BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau 2025 tidak akan terlalu dipengaruhi oleh fenomena cuaca global seperti El Niño atau La Niña. Saat ini, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berada dalam kondisi netral, yang berarti tidak ada pola cuaca ekstrem yang mendominasi jalannya musim kemarau tahun ini.
Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi di Samudra Hindia juga berada dalam kondisi netral. Dengan tidak adanya pengaruh dari kedua fenomena tersebut, pola musim kemarau di Indonesia cenderung berjalan sesuai dengan pola klimatologis yang sudah diprediksi sebelumnya.
Kendati demikian, bukan berarti semua wilayah akan mengalami kemarau yang sama. Beberapa daerah masih berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi dari biasanya, terutama di wilayah dengan sifat musim kemarau di atas normal.
Jadi utamanya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD sehingga prediksi kami iklim tahun ini normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan dan musim kemarau tahun 2025 cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024, katanya, lagi.