Sederet Fakta Pak Dal Pencipta Lagu 'Bintang Kecil', Pernah Siaran di Zaman Jepang - Mengajar dan Jadi Favorit Murid-murid

Selasa, 31 Agustus 2021 12:33
Sederet Fakta Pak Dal Pencipta Lagu 'Bintang Kecil', Pernah Siaran di Zaman Jepang - Mengajar dan Jadi Favorit Murid-murid
Pak Dal Pencipta Lagu Bintang Kecil (credit: Historia.id)


Kapanlagi Plus - Generasi milenial dan gen-Z awal pasti ngggak asing lagi sama nama Ibu Sud dan Pak Kasur. Karya-karya mereka banyak menjadi konsumsi sehari-hari yang mewarnai masa kecil mereka dulu.

Lagu-lagu tersebut seperti dengan Bangun Tidur, Naik Delman, Lihat Kebunku, atau Dua Mata Saya sudah seperti menjadi masterpiece di sanubari anak-anak generasi ini.

Dari sederet lagu yang legendaris itu, ada satu lagu yang juga terpatri di benak anak-anak kecil zaman dulu. Lagu itu adalah Bintang Kecil.

Mengisahkan tentang keindahan alam, ternyata lagu ini juga menyimpan makna yang dalam banget, lho! Kebanyakan dari kita baru menyadari setelah dewasa kalau lagu ini sejatinya punya pesan soal keagungan mimpi yang harus kita miliki sebagai anak-anak.

Bukan dibikin oleh Pak Kasur atau Ibu Sud, lagu Bintang Kecil diciptakan oleh seorang penulis lagu bernama Raden Gerardus Joseph Daldjono Hadisudibjo, atau biasa dikenal dengan sapaan Pak Dal.

1. Kurang Begitu Tenar

Meskipun satu generasi, Pak Dal memang kurang tenar jika dibandingkan dengan dua nama beken pencipta lagu anak-anak itu. Pak Dal sendiri lahir di Playen, Yogyakarta, pada tanggal 11 Juli 1909. Semasa hidupnya, Pak Dal ini mengabdikan diri sebagai seorang pendidik musik dan pencipta lagu yang fokus untuk kebaikan pertumbuhan anak-anak Indonesia.

Meski terdengar simpel dan sangat mudah dicerna, khususnya buat anak-anak, ternyata lagu ini merupakan wujud kesempurnaan Pak Dal dalam menciptakan lagu setelah melewati berbagai proses pengalaman dan keteguhan hati yang cukup panjang.

Dilansir Historia.id, Pak Dal waktu masih muda sangat produktif, malah kelewat produktif. Bahkan, dalam sehari beliau bisa membuat hingga enam lagu. Tapi, produktivitas ini tak selaras dengan kepuasan Pak Dal sebagai seorang seniman dan pencipta.

2. Malah Kehilangan Nyawa

Ia merasa, kecepatannya membuat banyak sekali karya ini malah membuat karya-karyanya seperti kehilangan nyawa. Pak Dal menganggap banyaknya lagu-lagu yang ia ciptakan setiap hari itu masih jauh dari kata sempurna, entah dari segi komposisi atau liriknya.

Menyadari hal itu, akhirnya beliau mulai mengerem "kebiasaan" bikin banyak lagu setiap hari. Pak Dal lantas fokus mengubah satu lagu ciptaannya hingga mencapai titik kesempurnaan yang bisa memuaskan hasratnya sebagai seorang pencipta.

Hasilnya? Mengandung hanya empat bait lirik saja, Lagu Bintang Kecil pun lahir dari buah berproses panjang yang telah dilakoni Pak Dal.

3. Lirik Lagu Bintang Kecil

Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin, terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Sepintas, lirik lagu ini menyiarkan keindahan malam kepada anak kecil ketika bintang-bintang sedang menghiasi kegelapan. Jika ditilik lebih dalam, sesungguhnya lirik itu menyimpan makna yang jauh lebih indah lagi.

Sebuah bintang, sekecil apapun bintang tersebut terlihat, sesungguhnya bintang itu tetap besar dan bersinar sangat terang berkat pantulan matahari. Bintang itu terlihat kecil karena letaknya yang sangat tinggi di atas awan.

4. Begitulah Mimpi

Seperti itulah mimpi. Sekecil apapun mimpi yang kamu punya, ia tetaplah besar dan bisa bersinar sangat terang. Gantungkan setinggi bintang di atas awan dan berjuanglah untuk terbang tinggi demi bisa meraihnya.

Lebih indah lagi, Pak Dal menyelipkan kata menari setelah kata terbang. Selagi kamu berusaha keras untuk terbang mewujudkan mimpi, jangan lupa untuk tetap menari alias bersenang-senang dan berbahagia selama proses perjalanan yang kamu alami. Jangan jadikan mimpi yang tinggi hanya sebagai sebuah ambisi dan obsesi semata.

5. Banyak Dikenang

Meskipun tidak sepopuler Pak Kasur dan Ibu Sud sebagai pencipta lagu anak-anak, nama Pak Dal juga banyak dikenang atas kontribusinya terhadap musik Indonesia.

Ketika beliau bekerja sebagai pengisi radio dalam sesi siaran musik di radio Indonesia yang saat itu masih diduduki Jepang, Pak Dal kerap menyelipkan lagu-lagu Indonesia di sela-sela sesinya. Pak Dal banyak menyiarkan lagu-lagu anak-anak hasil ciptaannya untuk siaran radio Solo, Yogyakarta, dan Jakarta.

Pasca kekuatan Jepang di Indonesia mulai melemah, sedikit demi sedikit Pak Dal mulai menghilangkan lagu berbahasa Jepang dan menggantinya dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia.

6. Siaran Di Zaman Jepang dan Jadi Guru Favorit Murid

Selain itu, lagu-lagu yang berbahasa Indonesia dan juga lagu-lagu anak membuat Pak Dal dengan para murid-murid saat itu menjadi dekat. Dia masih memperdalam teori musik demi penyempurnaan lagu anak-anak. Pak Dal sendiri melakukannya serya mengajar siswa-siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) -setingkat SMA- di Yogyakarta.

Dengan ajaran yang diberikan oleh Pak Dal, murid-murid menjadi betah dan membuat Pak Dal menjadi guru favorit saat itu. "Enak cara mengajarnya," ungkap seorang mantan anak didik Pak Dal kepada Kompas.

Pak Dal wafat di Yogyakarta pada 15 Oktober 1977. Meski jasadnya telah tiada, mahakaryanya akan tetap terkenang sepanjang masa.

(kpl/nda)



MORE STORIES




REKOMENDASI