Venezuela Dilanda Krisis, Harga Sabun Capai 200 Ribu Rupiah Perbatangnya!

Selasa, 04 September 2018 17:31 Penulis: Sanjaya Ferryanto
Venezuela Dilanda Krisis, Harga Sabun Capai 200 Ribu Rupiah Perbatangnya!
Krisis Venezuela © Reuters


Kapanlagi Plus - Venezuela sedang terbelenggu dalam krisis yang dampaknya lumayan fatal. Harga kebutuhan hidup melambung sebagai akibat ambrolnya ekonomi Venezuela. Dilansir Reuters, kenaikan harga barang tersebut cukup signifikan.

Harga sabun contohnya, meroket hingga 3,5 juta bolivar atau setara Rp 205 ribu. (1 bolivar = 0.059). Harga wortel sempat menyentuh 300 ribu bolivar (Rp 176 ribu) per kilogram (kg), sementara harga beras 250 ribu bolivar (Rp 147 ribu) per kg.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro lalu mengambil langkah berani. Dirinya menetapkan denominasi alias mengurangi angka nol di mata uang. Maduro mengurangi 5 angka nol pada mata uang bolivar pada Senin (21/8/2018) waktu setempat.

1. 1 Juta Bolivar Jadi 10 Bolivar

"Saya tidak paham konversi moneter ini, pemerintah, tidak menjelaskan bagaimana itu bekerja atau perihal gaji," ucap warga bernama Yuraima Galaviz.

Setelah diberlakukan denominasi, maka uang 1 juta bolivar kini setara dengan 10 bolivar uang lama. Kalau dulu, untuk berbelanja popok saja orang harus membawa banyak uang, karena harganya yang sampai 8 juta bolivar atau 480 ribu rupiah.

2. Uang Dibuang ke Tong Sampah

Karena kondisi tersebut, banyak warga Venezuela yang pergi menuju negara tetangga seperti Ekuador atau Kolombia. Ekuador sendiri sekarang dikabarkan telah menutup batas negara bagi warga Venezuela.

Menurut laporan International Monetary Fund (Dana Moneter Internasional, IMF), inflasi Venezuela diproyeksikan menyentuh satu juta persen pada akhir 2018. Nggak heran jika muncul kabar uang-uang yang ditemukan di tong sampah atau dirajut menjadi tas.

3. Terlalu Bergantung pada Ekspor Minyak

Venezuela memang terlalu bergantung pada ekspor minyak, serta tidak ada diversifikasi pada industrinya. Impactnya, saat harga minyak jatuh, otomatis ekonomi Venezuela langsung merosot pula.

"Runtuhnya aktivitas ekonomi, hiperinflasi, dan menambah buruknya ketersediaan kebutuhan publik (layanan kesehaatan, listrik, air, transportasi, dan keamanan) begitu pula kurangnya makanan di harga subsisdi telah menimbulkan derasnya migrasi, yang memberikan efek luapan (spillover effect) ke negara-negara tentangga," tulis IMF.

(kpl/lip/frs)



MORE STORIES




REKOMENDASI