Kapanlagi.com - Perebutan dua desa binaan Bakti BCA yang tersisa di program Genera-Z Berbakti 2026 semakin sengit Setelah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) memastikan langkah mereka untuk mengimplementasikan program KKN di desa tujuan, kini giliran Universitas Cendrawasih (UNCEN) dan Universitas Airlangga (UNAIR) yang saling beradu ide untuk pengabdian di salah satu desa binaan Bakti BCA, Desa Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Tim UNCEN yang diwakili Elis, Lika, dan Monik berhadapan dengan tim UNAIR yang terdiri dari Regina, Sam, dan Adib. Keduanya membawa proposal yang sama-sama bertujuan mendorong kemajuan desa dengan memanfaatkan potensi alam, pertanian, dan masyarakat setempat.
"Melalui pengabdian masyarakat di program Genera-Z Berbakti ini, kami berharap desa Patakbanteng dapat menjadi desa yang strategis dengan masyarakat yang mandiri dan memiliki rasa kepemilikan untuk program yang sudah kita bawakan," ungkap Adib.
Dari Trial and Error PLTPH hingga Jadi Best Team, Ini Kisah Amerta Pertiwi UNAIR di Genera-Z Berbakti 2026Advertisement
Namun, battle kali ini bukan hanya soal adu strategi. Ada banyak momen emosional yang membuat episode ini terasa begitu membekas.
Sebelum presentasi dimulai, para panelis mengajak peserta saling mengenal lebih dekat. Di momen ini, kisah perjuangan para finalis pun terungkap.
Elis membagikan cerita yang menyentuh. Sebagai putri daerah Papua, hadir di stage Genera-Z Berbakti 2026 sekaligus menjadi pengalaman pertamanya pergi ke Jakarta dan bepergian jauh tanpa ditemani oleh orang tua.
"Bapak itu sebenarnya nggak izinin keluar jauh. Aku anak perempuan pertama dan ini penerbangan pertama. Setelah aku nangis bujuk Bapak, bilang kalau saya pasti bisa. Jadi, ini perjalanan pertama aku pergi lihat kota besar," ungkap Elis.
Dari Trial and Error PLTPH hingga Jadi Best Team, Ini Kisah Amerta Pertiwi UNAIR di Genera-Z Berbakti 2026Sementara itu, Adib bercerita tentang masa sulit yang pernah dialaminya ketika harus mengakhiri hubungan dengan seseorang yang disayanginya. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi alasan ia bisa bangkit hingga berada di titik sekarang.
"Setelah kejadian itu membuat aku bener-bener down, mulai dari perkuliahan hingga organisasi seperti kehilangan arah. Di saat momen-momen terendahku, masih ada teman-teman kuliahku yang mendukung aku di BCA ini dan keluarga mengingatkan kalau kehidupan tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan... Ini menjadi pembelajaran hebat dalam hidupku sih," ujarnya.
Pada stage Idea Pitch, Elis menjadi wakil pertama dari UNCEN. Ia sempat kehilangan fokus di tengah presentasi karena rasa gugup yang memuncak.
Meski begitu, dukungan dari Lika dan Monik membuatnya mampu menyelesaikan presentasi dengan baik.
"Aku yakin berjalannya hari ini pasti ini sudah yang terbaik," ujar Monik.
Ada Nicholas Saputra, Tri Mumpuni, dan Cinta Laura: Panelis Genera-Z Berbakti 2026 Makin BerkelasSementara itu, Regina tampak lebih mampu mengatasi rasa gugup. Bahkan, ia terlihat penuh percaya diri saat mempresentasikan proposal UNAIR.
"Seberapa pede (percaya diri) aku ya? 10 sih pastinya. Aku punya program, aku punya keyakinan," katanya.
Di balik presentasi yang lancar dibawakan oleh Regina, tampaknya hal tersebut masih belum memenuhi ekspektasi rekan satu timnya. Sam menilai materi yang disampaikan oleh Regina sedikit keluar dari rencana awal.
"Aku tau banget, Regina itu sangat bagus pitch-nya. Tapi kok hari H ternyata out of the plan," ungkap Sam.
Sam dan Adib juga sempat khawatir karena waktu presentasi hampir habis. Meski menghadapi tantangan berbeda, kedua tim tetap berhasil memberikan penampilan terbaik mereka.
Memasuki sesi Think Tank, Lika dan Sam harus menjawab berbagai pertanyaan dari panelis Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni.
Tim UNCEN mendapat pertanyaan soal keberlanjutan website desa yang mereka usulkan. Lika mengaku sebenarnya mengetahui jawabannya, tetapi rasa gugup membuat penyampaiannya kurang maksimal.
"Pas Q&A sama panelis itu sebenarnya bisa jawab, ada di otak tapi grogi," katanya.
Dari Trial and Error PLTPH hingga Jadi Best Team, Ini Kisah Amerta Pertiwi UNAIR di Genera-Z Berbakti 2026Sementara itu, proposal UNAIR dikritisi karena dianggap membawa terlalu banyak program untuk direalisasikan hanya dalam waktu lima minggu KKN.
Alih-alih berkecil hati, Sam justru menjadikan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi.
"Bahwasanya kita nggak sempurna, tapi kita tetap harus terus-terusan belajar," ujarnya.
Stage terakhir, Head to Head, mempertemukan Monik dan Adib dalam debat yang menentukan.
Monik mempertanyakan alasan UNAIR menghadirkan program Srikandi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan. Adib mampu menjawab dengan baik hingga mendapat pujian dari Regina.
"Appreciate banget buat Mas Adib karena dia benar-benar bisa ngelakuin sama persis dengan apa yang sudah kita rencanakan," ujar Regina.
Dari Trial and Error PLTPH hingga Jadi Best Team, Ini Kisah Amerta Pertiwi UNAIR di Genera-Z Berbakti 2026Saat berganti giliran, Adib menguji pemahaman UNCEN mengenai penggunaan dekomposer dalam program mereka. Monik berhasil menjawab dengan tenang dan menuai apresiasi dari rekan setimnya.
"Dia keren banget. Kita udah yakin kalau Monik ini bisa debat," kata Lika.
Tiga stage akhirnya berhasil dilalui kedua tim dengan penuh perjuangan.
Terlepas dari siapa yang melaju ke tahap implementasi, battle ini membuktikan bahwa setiap peserta pulang dengan pengalaman dan pelajaran berharga. Karena pada akhirnya, di Genera-Z Berbakti, menang bukanlah akhir, dan gugur bukan berarti gagal.
Penasaran bagaimana perdebatan yang terjadi selama perebutan Desa Patakbanteng? Saksikan episode 4 BCA Genera-Z Berbakti 2026 di YouTube Solusi BCA atau ketik bca.id/genzberbakti. Tersedia juga di Vidio.
(kpl/wri)