Sederet Fakta Ledakan Bom Sibolga: Tak Mau Dievakuasi, Istri dan Anak Meledakkan Diri

Rabu, 13 Maret 2019 11:15 Penulis: Tyssa Madelina
Sederet Fakta Ledakan Bom Sibolga: Tak Mau Dievakuasi, Istri dan Anak Meledakkan Diri
Bom meledak di Sibolga (Credit: merdeka.com)


Kapanlagi Plus - Pasukan Densus 88 Antiteror melakukan penggerebekan di Kota Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/03) siang lantaran diduga adanya teroris. Sebelumnya, polisi mendapat aduan dari warga setempat karena mendengar suara ledakan dari salah satu rumah di Jalan Cendrawasih Gang Serumpun.

Pasca ledakan terjadi, petugas kepolisian langsung menyisir dan mensterilkan lokasi. Warga setempat pun diminta untuk jaga jarak sekitar 200 meter dari lokasi penggerebekan.

Siapa pelakunya dan apa motifnya? Berikut sederet fakta yang berhasil dikumpulkan terkait ledakan bom di Sibolga, Sumatera Utara.

1. Terduga Teroris Ditangkap

Polisi dan Densus 88 berhasil mengamankan seorang pria yang diduga adalah pelaku ledakan bom. Penyergapan itu merupakan hasil pengembangan dari kasus penangkapan terduga teroris di Lampung pada 9 Maret 2019 lalu.

"Penangkapan di Sibolga ini murni pengembangan dari penangkapan di Lampung kemarin," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (12/3).

2. Anak dan Istri Meledakkan Diri

Pasca penangkapan terduga teroris di Sibolga, sterilisasi di sekitar rumah masih harus dilakukan karena diduga ada istri dan anaknya di dalam. Namun keduanya menolak untuk dievakuasi oleh tim Densus 88. Setelah kurang lebih 10 jam melakukan negoisasi, ibu dan anak tersebut memilih untuk meledakkan diri.

"Istri sama anaknya meledakkan diri sekitar setengah dua dan jam dua dini hari," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi merdeka.com, Rabu (13/9).

3. Kedatangan Presiden

Ledakan bom di Sibolga terjadi beberapa hari sebelum kedatangan Presiden Jokowi. Dari informasi yang sudah beredar, pada tanggal 18 Maret mendatang, Jokowi berencana untuk meresmikan pelabuhan di sana.

Terkait hal itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, aparat keamanan telah memiliki standar operasi prosedur (SOP) dalam mengamankan Presiden dari berbagai ancaman.

"Pengamanan terhadap Presiden sudah ada SOP-nya, termasuk dari ancaman teroris," ujar Iqbal saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

4. Tidak Ada Hubungannya Dengan Pemilu

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal itu juga memastikan, penangkapan terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu tidak ada kaitannya dengan situasi politik saat ini. Operasi itu dilakukan lantaran ada laporan dari warga soal ledakan.

"Penangkapan kasus teror di Sibolga tidak ada kaitan dengan Pemilu. Densus sudah menjajaki kelompok ini beberapa waktu yang lalu. Seorang pelaku sudah ditangkap kemarin di Lampung," kata Iqbal.

(kpl/mdk/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina



MORE STORIES




REKOMENDASI