Defisit Terus Membangkak, Iuran BPJS Diusulkan Naik Hingga 2 Kali Lipat!

Rabu, 28 Agustus 2019 11:45 Penulis: Guntur Merdekawan
Defisit Terus Membangkak, Iuran BPJS Diusulkan Naik Hingga 2 Kali Lipat!
BPJS Kesehatan © Merdeka.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Tahun 2020 mendatang, iuran Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) bisa jadi naik 2x lipat. Kemungkinan itu muncul atas usulan dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Rincian detail dari usulan tersebut adalah kelas III dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000, kelas II dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000, lalu kelas I dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000.

Jika usulan itu benar-benar terlaksana, maka kenaikan iuran BPJS bakal mulai dilaksanakan per 1 Januari 2020 mendatang. Kenaikan iuran ini disebut bakal sangat membantu keuangan BPJS Kesehatan yang terus mengalami defisit sejak 2014 silam.

Dengan hitungan iuran baru, maka BPJS Kesehatan akan mendapat surplus sebesar Rp 11,59 triliun di tahun 2021.

1. Terus defisit sejak 2014

Dilansir dari Merdeka.com, tahun 2014 di awal-awal penerapan sistem-nya, BPJS mengalami defisit sekitar Rp 1,9 triliun. Dan siapa sangka jika tahun 2015, defisit mengalami pembengkakan yang mengejutkan, yakni Rp 9,4 triliun. Untuk mengatasinya, pemerintah sampai harus turun tangan menyuntikkan dana sebesar Rp 5 triliun. Bantuan itu diberikan agar BPJS kesehatan tetap dapat menyediakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Kenaikan iuran BPJS sendiri bukan kali pertama terjadi. Karena tahun 2015 silam, sistem itu sudah dilakukan guna menutupi defisit BPJS Kesehatan. Hasilnya pun mulai terlihat.

"Setahun kemudian di 2015 langsung meledak ke 9,4 triliun, 2016 agak turun sedikit ke 6,7 triliun karena ada kenaikan iuran. Sesuai dengan Prepres iuran itu tiap 2 tahun di review namun semenjak 2016 sampai sekarang belum diriview lagi," jelas Sri Mulyani saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (27/8).

Sayangnya, defisit kembali membengkak pada tahun 2017 menjadi Rp 13,8 triliun. Lagi-lagi, pemerintah harus turun tangan untuk memberi suntikan dana kepada BPJS kesehatan sebesar Rp 3,6 triliun.

Defisit semakin membengkak di tahun 2018 lalu, yakni Rp 19,4 triliun. Bagaimana dengan tahun 2019? Defisit diprediksi akan jauh lebih besar.

"Di tahun 2018 defisitnya mencapai Rp 19,4 triliun, kami menginjeksinya 10,3 triliun. Masih ada Rp 9,1 triliun di 2018 yang belum tertutup. 2019 ini akan muncul lagi defisit yang lebih besar lagi," sambung Sri.

2. Nasabah Tak Tertib Bayar Iuran

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan defisit dari keuangan BPJS tersebut? Salah satu permasalahan utamanya adalah banyaknya peserta Jaminan Kesehatan yang menunggak untuk bayar iuran wajib. Menurut Kemal Imam Santoso selaku Direktur Keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sebanyak 15 juta peserta jaminan kesehatan menunggak pembayaran iuran. Hal itu yang jadi penyebab utama dari defisit BPJS kesehatan tahun ini sebesar Rp 28,5 triliun.

"Estimasi kita pada current running seperti ini Rp 28,5 triliun. Ini carried dari tahun lalu Rp 9,1 triliun plus yang ada tahun ini kan Rp 19 triliun," jelasnya.

Untuk memperkecil defisit, BPJS kesehatan akan melakukan pendataan ulang peserta yang selama ini belum melakukan pembayaran secara disiplin. Selain itu, pihaknya juga akan mendata peserta yang tak lagi masuk dalam keanggotaan atau telah meninggal dunia (cleansing data).

3. Perpres Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Untuk mengatasi masalah ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga akan mengeluarkan aturan terkait kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres). Nantinya, peraturan tersebut akan membahas terkait aspek iuran dan lainnya.

"BPJS-Kesehatan, terkait iuran dan lain-lain, nanti disampaikan secara lebih komprehensif. Waktu kita sampaikan dalam bentuk perundang-undangannya, yaitu Perpres," kata Sri Mulyani di Komplek Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (13/8).

Kenaikan tersebut juga merupakan salah satu cara dari pemerintah untuk menutup defisit keuangan.

(mdk/gtr)



MORE STORIES




REKOMENDASI