20 Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono yang Menyentuh Hati, Tentang Kehidupan - Romansa

Selasa, 29 Desember 2020 15:25 Penulis: Dhia Amira
20 Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono yang Menyentuh Hati, Tentang Kehidupan - Romansa
Sapardi Djoko Damono (credit: © KapanLagi.com/Bayu Herdianto)


Kapanlagi Plus - Sapardi Djoko Damono merupakan seorang sastrawan besar Indonesia yang memiliki karya-karya luar biasa. Melalui karya-karyanya, Sapardi Djoko Damono juga banyak mendapat penghargaan-penghargaan besar baik dari dalam maupun luar negeri. Dan salah satu karyanya berupa puisi-puisi luar biasa, bahkan kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono ini tidak mati di lekang oleh waktu.

Ada banyak sekali karya-karya besar yang dimiliki beliau. Dan beberapa karya Sapardi Djoko Damono antara lain, Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), dan masih banyak lagi. Tentu banyak puisi karya Sapardi Djoko Damono ini mempunyai tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

Dilansir dari berbagai sumber, inilah beberapa kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang Menyentuh Hati, bahkan tak lekang oleh waktu sampai saat ini. Yuk langsung saja dicek KLovers.

1. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

2. Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun

melayang jatuh di rumput;


Nanti dulu,

biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang,

yang selama ini senantiasa luput;


Sesaat adalah abadi

sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

3. Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

4. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu.

Kita abadi.

1978

5. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.


Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.


Kau akan tetap kusiasati,


Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.

6. Kuhentikan Hujan

Kuhentikan hujan

Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan


Ada yang berdenyut dalam diriku

Menembus tanah basah

Dendam yang dihamilkan hujan

Dan cahaya matahari

Tak bisa kutolak


Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

7. Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana


Hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu


Hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

8. Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kau ulang lagi

menjenguk

wajah yang merasa

sia-sia, yang putih

yang pasi

itu.


Jangan sekali-

kali membayangkan

Wajahmu sebagai

rembulan.


Ingat,

jangan sekali-

kali. Jangan.


Baik, Tuan.

9. Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat


Mencintai cakrawala harus menebas jarak


Mencintai-Mu harus menjelma aku

10. Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?

Jangan sekali-kali berkhianat

kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir

yang mencoba bertahan di ranting

yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan

keindahan kelebat diriku

yang memimpikan tanah,

tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku

ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku

sebagai daun terakhir

agar suara angin yang meninabobokan

ranting itu padam.


Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,

apa saja — aku selembar daun terakhir

yang ingin menyaksikanmu bahagia

ketika sore tiba.

11. Kita Saksikan

kita saksikan burung-burung lintas di udara

kita saksikan awan-awan kecil di langit utara

waktu itu cuaca pun senyap seketika

sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya


di antara hari buruk dan dunia maya

kita pun kembali mengenalnya

kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata

saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia

1967

12. Akulah Si Telaga

akulah si telaga:


berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil


yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja


perahumu biar aku yang menjaganya.

1982

13. Metamorfosis

Ada yang sedang menanggalkan

kata-kata yang satu demi satu

mendudukkanmu di depan cermin

dan membuatmu bertanya


tubuh siapakah gerangan

yang kukenakan ini

ada yang sedang diam-diam

menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu

mereka-reka sebab-sebab kematianmu


ada yang sedang diam-diam

berubah menjadi dirimu.

14. Sajak Putih

Beribu saat dalam kenangan

Surut perlahan

Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh

Sewaktu detik pun jatuh


Kita dengar bumi yang tua dalam setia

Kasih tanpa suara

Sewaktu bayang-bayang kita memanjang

Mengabur batas ruang


Kita pun bisu tersekat dalam pesona

Sewaktu ia pun memanggil-manggil

Sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil

Di luar cuaca

15. Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang

Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah

Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma

Hidup namanya!

Dan karena hidup itu indah

Aku menangis sepuas-puasnya.

16. Sementara Kita Saling Berbisik

Sementara kita saling berbisik

untuk lebih lama tinggal

pada debu, cinta yang tinggal berupa

bunga kertas dan lintasan angka-angka


ketika kita saling berbisik

di luar semakin sengit malam hari

memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa


unggun api


sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.

1966

17. Tentang Matahari

Matahari yang ada di atas kepalamu itu

Adalah balon gas yang terlepas dari tanganmu

waktu kau kecil, adalah bola lampu

yang ada di atas meja ketika kau menjawab surat-surat

yang teratur kauterima dari sebuah Alamat,

adalah jam weker yang berdering

saat kau bersetubuh, adalah gambar bulan

yang dituding anak kecil itu sambil berkata:

"Ini matahari! Ini matahari!"

Matahari itu? Ia memang di atas sana

supaya selamanya kau menghela

bayang-bayangmu itu.

1971

18. Ia Tak Pernah

Ia tak pernah berjanji kepada pohon

untuk menerjemahkan burung

menjadi api


ia tak pernah berjanji kepada burung

untuk menyihir api

menjadi pohon


ia tak pernah berjanji kepada api

untuk mengembalikan pohon

kepada burung

19. Gerimis Jatuh

Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu

Bayang-bayang angin berdiri di depanmu

Tak usah kau ucapkan apa-apa; seribu kata

Menjelma malam, tak ada yang di sana


Tak usah; kata membeku,


Detik meruncing di ujung Sepi itu

Menggelincir jatuh

Waktu kaututup pintu.


Belum teduh dukamu.

20. Dalam Doaku

Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening

siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening

karena akan menerima suara-suara


Ketika matahari mengambang di atas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang

hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya

mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana


Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu, yang tiba tiba gelisah dan

terbang lalu hinggap di dahan mangga itu


Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat

di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit

yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia

demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku


Aku mencintaimu,

itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan

keselamatanmu

Itulah 20 puisi Sapardi Djoko Damono yang menyentuh hati. Tidak heran bila Sapardi Djoko Damono menjadi sastrawan Indonesia yang sangat dikagumi dan dihormati hingga saat ini.

(kpl/dhm)

Editor:

Dhia Amira



MORE STORIES




REKOMENDASI