Crossborder Kefamenanu 2019 Bakal Perkenalkan Budaya Khas Timor Tengah Utara

Rabu, 24 Juli 2019 09:39 Penulis: Wuri Anggarini
Crossborder Kefamenanu 2019 Bakal Perkenalkan Budaya Khas Timor Tengah Utara
┬ęShutterstock

Kapanlagi Plus - Konser musik batas negara atau yang lebih dikenal dengan istilah crossborder akan masih terus berlanjut hingga akhir tahun nanti. Setelah sukses diselenggarakan di batas negara lain seperti Sota dan Keerom, kali ini festival tersebut bakal menyapa Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Rencananya event ini akan berlangsung pada 9-10 Agustus 2019 di Lapangan Oenamu, Kefamenanu, TTU. Sudah mulai penasaran dengan kemeriahan yang akan disajikan di sana?

Nggak hanya menggelar acara musik yang menghibur daerah perbatasan. Rencananya dalam festival tersebut juga bakal mengangkat budaya khas yang menjadi identitas TTU, yaitu memperkenalkan kain tenun asli daerah tersebut. Kain tenun TTU dikenal punya 3 motif yang terkenal akan keindahannya, yaitu Buna, Sotis, dan Ikat.

“TTU banyak memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tenun ini sudah menjadi identitas bagi kami. Tenun diwariskan secara turun menurun dan terus terjaga keasliannya. Semuanya juga dilakukan secara tradisional. Kami berharap, wisatawan bisa mengekplorasi tenun saat berkunjung ke Konser Musik Crossborder Kefamenanu,” ungkap Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes, Selasa (23/7).

Dari 3 motif utama, Sotis paling banyak dibuat oleh penenun. Karena, relatif mudah. Durasi pembuatannya juga singkat. Corak yang ditawarkan biasanya Matepon atau Mawanan. Mulai berkembang 1970, para penenun akan merancang bunga secara merayap. Harga yang ditawarkan Rp150 Ribu hingga Rp200 Ribu.

“Nusa Tenggara Timur memang terkenal dengan tenun khasnya, termasuk TTU. Motifnya sangat khas dan mencirikan kekayaan wilayahnya. Silahkan mengeksplorasi tenunnya. Lalu, pastikan tenun khas TTU ini menjadi cenderamata saat berkunjung ke Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019,” terang Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Sementara motif Ikat sedikit lebih rumit. Ada beberapa motif yang ditawarkan. Selain itu, proses produksinya memakan durasi waktu lebih lama 2 pekan. Peralatan yang digunakan hanya berupa kayu dan bambu. Dan, harganya melambung sekitar Rp750 Ribu.

Lalu, bagaimana dengan motif Buna? Motif Buna terkenal karena indah dan pembuatannya paling rumit. Menariknya, tidak semua penenun di TTU bisa menghasilkan motif tersebut. Buna memiliki warna dasar hitam.

Berikutnya, dilakukanlah penyulaman dengan menggunakan benang berbeda warna. Tujuannya, agar simbol atau corak menjadi dominan. Obyek coraknya berupa binatang, bunga, dan kotak-kotak.

Lebih spesifik, motif dan warna Buna menunjukan suku pada beberapa wilayah di TTU. Mereka kerap menyebutnya dengan istilah Hitu, Taboy, Saijao, dan Banusu. Untuk corak Hitu biasanya ditandai oleh kotak putih pada sisi terdalam, lalu Taboy sebagai representasi kotak dengan warna biru. Merah menjadi simbol Saijao dan Banusu menjadi kotak pada lingkaran terluar dari motif.

“Proses pewarnaan tenun selalu dilakukan dengan cara tradisional. Hal ini tentu menjadi value lain dari tenun-tenun tersebut. Terkait pewarnaan juga dilakukan sesuai fungsi dari tenunnya. Sebab, tenun dan warnanya biasanya disesuaikan dengan beragam upacara juga tradisi di TTU,” tegas Ricky lagi.

Pewarnaan tenun memang didasarkan atas peruntukannya. Untuk warna ungu biasanya digunakan di dalam upacara duka. Pada upacara adat, pengunjung biasanya memakai tenun dengan warna hitam. Warna-warni pesta kegembiraan (pernikahan) lalu direpresentasikan dengan tenun warna merah, hijau, kuning, juga warna cerah lainnya.

Motif Buna diberi label tertinggi. Harganya mencapai Rp2 Juta per lembang. Selain proses produksinya yang rumit, durasi pembuatan tenun tersebut 6 bulan hingga 1 tahun.

Bahan baku benang pembuatnya juga diklaim lebih banyak. Pangsa pasar tenun Buna ini menengah atas. Karena pasarnya yang eksklusif, motif Buna baru dibuat bila ada pesanan dari pasar.

“Motif tenun khas TTU semakin memperkaya Indonesia sebagai destinasi wisata dunia. Coraknya khas dengan keberagaman filosofi yang menyertainya. Kami berharap keberadaan tenun Sotis, Ikat, dan Buna khas TTU semakin melengkapi experience saat berkunjung ke Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.

(*/wri)

Editor:

Wuri Anggarini



MORE STORIES




REKOMENDASI