lebih basah, ini bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, dengan disertai pengendalian potensi hama,” tambah, Dwikorita.

6. Pertanyaan dan Jawaban (People Also Ask Google)

Kapan awal musim kemarau 2025 dimulai di Indonesia?

Musim kemarau 2025 dimulai sejak April secara bertahap di berbagai wilayah dan meluas pada Mei hingga Juni.

Apakah musim kemarau 2025 akan lebih parah dari tahun sebelumnya?

Tidak, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih pendek dan tidak sekering 2023 karena tidak ada pengaruh El Nino atau IOD.

Daerah mana saja yang akan mengalami puncak kemarau paling ekstrem?

Wilayah Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku diperkirakan mengalami puncak kemarau terparah pada Agustus.

Bagaimana dampak kemarau 2025 terhadap sektor pertanian?

Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tahan kering, dan mengelola air lebih efisien selama kemarau.

Apa langkah mitigasi utama menghadapi musim kemarau 2025?

Mitigasi meliputi pengisian embung air, pembasahan lahan gambut, hingga pengelolaan pasokan air untuk sektor energi dan konsumsi.

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

(kpl/mni)

Rekomendasi
Trending