Kronologi Kasus Siswa yang Tantang Gurunya di Gresik, Dari Lempar Buku - Minta Maaf

Senin, 11 Februari 2019 11:00 Penulis: Tyssa Madelina
Kronologi Kasus Siswa yang Tantang Gurunya di Gresik, Dari Lempar Buku - Minta Maaf
Ilustrasi siswa yang menantang gurunya (Credit: merdeka.com)


Kapanlagi Plus - Kasus seorang siswa SMP yang melakukan tindakan tak sopan terhadap gurunya jadi viral di dunia maya. Pria berinisial AA tersebut ketahuan merokok di kelas namun saat ditegur, ia justru melawan sambil mencengkeram kerah gurunya.

Tindakannya tentu mendapat kecaman dari netizen. Apalagi, bagi sebagian besar orang, aksi siswa itu dinilai sudah kelewat batas.

Lalu seperti apa sih kejadian sebenarnya? Berikut kronologinya:

1. Terjadi Saat Jam Kosong

Ketika ditemui langsung, Nur Kalim selaku guru di ruang kelas tersebut menyebut kejadian berlangsung pada hari Sabtu (02/02/2019) pekan lalu. Saat itu, ia hendak mengajar tapi tak mendapati siswanya di ruangan kelas.

Nur Kalim akhirnya mencari siswa di luar sekolah dan mendapati mereka berada di sebuah warung kopi. Ia pun memperingatkan siswanya agar kembali ke kelas karena jam pelajaran sudah dimulai dari tadi.

"Kemudian saya mendatangi lokasi dengan mendobrak pintu warung yang masih tertutup. Seluruh siswa langsung tergopoh keluar. Kemudian saya peringatkan agar segera kembali ke sekolah, karena waktu belajar sudah mulai," tuturnya, seperti dilansir dari merdeka.com.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Krishna Murti (@krishnamurti_bd91) on Feb 9, 2019 at 8:34am PST

2. Tak Terima

Salah satu siswa berinisial AA tak terima dengan teguran Nur Kalim. Ia pun membuat kegaduhan dengan merokok di kelas dan menggedor bangku yang kemudian direkam oleh salah seorang temannya.

Selain menggedor bangku, ia juga melempar buku mata pelajaran yang dipegang oleh Nur Kalim, untung saja buku itu tak sampai mengenai badannya. Melihat tindakan itu, Nur Kalim berusaha meredam emosinya sembari meminta AA mematikan rokok.

"Sebenarnya saya mulai marah merasa dilecehkan, tapi saya redam. Kalau saya memukul anaknya, perilaku itu sangat tidak terpuji dan bukan cara terbaik untuk mendidik," ujarnya.

3. Tidak Diproses Hukum

Meski tingkah anak didiknya sudah kelewat batas, Nur Kalim tak lantas meminta pihak kepolisian untuk memproses kasus itu secara hukum. Bahkan menurutnya, hal itu bisa diselesaikan baik-baik dengan jalur mediasi.

"Saya maafkan, dengan sepenuh hati," ujar Nur Kalim.

Hal itu juga diakui sendiri oleh pihak kepolisian setempat. "Siang tadi kami kumpulkan semua pihak, dinas terkait, dan institusi terkait. Ada kepala sekolah dan yayasan, serta tokoh masyarakat menyaksikan proses mediasi tadi jam 14.00 siang. Alhamdulillah mereka sepakat berdamai dengan dibuat surat pernyataan bersama," kata Kapolsek Wringinanom, AKP Supiyan, kepada merdeka.com, Minggu (10/20).

4. Berjanji Tak Mengulangi

Saat proses mediasi, AA langsung minta maaf ke Nur Kalim dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Orang tua AA pun akan ikut serta melakukan pengawasan ketat ke AA setelah ini.

Proses mediasi berlangsung dengan suasana haru. Sambil berlinang air mata, AA minta maaf sebelum memeluk gurunya. Tak hanya AA yang menangis, ayah, ibu dan Nur Kalim pun juga ikut terharu saat itu.

"Saya meminta maaf dan merasa bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi. Dengan penuh kesadaran saya membuat surat pernyataan bersama ini. Dan Demi Allah saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan ini," ujarnya.

(kpl/mdk/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina



MORE STORIES




REKOMENDASI