Sapardi Djoko Damono Jadi Goole Doodle, Berikut Puisi-Puisinya yang Legendaris

Penulis: Editor Kapanlagi.com

Diterbitkan:

Sapardi Djoko Damono Jadi Goole Doodle, Berikut Puisi-Puisinya yang Legendaris
Google Doodle, Sapardi Djoko Damono/Credit: instagram.com/damonosapardi

Kapanlagi.com - Ditulis oleh: Antonia Rucita Nurak

Google Doodle pada hari ini, Senin (20/3) memperingati hari ulang tahun penyair legenderis Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Lahir di Solo, Jawa Tengah pada 1940. Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono. Sapardi merupakan sosok yang gemar membaca, sehingga masa kecilnya dihabiskan dengan membaca di perpustakaan.

Dia baru mulai menulis puisi saat di bangku SMA. Sapardi melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Madah dan mendapatkan gelar bahasa Inggris, selanjutnya mengambil sastra Indonesia di sekolah pascasarjana. Dia mulai serius dalam menulis puisi ketika bekerja sebagai penyiar radio dan asisten teater.

Pada tahun 1969 Sapardi merilis kumpulan puisi pertamanya, dukaMu abadi. Dia kemudian dikenal sebagai salah satu penyair  romantis Indonesia. Puisi-puisi romantisnya dengan mudah melekat di hati setiap masyarakat. Maestro puisi ini banyak menginspirasi generasi mudah setelahnya.

Penyair legendari Indonesia tersebut meninggal dunia di usia senja pada, Minggu (19/7/2020) di RS. Eka Hospital BSD, Tanggerang Selatan. Namun demikian, karya-karyanya tak lekang oleh waktu. Berikut puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang melegenda.

 

1. Yang Fana adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari

Kita lupa untuk apa

"Tapi, Yang fana adalah waktu, bukan?"

tanyamu. Kita abadi.


 

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

2. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan juni

Dirahasiakan rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu


Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan di bulan Juni

Dihapuskan jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan juni

Dibiarkan yang tak terucapkan

Diserap akan pohon bunga itu


 

 

 

3. Menjenguk Wajah di Kolam

“Jangan kauulang lagi

menjenguk

wajah yang merasa sia-sia,

yang putih

yang pasi

itu.

 

 

Jangan sekali-

kali membayangkan

Wajahmu sebagai

rembulan.

 

 

Ingat,

jangan sekali-

kali. Jangan.

 

Baik, Tuan.” 

 

 

4. Aku Ingin

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya

tiada”

 

5. Pada Suatu Hari Nanti

“Pada suatu hari nanti,

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

 

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini.

 

Kau akan tetap kusiasati,

pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di sela-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari.”

 

6. Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta

“mencintai angin

harus menjadi siut

mencintai air

harus menjadi ricik

mencintai gunung

harus menjadi terjal

mencintai api

harus menjadi jilat

 

mencintai cakrawala

harus menebas jarak

 

mencintai-Mu

harus menjelma aku”



 

7. Hanya

“Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

 

hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

 

hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu”

 

 

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

(kpl/mag)