Tata Cara Puasa Syawal Serta Manfaat dan Keutamaannya, Umat Islam Perlu Tahu

Senin, 18 Mei 2020 12:22 Penulis: Puput Saputro
Tata Cara Puasa Syawal Serta Manfaat dan Keutamaannya, Umat Islam Perlu Tahu
(credit: pixabay)


Kapanlagi Plus - Setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa Ramadhan, umat Islam akan menjumpai hari raya Idulfitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Selama dua hari idulfitri tanggal 1 dan 2 Syawal, haram bagi umat Islam untuk berpuasa. Namun, jadi berbeda setelah perayaan Idulfitri berakhir. Umat Islam justru disunnahkan menjalankan tata cara puasa Syawal.

Puasa Syawal hukumnya sunnah. Artinya, tidak diwajibkan untuk dikerjakan oleh umat Islam, tapi sangat dianjurkan. Bahkan anjuran tentang puasa Syawal langsung disabdakan oleh Rasulullah. Melalui hadis yang diriwayatkan seorang sahabat nabi, Rasulullah Saw. bersabda demikian:

"Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian menyertainya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa satu tahun penuh.” (HR Muslim).

Begitu mulianya menjalankan ibadah tersebut, sehingga sebaiknya setiap umat Islam mengetahui tata cara menjalankan puasa Syawal. Berikut tata cara puasa Syawal serta hal-hal penting yang umat Islam sebaiknya tahu, di rangkum dari berbagai sumber.

1. Manfaat dan Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal yang dilakukan selama 6 hari di bulan Syawal mempunyai berbagai manfaat dan keutamaan. Keutamaan yang paling utama adalah untuk menyempurnakan ganjaran puasa Ramadhan yang sudah dilakukan sebelumnya. Selain itu, masih ada beberapa manfaat terkait menjalankan puasa Syawal. Berikut beberapa manfaat menjalankan tata cara puasa Syawal.

1) Sebagai bentuk pembiasaan selepas puasa Ramadhan. Maksudnya, agar segala bentuk ibadah dan amalan yang dijalankan selama Ramadhan tidak hilang begitu saja setelah bulan Ramadhan berakhir.

2) Mendapatkan pahala yang istimewa di hari Idulfitri. Selain itu, puasa Syawal juga bisa diartikan sebagai rasa syukur atas nikmat di hari raya.

3) Bagi orang yang menjalankan puasa Syawal juga diyakini akan mendapatkan ganjaran berupa pengampunan atas dosa-dosa masa lalu.

4) Puasa Syawal selama 6 hari juga akan mendekatkan diri kita pada Allah, sebagaimana pada bulan Ramadhan sebelumnya, tanpa terputus.

5) Selain dari segi spiritualitas, manfaat menjalankan tata cara puasa Syawal ternyata juga baik untuk kesehatan. Puasa Syawal akan membantu proses adaptasi tubuh, khususnya saluran pencernaan yang sebelumnya berpuasa, lantas kembali bekerja seperti pada hari-hari biasa.

2. Niat Puasa Syawal

Sama seperti puasa Ramadhan, dalam menjalankan puasa Syawal juga ada bacaan niat. Memang ada beberapa yang berpendapat bahwa, bacaan niat untuk puasa Syawal cukup dalam hati dan tidak perlu dilafalkan. Namun, ada pula sebaliknya. Akan tetapi, agar lebih bisa memantapkan hati, mungkin sebaiknya bacaan niat tetap dilafalkan.

Selain bacaannya, ada hal lain yang sedikit membedakan antara niat puasa Ramadhan dan niat puasa Syawal. Jika puasa Ramadhan diharuskan dibaca pada malam hari sebelum puasa, maka puasa Syawal juga demikian. Namun, pada puasa Syawal niat juga diperbolehkan dilakukan di pagi hari atau saat subuh, selama belum makan dan minum.

Berikut bacaan niat puasa Syawal yang dilafalkan di malam hari:

Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnatis Syawwaali lillaahi ta‘aalaa.

Artinya:

Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.

Berikut bacaan niat puasa Syawal yang dilafalkan di pagi hari:

Nawaitu shauma haadzal yaumi ‘an adaa’i sunnatis Syawwaali lillaahi ta‘aalaa.

Artinya:

Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.

3. Tata Cara Puasa Syawal

Tata cara puasa Syawal sebenarnya sama dengan tata cara puasa Ramadan atau puasa sunnah lainnya. Artinya, puasa Syawal dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal yang bisa membatalkan puasa lainnya.

Di samping itu, hal yang membedakan puasa Syawal dengan puasa Ramadhan atau puasa sunnah lain hanyalah bacaan niatnya, sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya.

4. Waktu Mengerjakan Puasa Syawal

Puasa Syawal juga dijalankan mulai dari subuh hingga terbenamnya matahari (maghrib). Sementara untuk waktu pelaksanaan puasa Syawal, sama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu 6 hari dalam bulan Syawal.

Selain itu, puasa Syawal juga tidak harus dijalankan secara berurutan dalam 6 hari. Artinya boleh dilakukan kapan pun selama masih ada dalam bulan Syawal, dan berjumlah 6 hari. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadis berikut:

"Puasa enam hari di bulan Syawal telah shahih dari Rasulullah SAW. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah SAW menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq dan tidak disebutkan harus berurutan atau terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barang siapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh." (HR Muslim dalam Shahihnya, Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).

5. Diperbolehkan Membatalkan Puasa Syawal

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa puasa Syawal hukumnya sunnah, sehingga jika batal tidak diwajibkan mengganti. Hal ini sesuai dengan penjelasan Yaik Aziz bin Baz berikut ini:

"Jika puasa tersebut adalah sunnah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa."

6. Seorang Istri Diharuskan Izin Suami

Ada aturan tambahan bagi seorang istri yang ingin menjalankan puasa Syawal. Seorang istri diwajibkan untuk meminta izin kepada suami sebelum menjalankan puasa Syawal. Hal ini, berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw.

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suami suami”. (HR Bukhori no. 5195).

7. Dianjurkan Mengganti Puasa Ramadhan yang Batal Dahulu

Meski mempunyai banyak keistimewaan, puasa Syawal lebih dianjurkan dikerjakan setelah mengganti puasa Ramadhan yang batal. Sebab, hal ini berkaitan dengan keutamaan puasa Syawal yaitu untuk menyempurnakan puasa Ramadhan. Sehingga, sebaiknya puasa Ramadhan yang batal diganti lebih dahulu.

Itulah di antaranya tata cara puasa Syawal berikut manfaat dan keutamaannya. Semoga kita diberikan kelancaran dan kemudahan dalam setiap ibadah yang dijalani.

(kpl/psp)

Editor:

Puput Saputro



MORE STORIES




REKOMENDASI