Apa Arti Dark Jokes atau Humor Gelap yang Terkesan Sensitif Bagi Khalayak Ramai?

Jum'at, 08 Oktober 2021 13:22 Penulis: Anik Setiyaningrum
Apa Arti Dark Jokes atau Humor Gelap yang Terkesan Sensitif Bagi Khalayak Ramai?
Ilustrasi (Credit: Pixabay)


Kapanlagi Plus - Apa arti dark jokes? Dark jokes seolah bukan hal yang asing lagi di Indonesia. Wajar jika kemudian pertanyaan ini muncul di tengah pro dan kontra terhadap dark jokes atau humor gelap yang tak hanya sekali-dua kali dilontarkan komedian.

Pertanyaan apa arti dark jokes ini juga diperlukan untuk mencari garis batas antara lelucon dan ungkapan yang mungkin menyinggung kelompok tertentu. Menyoroti lelucon Coki Pardede, misalnya, seorang komika yang cukup sering melemparkan dark jokes ke khalayak ramai dan menuai banyak kritikan.

Salah satunya konten memasak babi dengan kurma yang membuatnya bersama Tretan Muslim, rekan komikanya menjadi dikenal sekaligus dihujat. Konten tersebut memunculkan anggapan bahwa mereka telah menghina melalui lelucon jika babi yang dimasak dengan kurma akan menjadi halal. Nah, pro-kontra yang mengiringi konten mereka bisa jadi pijakan untuk mempertanyakan apa arti dark jokes dalam bahasan berikut ini.

1. Apa Arti Dark Jokes?

Dark jokes atau humor gelap sering kali menjadi sumber perbincangan. Di Indonesia, ada Coki Pardede, seorang komika yang cukup sering menyulut emosi khalayak ramai melalui humor gelap yang dia produksi. Bersama rekannya, Tretan Muslim, dia sempat membuat lelucon mengenai resep babi dan kurma yang cukup sensitif di Indonesia.

Namun, sebelum lebih jauh membahas soal kesensitifan ini, sebenarnya apa arti dark jokes itu sendiri sih? Dark Jokes adalah lelucon yang dibuat dengan menabrakkan komedi dan tragedi berdasarkan realitas. Genre komedi ini sering mengangkat penderitaan menjadi sebuah lelucon. Sayangnya, penderitaan orang lain yang diambil sebagai bahan lelucon sering kali mengarah pada perilaku tak adil, seperti rasisme.

Istilah humor gelap (dari istilah Perancis humour noir) diciptakan oleh Andre Breton, seorang ahli teori surealis yang menafsirkan tulisan-tulisan subgenre komedi dan satire pada tahun 1935. Saat itu, dirinya mengidentifikasi tulisan Jonathan Swift yang memunculkan tawa dari sinisme, skeptisme, dan mengandalkan topik seperti kematian.

Menurut Sigmund Freud, seorang ahli psikologi yang mencetuskan aliran psikoanalisis, humor gelap adalah ego menolak untuk tertekan oleh provokasi realitas yang memaksa dirinya untuk menderita. Ego tersebut bersikeras untuk tidak dipengaruhi oleh trauma dari luar; pada kenyataannya, trauma seperti itu tak lebih dari kesempatan untuk mendapatkan kesenangan. Teori mengenai humor gelap itu terdapat dalam esainya 'Der Humor' pada tahun 1927.

2. Apa Arti Dark Jokes dan Kesan Sensitif?

Setelah mengetahui sekilas mengenai apa arti dark jokes, kini saatnya membahas kesan sensitif yang sering kali mengiringi tawa yang muncul. Seperti yang sudah disinggung di atas, dark jokes memang sering kali mengarah pada pada ketidakadilan, seperti rasisme dan seksisme.

Lelucon seksis, misalnya, bisa berakibat fatal terhadap kondisi sosial yang dipenuhi diskriminasi berbasis gender. Alih-alih menertawakan penderitaan untuk mendapat rasa senang, seperti yang dikatakan Freud, komedi semacam itu justru bisa menjadi serangan terhadap kelompok rentan. Oleh karena itu, seseorang harus betul-betul memikirkan konsekuensi yang mungkin ditimbulkan sebelum melempar dark jokes ke khalayak ramai.

Apalagi jika lelucon tersebut menyinggung banyak orang dan menyebabkan kekacauan, tameng 'hanya lelucon' tak akan ada artinya untuk membuat sebuah pembelaan. Sarah Ilott dalam tulisannya yang membahas tentang lelucon Roseanne Barr yang terbit di The Conversation mengatakan bahwa (hanya lelucon) merupakan langkah retoris yang menarik. Namun, statusnya sebagai lelucon tak menutup kemungkinan untuk mengarah ke rasisme, maupun (dalam konteks Barr) Islamofobia yang tersirat dalam leluconnya.

Semua penderitaan sepertinya memang potensial untuk dibicarakan menggunakan gaya dark jokes. Entah itu kematian, ras, seksualitas, hingga bencana. Salah satu jalan menuju keberhasilan dark jokes, yakni dengan menjadikannya sebagai media perlawanan. Hal tersebut bisa kalian lihat dalam materi komedi Aditya Dani di SUCI 4 yang berjudul 'Saya Cacat Fisik, tapi Saya Gak Suka Diketawain Orang'.

 

3. Contoh Dark Jokes Sebagai Media Perlawanan

Apa arti Dark Jokes sendiri menjadi hal yang masih buram. Meski begitu, kalian bisa memaknainya sebagai bentuk usaha pemilik penderitaan untuk melawan dan bukan sekadar untuk mengeksploitasi kelemahan kelompok rentan. Melanjutkan pembahasan mengenai contoh dark jokes dari Aditya Dani, mungkin akan membantu kalian untuk lebih memahaminya.

Pada tayangan awal yang berisi profil dirinya, Aditya Dani mengatakan bahwa dirinya punya kekurangan fisik sejak kecil. Karena kekurangan itu pula, dia mengaku sering kena bully sejak SD dan stand up comedy baginya adalah tempat curhat sekaligus media untuk dirinya bisa lebih dikenal masyarakat dengan kelebihan yang dimiliki. Pada pembukaan stand up comedy dia berkata,

"Nama saya Dani dan saya cacat fisik. Jadi anak cacat fisik itu enak, kalau nggak percaya coba aja sendiri,". Penonton pun tertawa mendengar lelucon yang bernada menantang dari Dani tersebut. Kemudian, dia melanjutkan,

"Saya itu suka tawuran. Sayangnya, teman-teman saya gak suka ngajak saya. Anak cacat kalau tawuran itu memegang bagian paling penting, yaitu provokator. Tapi begitu saya keluar kelas mau tawuran, tawurannya sudah bubar...ganti pengajian. Padahal enak ya kalau anak kayak saya tawuran...yang lain lempar batu, saya lempar kursi roda…"

Jika diperhatikan dalam konteks komedi yang dibawakan Dani, tentu kalian bisa melihat usahanya dalam menjadikan lelucon sebagai media untuk melawan. Hal itu dia alami sendiri dan membaliknya kepada para penonton menjadi sebuah tantangan.

 

(kpl/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI