Jadi Rektor Termuda Indonesia, Risa Santoso Terpanggil Mengabdi di Negeri Sendiri

Rabu, 06 November 2019 16:11 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini
Jadi Rektor Termuda Indonesia, Risa Santoso Terpanggil Mengabdi di Negeri Sendiri
Risa Santoso © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Risa Santoso ditunjuk sebagai rektor Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang dan dilantik Sabtu (2/11). Dara kelahiran Surabaya itu menduduki jabatan di usia 27 tahun, hingga membuatnya menjadi rektor termuda di Indonesia. Nama Risa pun viral menjadi perbincangan di dunia maya.

Risa sendiri lulus Strata-1 dari University of California, Berkeley jurusan Ekonomi, sementara jenjang Strata-2 ditempuh melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) di Harvard of University. Dua kampus ternama menjadi tempatnya menimba ilmu, khusus jenjang S-2 berkonsentrasi di ilmu pendidikan yang memberinya bekal mengelola perguruan tinggi.

"Dulunya sih pingin membuat sesuatu sendiri, tetapi dapat jalannya yang berbeda. Dulu saya nggak gimana ya, pingin membuat sesuatu sendiri, menginisiasi perusahaan sendiri atau organisasi sendiri gitu. Dulu awalnya gitu," kata Risa Santoso ditanya cita-citanya oleh wartawan yang menemui di kantornya.

1. Pernah Bekerja di Kantor Staf Kepresidenan

Sebelum menjadi rektor, Risa Santoso pernah duduk sebagai salah satu staf di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Selama 1,5 Tahun bekerja di bawah Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi di lembaga yang saat itu dipimpin oleh Luhut Binsar Panjaitan.

"Masuk awal-awal tahun 2015 masih Pak Luhut. Waktu itu ada 5 Deputi. Saya di bawahnya Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi," tegasnya.

2. Ingin Ikut Bangun Negeri

Waktu itu memang sedang dibutuhkan staf dengan background ekonomi dan dirasakan sesuai jurusan S-1 yang pernah ditempuhnya. Begitu lulus S-2 dari Harvard of University mengajukan aplikasi ke kantor yang saat ini dipimpin Jenderal (Pur) Moeldoko itu.

Risa juga menjadi salah satu dari sekian mahasiswa yang terpanggil untuk mengabdi pada negeri sendiri. Karena memang para alumni-alumni di luar negeri saat itu, seolah dipanggil untuk ikut membangun negeri.

"Karena Pak Luhut datang ke Amerika, waktu saya masih di Harvard. Kan banyak memanggil alumni-alumni, 'Jangan ke luar negeri, tapi balik ke Indonesia untuk membantu'. Waktu 2015, banyak kayak gitu, karena banyak alumni yang akhirnya stay di luar negeri, bagaimana caranya biar balik ke Indonesia," kisahnya.

(kpl/dar/phi)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI